Prinsip Thomsen–Berthelot, dalam termokimia, merupakan hipotesis dalam sejarah kimia yang menyatakan bahwa semua perubahan kimia disertai dengan produksi panas dan bahwa proses di mana hal ini terjadi akan menghasilkan lebih banyak panas.[1] Prinsip ini dirumuskan dalam versi yang sedikit berbeda oleh kimiawanDenmarkHans Peter Jørgen Julius Thomsen pada 1854 dan oleh kimiawan PrancisMarcellin Berthelot pada 1864. Postulat awal termokimia klasik ini menjadi dasar dari program penelitian kontroversial yang akan berlangsung selama tiga dekade.
Prinsip ini kemudian dihubungkan dengan apa yang disebut teori afinitas termal, yang mendalilkan bahwa panas yang berkembang dalam reaksi kimia adalah ukuran sebenarnya dari afinitasnya. Hipotesis ini kemudian dibantah, tetapi, ketika pada 1882ilmuwanJermanHermann von Helmholtz membuktikan bahwa afinitas tidak diberikan oleh panas yang dikembangkan dalam reaksi kimia, melainkan oleh kerja maksimum, atau energi bebas, yang dihasilkan ketika reaksi dilakukan, secara reversibel.