Perjanjian yang berlaku selama delapan tahun ini meminta bantuan militer Prancis andai terjadi serangna ke Bayern. Prancis juga mengakui kepemilikan Bayern di Pfalz Hulu dan statusnya sebagai elektorat. Maximilian berjanji tidak mendukung musuh-musuh Prancis, seperti pasukan KekaisaranHabsburgAustria.
Konsekuensi
Perjanjian ini menjadi tidak berguna lagi pada 1631 setelah Raja Gustavus Adolphus dari Swedia yang Protestan (beraliansi dengan Prancis) menyerang Bayern. Bayern pun tidak mendapat bantuan Prancis. Prancis berpendapat bahwa Bayern adalah pihak yang memulai konflik dengan Swedia, sehingga membatalkan perjajian ini. Pada dasarnya, bantuan Prancis ke Swedia maupun Bayern akan bersifat kontraproduktif. Kardinal Richelieu dari Prancis beranggapan bahwa Swedia akan menghormati kenetralan Bayern sepanjang perang antara Swedia dan Habsburg. Karena Perjanjian Fontainebleau gagal mengamankan Bayern, Maximilian berpihak pada Wina yang dimiliki Kekaisaran Romawi Suci.