Pecahnya perang
Pada malam hari tanggal 25 Juni 1950, 10 divisi dari Tentara Rakyat Korea Utara meluncurkan invasi skala penuh ke negara tetangga di selatan, Republik Korea. Sebanyak 89.000 pasukan bergerak dalam formasi enam kelompok, menyerang Angkatan Darat Korea Selatan secara mengejutkan, mengakibatkan bencana bagi orang-orang Korea Selatan, yang tidak teratur, tidak dilengkapi persenjataan yang baik, dan tidak siap berperang.[2] Unggul secara kuantitas, pasukan Korea Utara menghancurkan perlawanan terisolasi dari 38.000 tentara Korea Selatan di bagian depan, dan terus maju dengan mantap ke selatan.[3] Sebagian besar pasukan Korea Selatan mundur dalam menghadapi invasi tersebut, dan pada tanggal 28 Juni, Korea Utara telah merebut ibu kota Korea Selatan, Seoul, dan memaksa pemerintah serta pasukannya yang hancur untuk menarik diri dan mundur ke selatan.[4]
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memilih untuk mengirim bantuan ke Korea Selatan yang berada di ambang keruntuhan. Presiden AS Harry S. Truman kemudian memerintahkan untuk menurunkan pasukan darat mereka ke Korea Selatan.[5] Namun, jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Timur Jauh terus-menerus mengalami penurunan sejak akhir Perang Dunia II lima tahun sebelumnya. Pada saat itu, pasukan terdekat adalah Divisi Infanteri ke-24 dari Angkatan Darat Amerika Serikat Kedelapan, yang berkantor pusat di Jepang di bawah komando Mayor Jenderal William F. Dean. Namun, divisi ini sedang berada dalam keadaan yang rapuh, dan sebagian besar peralatannya sudah dimakan usia karena pengurangan pengeluaran militer setelah Perang Dunia II. Terlepas dari kekurangan ini, Divisi Infantri ke-24 akhirnya diperintahkan untuk menuju ke Korea Selatan.[5]
Pertempuran Osan
Dari Divisi Infanteri ke-24, satu batalyon ditugaskan untuk diterbangkan ke Korea melalui pesawat transportasi C-54 Skymaster dan bergerak cepat untuk menghalangi pasukan Korea Utara yang sedang maju sementara sisanya akan dikirim ke Korea Selatan melalui kapal. Resimen Infanteri ke-21 dinilai sebagai yang paling siap tempur dari tiga resimen di bawah Divisi Infanteri ke-24, dan Batalyon ke-1 dari Resimen Infanteri ke-21 dipilih karena komandannya, Letnan Kolonel Charles B. Smith, adalah yang paling berpengalaman, yang pernah memimpin sebuah batalyon di Pertempuran Guadalcanal selama Perang Dunia II.[6] Pada tanggal 5 Juli, Satuan Tugas Smith bertempur melawan pasukan Korea Utara pada Pertempuran Osan, menunda sebanyak lebih dari 5.000 pasukan infanteri Korea Utara selama tujuh jam sebelum mereka disiagakan dan dipaksa untuk mundur.[7]
Selama waktu itu, Resimen Infanteri ke-34 dari Divisi ke-24, yang terdiri 2.000 orang dan diatur dalam Batalyon ke-1 dan ke-3, menjadi satuan kedua AS yang ditempatkan di Korea, dan dikirim dengan kereta api menuju utara dari Busan. Batalyon ke-1 dari Resimen Infanteri ke-34 ditempatkan di Pyeongtaek, 10 mil (16 km) selatan Osan, untuk menghalangi gerak maju pasukan Korea Utara yang semakin mendekat.[8] Pyeongtaek adalah sebuah desa yang sebagian besar terdiri dari gubuk kayu dan jalan berlumpur.[9] Sementara itu, Batalyon ke-3 dari Resimen Infanteri ke-34 ditempatkan di Anseong, beberapa mil ke arah timur. Dua batalyon tersebut ditugaskan untuk membentuk formasi garis untuk menghalangi gerak maju Korea Utara. Medan di sebelah selatan garis Anseong-Pyeongtaek pada dasarnya lebih terbuka, yang berarti garis tersebut berada pada titik sempit, dikelilingi pegunungan di timur dan teluk kecil dari Laut Kuning di sebelah barat.[10] Karena itu, Dean menganggap bahwa garis tersebut sangat vital untuk rencana defensifnya.[11]
Batalyon ke-1 tidak siap berperang karena kurang terlatih dan tidak memiliki tank atau senjata antitank untuk melawan armada lapis baja Korea Utara.[12] Kekurangan peralatan menghambat usaha dari seluruh Divisi Infanteri ke-24. Kurangnya senjata berat mengurangi dukungan artileri ke seluruh divisi.[13] Peralatan komunikasi, senjata, dan amunisi sebagian besar tidak ada, sejumlah besar peralatan sedang "dalam perjalanan", tetapi pada kenyataannya divisi tersebut sudah kekurangan peralatan sejak masih ditempatkan di Jepang. Sebagian besar radio yang tersedia untuk divisi ini tidak berfungsi, dan baterai, kabel komunikasi, dan telepon untuk berkomunikasi antar satuan juga tidak mencukupi.[14] Divisi ini tidak memiliki tank: tank baru M26 Pershing dan juga tank-tank yang lama seperti M4A3 Sherman belum juga tiba. Salah satu dari sedikit senjata yang bisa menembus tank T-34 Korea Utara, yaitu amunisi antitank berdaya ledak tinggi, juga tidak mencukupi.[15] Kurangnya radio dan kabel jaringan menghambat komunikasi antar satuan-satuan pasukan Amerika Serikat.[16]
Komandan baru batalyon tersebut, Letnan Kolonel Ayres, rupanya diberi informasi yang salah, dan dia mengatakan kepada komandonya bahwa pasukan Korea Utara yang maju ke selatan kurang terlatih dan kurang diperlengkapi.[10] Batalyon tersebut membentuk sebuah garis sepanjang 2 mil (3,2 km) di sebelah utara Pyeongtaek, di serangkaian perbukitan dan sawah berumput dimana mereka menggali lubang pertahanan dan bersiap untuk menghalangi gerak maju pasukan Korea Utara. Para prajurit dari batalyon itu hanya dilengkapi dengan senapan M1 Garand atau senjata lainnya, C-ration, dan kurang dari 100 butir amunisi masing-masing, sementara hanya ada satu senapan mesin M2 Browning yang tersedia untuk setiap peleton.[17] Tidak ada granat dan tidak ada amunisi sedikitpun untuk senjata berat yang bisa digunakan untuk melawan tank Korea Utara.[18] Selain itu, hanya sedikit tentara dari resimen ini yang memiliki pengalaman tempur dari Perang Dunia II, dan mereka baru saja dipindahkan dari divisi lain sehari sebelumnya.[19]