Pertumbuhan ekonomi hijau adalah konsep dalam teori ekonomi dan kebijakan publik yang menggambarkan jalur pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan secara lingkungan.[1][2] Pertumbuhan ekonomi hijau merupakan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sekaligus memastikan bahwa aset alam tetap menyediakan sumber daya dan layanan lingkungan yang menjadi dasar kesejahteraan manusia.[3]
Istilah green growth diperkenalkan pada tahun 2005 oleh Rae Kwon Chung, seorang direktur di Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik (UNESCAP).[4] Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa selama pertumbuhan ekonomi tetap menjadi tujuan utama, perlu dilakukan pemisahan antara pertumbuhan ekonomi dengan penggunaan sumber daya dan dampak negatif terhadap lingkungan.[5]
Pertumbuhan ekonomi hijau berkaitan dengan konsep ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon atau berkelanjutan. Salah satu pendorong utama pertumbuhan hijau adalah transisi menuju sistem energi yang berkelanjutan. Kebijakan pertumbuhan hijau dapat menciptakan peluang kerja di sektor energi terbarukan, pertanian hijau, dan kehutanan berkelanjutan.[6]
Beberapa negara dan organisasi internasional, termasuk Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), Bank Dunia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah mengembangkan strategi pertumbuhan hijau. Lembaga seperti Global Green Growth Institute (GGGI) juga secara khusus fokus pada isu ini. Istilah pertumbuhan hijau juga digunakan untuk menggambarkan strategi nasional atau internasional, misalnya sebagai bagian dari pemulihan ekonomi pasca-resesi COVID-19, yang sering disebut sebagai pemulihan hijau.[7][8]
Terminologi
Pertumbuhan ekonomi hijau dan konsep terkait dikembangkan berdasarkan pengamatan bahwa pertumbuhan ekonomi selama 250 tahun terakhir sebagian besar terjadi dengan dampak signifikan terhadap lingkungan yang mendukung aktivitas ekonomi. Pertumbuhan hijau menekankan kelanjutan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sambil mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan menjaga fungsi ekosistem, sehingga terjadi pemisahan (decoupling) antara pertumbuhan ekonomi dan tekanan lingkungan.[9][10]
Dalam konteks decoupling, terdapat dua jenis utama: decoupling relatif dan decoupling absolut. Decoupling relatif terjadi ketika tekanan lingkungan meningkat lebih lambat dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Decoupling absolut terjadi ketika penggunaan sumber daya atau emisi berkurang secara absolut, sementara ekonomi tetap tumbuh.[11][12]
Perbedaan lain ditentukan berdasarkan aspek yang diperhitungkan, antara lain: pemisahan pertumbuhan ekonomi dari penggunaan sumber daya (resource decoupling) atau dari tekanan lingkungan (impact decoupling), indikator yang digunakan untuk pertumbuhan ekonomi dan tekanan lingkungan (misalnya penggunaan sumber daya, emisi, atau kehilangan keanekaragaman hayati), cakupan domestik atau global sepanjang rantai nilai, cakupan seluruh ekonomi atau sektor tertentu (misalnya energi atau pertanian), sifat pemisahan yang bersifat sementara atau permanen, serta tujuan pemisahan untuk mencapai target tertentu (misalnya membatasi pemanasan global hingga 1,5°C atau tetap berada dalam batas planet).[13]