Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Haryo Mataram dilahirkan di Surakarta, 14 Maret 1925, tepat selisih satu bulan lebih tua dengan Pakubuwana XII yang dilahirkan pada 14 April 1925. Semasa kecil, ia pernah satu sekolah dengan BRM Suryo Guritno di Europeesche Lagera School (ELS) milik Belanda di kawasan Pasar Legi.[3]
Karier
Dia mengawali karier di dunia militer sebagai Perwira Pelatih Akademi Militer di Yogyakarta (1948-1950), lalu menjabat Asisten II Biro Pendidikan Pusat Kementerian Pertahanan (1950-1951), kemudian Kepala Bagian Hukum Pidana Biro Hukum Kementerian Pertahanan (1956-1957), lantas Kepala Departemen Pengetahuan Sosial Akademi Militer Nasional sekaligus merangkap Ketua Pengadilan Tentara (1956-1964).
Pada tahun 1966-1968, ia menjabat sebagai Kepala Departemen Teritorial Kekaryaan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, lalu Paban I – Staf Umum Angkatan Darat 6 (1969 – 1971), Paban Litbang ASBIN SOSPOL (1970-1971), Dirlitbang KAMNAS – Lembaga Pertahanan Nasional (1971 – 1972), Project Officer Politeknik Pertamina (1975-1976).[1]
Tahun 1976, ketika UNS pertama kali dibentuk, Presiden Soeharto mengangkat Haryo Mataram sebagai Rektor. Selama setahun bertugas, ia berhasil mengkonsolidasikan fakultas, universitas lama dengan eks-Universitas Gabungan Surakarta (UGS).[1] Selama menjabat sebagai rektor, ia juga membentuk Statuta Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret pada 14 Mei 1976.[4]
Setahun kemudian, yakni pada 1977 ia ditugaskan ke Semarang. Dia menjadi Sekretaris Dewan Pendidikan dan Latihan Markas Besar ABRI (1977-1979), Perwira Tinggi pada Staf Administrasi Markas Besar ABRI untuk Urusan Hukum Internasional (1979-1981), dan Tenaga Ahli Lembaga Ketahanan Nasional sejak 1981. Jabatan rektor kemudian dijabat sementara oleh Pembantu Rektor I yaitu Drs. Parmanto, M.A.[5][1]
Haryo Mataram sempat disebut-sebut sebagai kandidat figur alternatif pengganti Pakubuwana XII. Pasalnya, ia berada pada posisi yang “netral” untuk mengantisipasi konflik internal keluarga jangka pendek. Namun demikian, dia menyatakan tidak mau ikut campur dalam urusan siapa pewaris takhta Keraton Surakarta.
la mengingatkan agar penetapan pengganti Paku Buwono XII sebaiknya melalui musyawarah seluruh putra-putri dan keluarga yang berkepentingan.[3]
Akhir Hayat
Haryo Mataram meninggal dunia di usianya yang ke 86 di Jakarta, Selasa 15 Februari 2011, sekitar pukul 03.00 WIB pagi. Ia meninggal di kediamannya di kawasan Kampung Rambutan Jakarta Timur. Jenazahnya kemudian dibawa dan dibaringkan di rumah duka di kawasan Jetis, Pasiraman, Jl. Tri Margo untuk kemudian pada esok harinya dimakamkan di Astana Imogiri[2][7]