Pasangan Piet-Samsuri berhasil memperoleh suara terbanyak sebesar 38.76% dari total suara. Pasangan lainnya melayangkan gugatan kepada Mahkamah Konstitusi, dengan menyatakan bahwa pilkada ini diwarnai oleh kecurangan. Gugatan tersebut ditolak, dan pasangan Piet-Samsuri dilantik pada tanggal 30 Agustus 2010.[1]
Kampanye
Sebagai calon petahana, Piet Ingkiriwang banyak mengampanyekan keberhasilannya dalam menjaga keamanan dan memelihara perdamaian di Poso. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh seorang akademisi Universitas Tadulako, narasumber yang mereka wawancarai menyebutkan bahwa hampir di semua tempat pelaksanaan dan materi kampanye, pasangan Piet-Samsuri sering menyoroti dan menonjolkan isu keamanan. Piet juga mengklaim keberhasilannya dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, dan rehabilitasi Poso pasca konflik.[2] Pernyataan sepihak tersebut (terutama tentang persoalan keamanan) ditentang oleh calon-calon lainnya.[3]
Pada tanggal 25 Mei 2010, salah seorang anggota tim kampanye pemenangan pasangan Hendrik Lyanto-Muthalib Rimi, Baharuddin Sapi'i, di hadapan 12.000 warga yang memadati Alun-alun Sintuwu Maroso, menyebutkan bahwa keamanan bisa terwujud karena kesadaran masyarakat. Pada sejumlah kampanye yang dilaksanakan oleh pasangan Sonny Tandra-Muljadi, mereka juga menolak paradigma kedamaian yang tercipta di Poso sebagai hasil kerja Piet sebagai petahana, sekaligus menegaskan peran pemerintah, aparat, dan masyarakat sebagai faktor yang menentukan perdamaian. Pasangan Frans Sowolino-Burhanuddin juga turut menentang klaim tersebut. Juru kampanye mereka, Sonny Liston Kapito, menyebutkan bahwa "persoalan keamanan bukan tugas bupati, tetapi tugas aparat keamanan".[4]
Peserta
Kandidat
KPU Kabupaten Poso menetapkan empat pasang calon peserta Pilkada Poso 2010.