Desa (bahasa Karo: Kuta) ini berada di bawah kaki Bukit Barisan atau dulu disebut sebagai daerah Liang Melas. Dapat ditempuh sekitar 5 jam perjalanan darat kelas jalan negara dari Kota Medan ke Kutacane (Aceh Tenggara, Provinsi NAD). Desa ini berbatasan dengan hutan konservasi yang banyak dihuni orang utan atau disebut Mawas oleh penduduk desa ini. Berdasarkan data BPS (2023), jumlah penduduk Desa Perbulan adalah 3.536 jiwa atau 1.185 Kepala Keluarga, terbagi dalam 7 Dusun. Desa kedua terbanyak penduduknya se_kecamatan Lau Baleng setelah Desa Lau Baleng. Luas wilayah 24,62 Km2 atau 9,75% dari luas Kecamatan Lau Baleng.
Desa Perbulan termasuk desa tua di Kecamatan Lau Baleng. Menurut tetua kampung, penduduk asli kuta Perbulan telah mendiami kuta di generasi ke-14 atau kuta telah dihuni sekitar 400 tahun lalu. Si pemantek kuta (bahasa Karo) atau kelompok yang pertama kalinya mendirikan kampung Desa Perbulan adalah merga Sembiring Kembaren. Bila merujuk ke buku Pustaka Kembaren karangan Alim Kembaren,[2] diperkirakan Sembiring Kembaren yang di Perbulan sejalan dengan Sembiring Kembaren yang ke Tanah Alas dan berkerabat dengan Kembaren yang dikenal di Kluet.[3]
Ciri khas desa ini adalah keragaman penduduk yang mendiaminya, utamanya adalah suku Karo. Suku pendatang antara lain: Batak, Jawa, Pakpak, Alas dan Nias. Menurut keterangan tetua kampung Perbulan, suku Batak (orang Karo menyebutnya kalak Teba) mulai datang ke Perbulan sekitar Tahun 1907 sebagai tenaga buruh merintis pembangunan jalan dari Tanah Karo ke Kutacane oleh pemerintahan Hindia Belanda. Kemudian sekitar Tahun 1970_an suku Jawa mulai masuk ke Perbulan sebagi buruh tani. Perantau yang terakhir datang ke Perbulan adalah suku Nias.
Agama yang dianut penduduk antara lain Islam, Protestan, Katolik, dan Pemena. Tahun 2022, tercatat 1.642 orang penganut Kristen, Islam 1.499 dan 44 Katolik. Nama gereja cukup banyak di desa ini, seperti GBI, GSRI, GKPI; GbdI, HKBP, GKPPD; GKII, GSRI, HKI, GPDI, GM, dan GBKP.[4] Menuruut keterangan lisan dari tetua di Desa ini, ajaran Islam telah masuk ke Perbulan tahun sekitar 1800-an. Tokoh Islam di Perbulan belajar ajaran Islam ke Singkil, Aceh Selatan. Saat ini ada 4 Mesjid di desa ini.
Pada tahun 70-an masih sering dilakukan ritual penganut Perbegu atau Pemena. Ada lokasi khusus tempat sembahyang (Karo: Sembahen) penganut Pemena. Kala itu relatif banyak (sekitar 40%) penduduk masih beragama Perbegu/Pemena. Acara Perumah Begu yaitu ritual berkomunikasi dengan roh leluhur dimediasi Guru masih sering dilakukan di rumah penganut Pemena. Meskipun saat ini jumlah penganut Pemena tidak terdata namun ritual yang berciri Pemena masih dilakukan saat-saat tertentu.
Mata pencaharian penduduk desa yang utama adalah petani dan peternak. Hasil pertanian utama antara lain padi, jagung, kemiri, coklat, dan kopi. Kelapa sawitpun sudah ada ditanam penduduk, meskipun tidak umum. Sebagian kecil ada juga yang bercocok tanam cabai, buah naga, pepaya, dan jeruk. Ternak besar yang dibudidayakan antara lain Lembu/Sapi, Kambing, Kerbau, dan Babi. Sebagian ada juga budidaya ikan dalam kolam, tetapi budidaya ikan bukan kegiatan ekonomis penting di desa ini. Ketersediaan air untuk pertanian sawah bersumber secara alami dari salah satu sungai kecil Lau Perbulan. Masalah utama penduduk desa ini adalah curah hujan yang tidak menentu sehingga sawah dan ladang yang sudah ditanmai sering gagal karena kekeringan.