Sa'ad bin Abi Waqqash singgah di kota Bahurasir yang merupakan salah satu dari kota di bawah kekuasaan Kisra Persia yang terletak di tepi sungai Tigris dari arah barat. Kedatangan Sa'ad di kota ini tepatnya pada bulan Dzulhijjah tahun 15 H dan menjelang tahun 16 H Sa'ad sudah berada di tempat tersebut. Ia telah mengirim pasukan-pasukan kecil dengan mengendarai kuda-kuda ke seluruh penjuru, tetapi mereka tidak menemukan satu tentara Persia pun. Pasukan tersebut segera mengumpulkan 100.000 dirham (sekitar 40 juta rupiah) dari para petani dan menawan mereka. Lantas Sa'ad melayangkan sebuah surat kepada Umar yang isinya melaporkan tindakan yang telah ia lakukan terhadap para petani itu.[1]
Umar segera menulis surat kepadanya, "Sesungguhya para petani tidak pernah bermaksud memerangi kalian maka barangsiapa berdiam di negerinya akan dijamin keamanannya, tetapi barangsiapa melarikan diri dan dapat kalian tangkap maka perbuatlah sesuka hati kalian terhadapnya." Setelah di dakwahi untuk masuk Islam, Sa'ad segera melepaskan mereka. Namun, mereka menolak dakwah tersebut dan tidak bersedia membayar jizyah. Tidak ada seorang petani pun yang bermukim di daerah sebelah barat sungai Tigris hingga tanah Arab yang tidak membayar jizyah dan pajak hasil bumi, kecuali penduduk Bahurasir yang masih sangat enggan untuk membayar jizyah. Padahal Sa'ad telah mengutus Salman al-Farisi untuk mendakwahi mereka atau memilih antara membayar jizyah ataupun perang. Namun, mereka tetap membangkang dan memilih untuk berperang. Mereka telah menyiapkan manjaniq (alat pelontar) dan kendaraan perang. Lalu Sa'ad memerintahkan pasukannya untuk membuat manjaniq, hingga tersedialah 20 unit manjaniq' yang diarahkan ke Bahurasir.[1]
Lantas pengepungan semakin diperketat, sehingga penduduk Bahurasir keluar menyerbu kaum muslimin dengan sengit dan bersumpah tidak akan lari dari medan pertempuran. Namun, Allah memperdayai mereka hingga akhirnya Zuhrah bin Huwaiyah berhasil mengalahkan mereka setelah salah satu anak panah musuh mengenainya. Walaupun dalam kondisi terluka, dia mampu membunuh banyak tentara Persia. Musuh akhirnya kalah dan melarikan diri ke kota mereka. Namun mereka dikepung dengan ketat hingga mereka menderita kelaparan hingga memakan anjing dan kucing. Akhirnya mereka pindah ke Madain. Kemudian Sa'ad memerintahkan pasukannya bergerak menuju Madain.
Musuh lari menaiki perahu karena antara kota Bahurasir dan Madain hanya dibatasi oleh sungai Tigris. Di saat kaum muslimin memasuki kota Bahurasir mereka melihat istana putih al-Madain, inilah istana yang pernah diberitakan Nabi Muhamad akan ditaklukkan untuk umatnya (ketika sedang menggali parit Khandaq). Orang Islam pertama yang melihat istana itu adalah Dhirar binal-Khaththab. Seketika itu dia berteriak dan mengucapkan takbir, "Allahu Akbar... lihatlah! Itu istana putih Raja Kisra, inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasulnya kepada kita." Semua orang menoleh kepadanya dan ikut mengumandangkan takbir hingga pagi menjelang.[1]