Pada bulan Mei 1998, perusahaan tersebut dijual kepada penyuling alkohol Seagram yang memiliki perusahaan film, televisi dan musik Universal Studios. PolyGram dengan demikian digabungkan menjadi Universal Music Group, yang merupakan penerus Seagram dari MCA Inc. Ketika divisi hiburan Seagram yang baru dibentuk menghadapi kesulitan keuangan, divisi tersebut dijual ke Vivendi.
Di Indonesia, Polygram dikelola oleh PT. Suara Sentral Sejati yang saat itu juga memiliki label rekaman bernama Blackboard.
Bakker, Gerben. "The Making of a Music Multinational: The International Strategy of PolyGram, 1945-1988." Business History Review 80:1 (Spring 2006), pp.81–123. (preprint)