Kelurahan in Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Kelurahan in Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Pondok Ranggon (bahasa Sunda:ᮕᮧᮔ᮪ᮓᮧᮊ᮪ ᮛᮃᮀᮌᮧᮔ᮪code: su is deprecated , translit.Pondok Ranggon) adalah salah satu dari delapan kelurahan yang berada di KecamatanCipayung, Jakarta Timur. Kelurahan ini memiliki penduduk sebesar 35.248 jiwa (2024) dan luas 3,6 km², berada di ketinggian 55 hingga 91 mdpl dan merupakan kelurahan tertinggi di DKI Jakarta.
Sejarah
Berdasarkan cerita rakyat yang diturunkan oleh orang-orang tua di Pondok Ranggon, pada awalnya ada seorang lelaki tua (bahasa Sunda: [aki] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) — yang bermukim di suatu tempat yang saat ini menjadi Pondok Ranggon — dengan seorang perempuan tua (bahasa Sunda: [nini] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) yang ditemukannya di tempat tersebut tanpa melalui perkawinan. Orang Sunda menyebut kehidupan kedua orang tua tersebut dengan istilah rangon, karena mereka tinggal di suatu pondok, maka masyarakat menyebut tempat itu dengan nama Pondok Rangon atau Pondok Ranggon.[2]
Geografi
Kelurahan ini berbatasan dengan Markas Besar TNI di sebelah utara, kelurahan Cilangkap dan Munjul di sebelah barat, kelurahan Jatiraden (Bekasi; dibatasi oleh Kali Sunter) di sebelah timur, serta kelurahan Harjamukti (Depok) di sebelah selatan. Oleh karena itu, Pondok Ranggon merupakan wilayah dengan nilai strategis, karena berhubungan langsung dengan jalur perlintasan alternatif dari wilayah Cibubur (Jakarta), Cileungsi (Bogor), Kranggan/Jatisampurna (Bekasi), dan Harjamukti (Depok).
Demografi
Bahasa dan budaya
Penduduk asli Pondok Ranggon awalnya adalah orang Sunda. Hal ini berdasarkan cerita rakyat yang dituturkan oleh orang-orang tua di sana. Seiring waktu, wilayah ini kemudian juga dihuni oleh suku Betawi yang menyebabkan adat dan budaya penduduk Pondok Ranggon merupakan percampuran dari keduanya.[3] Kelurahan ini merupakan salah satu dari sedikit kelurahan yang penduduk aslinya masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari,[4] kelurahan lainnya adalah Jatinegara Kaum yang penduduknya bertutur menggunakan bahasa Sunda dialek Banten.[5] Berbeda dengan di Jatinegara Kaum, penduduk asli di Pondok Ranggon bertutur menggunakan bahasa Sunda dialek Bogor.[4]