Sebelumnya, di Madinah, pasukan dari Bani Kinanah dan Bani Azad yang berjumlah sekitar 700 orang datang menemui Umar. Kepada mereka Umar berkata, "Daerah mana yang kalian sukai untuk kalian datangi?" Mereka menjawab,"Syam, di sanalah leluhur kami." Umar lalu mengarahkan mereka untuk ke wilayah Irak (Persia) untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sehingga mereka tiba membantu pasukan Mutsanna.[1] Umar menunjuk Ghalib bin Abdullah sebagai komandan pasukan Bani Kinanah dan menunjuk Arjafah bin Hartsamah sebagai komandan bagi pasukan yang berasal dari Bani Azad.
Lalu hadir sosok bernama Rib'i datang bersama orang-orang dari Bani Hanzhalah. Umar menunjuk Rib'i sebagai komandan pasukan tersebut dan memerintahkan mereka untuk segera berangkat dan bergabung dengan pasukan Al-Mutsanna. Pasukan tersebut setelahnya dipimpin oleh anaknya yang bernama Syabats bin Rib'i." Setelah itu datang orang-orang dari Bani Amar, sedangkan Rib'i bin Amir bin Khalid Al Anud ditunjuk sebagai komandan mereka untuk membantu pasukan Al-Mutsanna. Kemudian datang lagi orang-orang dari bani Dhabbah. Mereka dipecah menjadi dua kelompok yang masing-rnasing dipimpin oleh Ibnu AI-Haubar dan Al-Mundzir bin Hassan. Datang lagi Qarth bin Jamma' bersama masyarakat Abdul Qais, juga dikirim untuk membantu Al-Mutsanna. Anas bin Hilal An-Namiri datang bersama pasukannya yang beragama Nasrani untuk mernbantu Al-Mutsanna. Ibnu Mirda Al Qihri At-Taghlibi juga datang bersama pasukannya yang berasal dari Bani Taghlib yang beragama Nasrani.[1]
Sementara di pihak Persia, seorang petinggi wanita bernama Buran mengusulkan pada Rustum untuk serius menghadapi muslimin dengan mempersiapkan pasukan sebesar mereka menghadapi pasukan Romawi.[1]
Persiapan
Pembatas antara dua pasukan ini hanyalah sungai Eufrat. Tentara Persia kembali mengirimkan utusannya dan bertanya, "Menyeberanglah kepada kami atau kami yang menyeberang kepada kalian!" Tentara Islam menjawab,"Kalianlah yang seharusnya menyeberang kepada kami." Akhirnya tentara Persia menyeberangi jembatan dan bertemulah dua pasukan. Kejadian ini bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 13 H. Maka al-Mutsanna mengharuskan kaum muslimin unruk berbuka dan tidak berpuasa waktu itu, seluruhnya sepakat berbuka agar mereka lebih kuat dalam menghadapi musuh. al-Mutsanna melewati tiap panji-panji yang dibawa masing-masing pemimpin pasukan sambil memberikan nasihat kepada mereka agar semangat berjihad, banyak bersabar dan diam.[2] Pasukan sayap kanan dan kiri dipimpin oleh Madz'ur dan Nusair, pasukan yang tidak berkuda (infantri) dipimpin oleh Ashim, pasukan perintis dipimpin oleh Ishmah.[1]
Al-Mutsanna menginstruksikan kepada mereka, "Aku akan bertakbir sebanyak tiga kali maka bersiap-siaplah, jika aku bertakbir yang keempat kalinya maka serbulah musuh dan tembus pertahanan mereka." Maka seluruh prajurit siap patuh dan taat dengan aba-aba yang akan diserukan al-Mutsanna. Ketika dia mulai mengumandangkan takbir yang pertama, tentara Persia segera mendahului dan menyerbu mereka secara perlahan dengan membagi tiga bagian pasukan yang masing-masing dibantu gajah lalu, di mana sayap kanan dipimpin Marzuban dan sayap kiri dipimpin Mardansyah. Pertempuran sengit kembali pecah.[1]
Jalannya Pertempuran
Al-Mutsanna melihat ada celah-celah terbuka di barisan tentaranya, maka segera dia mengutus seseorang dan berkata, "Komandan kalian menyampaikan kepada kalian salam dan berkata, 'Jangan kalian permalukan kaum muslimin sekali ini'." Maka mereka menjawab, "Ya." Mereka segera mengisi celah-celah yang terbuka dari barisan mereka. Tatkala al-Mutsanna melihat itu -dan mereka dari Bani Ijl- dia tertawa kagum dan kembali mengutus seseorang agar menyampaikan pesannya, "Wahai kaum muslimin ingatlah kebiasaan kalian jika kalian menolong agama Allah pasti Dia akan menolong kalian." Maka al-Mutsanna dan kaum muslimin berdoa kepada Allah agar memenangkan mereka.
Ketika peperangan berjalan dengan alot, di mana salah seorang komandannya Mas'ud bin Haritsah terluka (dan akhirnya terbunuh), al-Mutsanna mengumpulkan sebagian dari sahabatnya para pejuang dan pahlawan yang berani agar melindungi dirinya dari belakang seperti Anas bin Hilal (yang akhirnya terluka parah). Setelah itu al-Mutsanna menyerang Mihran dan menariknya dari tempatnya hingga masuk ke sisi kanan. Kemudian datang al-Munzir bin Hasan bin Dhirar adh-Dhabbi turut menyerang dan menikamnya. Setelah itu Jarir bin Abdillah al-Bajali secepat kilat memenggal lehernya hingga kepalanya terpisah dari badan. Keduanya pun memperebutkan saleb (harta maupun senjata yang ada pada musuh) milik Mihran, Jarir mengambil senjatanya dan al-Mundzir mengambil ikat pinggangnya.[2] Komandan berkuda persia, Syahrabarraz, juga terbunuh.
Melihat kejadian itu kaum Majusi kocar-kacir berlari meyelamatkan diri. Kemudian al-Mutsanna mendahuli mereka di dekat jembatan sambil menghalangi kaum Persia yang akan melarikan diri agar seluruhnya dapat dikalahkan. Maka sejak siang hingga malam hari mereka sibuk menghabisi pasukan musuh, hingga ada yang mengatakan bahwa saat itu pasukan Persia yang terbunuh maupun tenggelam mencapai lebih 20.000 orang. Pertempuran ini disebut juga Yaumul A'syar di mana rata-rata setiap muslimin membunuh sekitar 9-10 orang musuh. Kaum muslimin berhasil mendapatkan harta rampasan perang dalam jumlah yang sangat besar lengkap dengan bahan makanan yang berlimpah ruah seperti kambing, sapi dan terigu.[1] Kemudian dengan segera berita kemenangan ini beserta seperlima dari rampasan perang di kirimkan kepada Umar di Madinah.[2] Beberapa bulan kemudian pasukan muslimin menyongsong Pertempuran Qadisiyah yang menentukan.