Negeri Porto terdiri dari delapan Soa atau Uku, menurut istilah Maluku Tengah. Kedelapan Uku ini dikelompokan dalam dua kelompok, masing – masing Uku Toru ( Kelompok Tiga ) dan Uku Rima ( Kelompok Lima ). Kedelapan Soa tersebut masing – masing mempunyai Kepala Soa dengan status tertentu.
Soa Nanlohy disebut Soa Raja karena pimpinannya diangkat juga menjadi Raja Negeri. Soa Sahertian, Soa Tetelepta, Soa Polnaya, Soa Wattimury, Soa Latuihamallo, dan Soa Aponno. Kepala Soa-nya disebut Kepala AKTENG karena mereka diangkat dengan Surat Keputusan atau Akta dari Residen.
Dengan Surat Keputusan dimaksud, maka dia diberikan wewenang dan tugas mengurus sebuah Wijk di samping tugasnya di bidang adat. Selain itu ada pula Kepala Soa Tana yaitu Kepala Soa BERHITU yang tidak mengurus Wijk hanya menangani urusan adat anak Soa-nya, bahkan Kepala Soa BERHITU ini adalah Tuan Tana, sekaligus Tuan Negeri atau Amanupunyo.
Asal muasal Soa-soa yang membentuk Negeri Porto
1. LESIRUHU (Nanlohy)
Berasal dari Pulau Bacan dan membentuk marga Nanlohy dengan teun Nikirisiya. Negeri lama mereka berada di Opal. Mereka bermigrasi dan tiba di Negeri Porto pada waktu Poka-poka (menjelang malam), sehingga mereka disebut Nanlohy (Nanu: Berenang, Lohy: Poka-poka). Teun mata rumahnya, Nikirisiya, berarti "Pegang Parang", sedangkan Lesiruhu memiliki arti "Lebih dari semua orang".
2. MUAREA (Latuihamallo)
Berasal dari Seram Barat, tepatnya daerah Huamual. Pendatang pertama bernama Abdullah, keturunan raja-raja dari Seram, sehingga ia dikenal sebagai Abdullah Latuhuamuallo yang kini menjadi Latuihamallo. Teun mereka adalah Rumah Peiheru, nama yang sudah digunakan sejak di Seram. Peiheru berarti menganggap ringan (enteng) satu dengan yang lain. Semula mereka berkedudukan di Amahoru, namun setelah berkuasa, mereka berpindah ke Opal bagian depan yang menghadap ke Saparua, sementara Opal bagian belakang yang menghadap pantai diduduki oleh Nanlohy.
3. NAMASINA (Wattimury)
Berasal dari Banda, mereka sempat berkelana mencari tempat kediaman lain. Sekembalinya ke Negeri Porto, ketika ditanya dari mana saja selama ini, mereka menjawab baru kembali dari tanah Cina. Karena itulah mereka disebut Namasina (dari Negeri Cina). Teun-nya adalah Rumah Sopasina. Setelah melewati pemukiman orang lain, mereka (Wattimury) mengambil tempat di negeri lama Latehuru, yang berarti "melewati orang-orang".
4. LATARISA (Sahertian)
Dua orang bersaudara datang dari Tanah Hitu (Jazirah Leihitu, Pulau Ambon). Mereka menggunakan nama Sahertian yang kemudian menjadi nama Soa-nya. Nama ini berasal dari kata Sei Heri Tiane yang artinya "Mendayung melewati musuh (Hongi)", karena saat menuju Porto, mereka berhasil melewati pasukan Hongi. Setibanya di Porto, mereka menerima teun Rumah Peiwaka yang berarti "siaga menunggu keadaan" (Pei: menanti, Waka: berjaga-jaga). Mereka menempati negeri lama di Tahuku, sementara salah satu saudaranya pergi dan menetap di Pulau Molana.
5. ULALESI (Polnaya)
Berasal dari Onim di Irian Barat dan sudah menggunakan marga Polnaya sejak dari sana. Nama Polnaya diambil dari peristiwa saat mereka menenggelamkan sebuah jungku (perahu layar besar) di Onim; Polo berarti tenggelam dan Naya berarti naik. Teun mereka adalah Rumah Peihitu yang artinya "menunggu tujuh kali". Di Porto, mereka menempati negeri lama di Sawahil.
6. BEINUSA (Berhitu)
Berasal dari Seram dan merupakan kelompok pertama yang mendiami petuanan Porto. Semula mereka menempati negeri lama di Matakonyo, kemudian pindah ke Amatawari. Sebagai orang pertama yang tiba, mereka adalah tuan tanah atau tuan negeri yang secara adat disebut Amanupunyo Negeri Porto dengan marga Berhitu.
7. MUAHATALEA (Tetelepta)
Datang dari Huamual, Seram Barat, dan sudah menggunakan marga Tetelepta. Nama ini merujuk pada keahlian memahat batu menjadi cap; Hatete artinya memotong/memahat dan Lepta artinya batu. Teun mereka adalah Huapea yang berarti "berbau ikan cakalang". Semula mereka menempati negeri lama Amahoru, kemudian pindah ke Samunyo.
8. LOHINUSA (Aponno)
Berasal dari Banda dan telah membentuk marga Aponno, yang berarti bersumpah untuk menjaga nama baik keluarga (Apoh: bersumpah, Popounno: nama baik). Di Porto, ia menikah dengan perempuan Latuihamallo dan tinggal serumah dengan iparnya (konyadu), sehingga diberikan teun mata rumah Tuhituri (tinggal bersama ipar). Negeri lamanya berada di tepi pantai Louwunyo. Saat masih di Banda, mereka tinggal di tepi pantai Latuaka sebagai penguasa yang mengawasi wilayah lautan (Latu: penguasa/lautan, Taka: mengawasi).
Sejarah Perpindahan ke Negeri Baru dan Pembentukan Uku
Proses perpindahan penduduk dari negeri-negeri lama di perbukitan menuju lokasi negeri yang sekarang berlangsung secara bertahap dalam dua fase utama:
Tahap Pertama: Marga yang pertama kali turun dan menempati negeri saat ini adalah marga Nanlohy, Sahertian, dan Polnaya. Kelompok ini kemudian membentuk persekutuan yang dikenal sebagai UKU TORU.
Tahap Kedua: Perpindahan ini kemudian disusul oleh marga-marga lainnya, yaitu Latuihamallo, Tetelepta, Wattimury, Berhitu, dan Aponno. Kelompok tahap kedua ini membentuk persekutuan yang dikenal sebagai UKU RIMA.
Struktur pembagian kelompok berdasarkan urutan kedatangan inilah yang hingga kini menjadi landasan sosial masyarakat di Negeri Porto, yang terbagi dalam kelompok Uku Toru (tiga marga) dan Uku Rima (lima marga).