Pertempuran Kuala Gigieng adalah pertempuran yang terjadi pada 9 Desember 1873 di wilayah Kuala Gigieng, dekat muara Sungai Gigieng di pesisir utara Aceh Besar, antara pasukan Hindia Belanda dan Kesultanan Aceh. Pertempuran ini terjadi pada awal Ekspedisi Aceh II dalam rangkaian Perang Aceh (1873–1904) dan menandai pendaratan besar kedua pasukan Belanda setelah kegagalan ekspedisi pertama pada April 1873.
Latar belakang
Setelah kegagalan Ekspedisi Aceh I pada April 1873—yang ditandai dengan tewasnya komandan Belanda Johan Harmen Rudolf Köhler—pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk mengirim ekspedisi militer yang lebih besar untuk menaklukkan Kesultanan Aceh.
Ekspedisi kedua ini dipimpin oleh Letnan Jenderal Jan van Swieten, dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibanding ekspedisi sebelumnya. Tujuan utama operasi ini adalah merebut Kutaraja (kini Banda Aceh), pusat pemerintahan Kesultanan Aceh, dan memaksa kesultanan tersebut berada di bawah kekuasaan Belanda.
Sebagai langkah awal operasi, Belanda merencanakan pendaratan di wilayah pesisir Aceh Besar yang memungkinkan pasukan bergerak menuju Kutaraja.
Jalannya pertempuran
Pada 9 Desember 1873, armada Belanda melakukan pendaratan di dekat Kuala Gigieng, di wilayah pesisir utara Aceh Besar. Pendaratan dilakukan di sekitar kampung Leué, tidak jauh dari muara Sungai Gigieng.
Pasukan Aceh yang menjaga wilayah pesisir segera memberikan perlawanan terhadap pendaratan tersebut. Kontak senjata terjadi antara pasukan Aceh dan unit-unit pendarat Belanda di sekitar pantai dan kampung-kampung pesisir.
Meskipun menghadapi perlawanan, pasukan Belanda berhasil mengamankan titik pendaratan dan membangun posisi pertahanan sementara di sekitar kawasan tersebut. Keberhasilan pendaratan ini memungkinkan pasukan Belanda memulai operasi militer yang lebih luas menuju wilayah Kutaraja.
Dampak
Pertempuran di Kuala Gigieng menandai dimulainya Ekspedisi Aceh II, yang merupakan operasi militer terbesar Belanda pada tahap awal Perang Aceh. Dengan kekuatan pasukan yang jauh lebih besar, Belanda kemudian melanjutkan operasi militer menuju Kutaraja.
Dalam beberapa minggu berikutnya, pasukan Belanda berhasil menduduki wilayah Kutaraja dan mendirikan pemerintahan kolonial di kota tersebut. Namun, meskipun pusat kota berhasil dikuasai, perlawanan dari pasukan Aceh terus berlanjut di berbagai wilayah Aceh Besar dan daerah pedalaman selama beberapa dekade berikutnya.