Penjamasan Bendhe Becak Pusaka Sunan Bonang adalah ritual tradisional tahunan yang dilaksanakan masyarakat Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, mengacu pada peninggalan al-Qur’an dan budaya dari Sunan Bonang. Ritual ini meliputi pembersihan pusaka berupa gong kecil yang disebut Bendhe Becak, yang diyakini sebagai jelmaan utusan Kerajaan Majapahit bernama Becak, yang dikisahkan berubah menjadi bendhe oleh sabda Sunan Bonang.[1] Kegiatan tersebut digelar setiap tanggal 10 Dzulhijjah (bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha) untuk membersihkan, membungkus, dan mengganti kain kafan bendhe serta membagikan air dan bahan ritual kepada masyarakat. Penjamasan ini menjadi wujud penghargaan budaya sekaligus syiar agama kepada salah satu Wali Sanga.
Sejarah
Bende Becak merupakan pusaka berbentuk gong kecil yang diyakini sebagai peninggalan dari Sunan Bonang, salah satu tokoh Wali Sanga yang menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir utara Jawa, khususnya Lasem dan sekitarnya. Asal-usul benda ini berkaitan erat dengan legenda utusan dari Kerajaan Majapahit bernama Becak.[2]
Menurut kisah yang berkembang dalam masyarakat, Becak dikirim oleh Raja Brawijaya V untuk menyampaikan surat balasan atas dakwah Sunan Bonang yang mengajak penguasa Majapahit memeluk agama Islam. Surat tersebut berisi penolakan terhadap ajakan tersebut. Setelah menyerahkan surat kepada Sunan Bonang, Becak tidak segera kembali, melainkan menyanyikan tembang-tembang di halaman kediaman Sunan Bonang. Perilaku ini dianggap mengganggu kegiatan mengaji para santri.[butuh rujukan]
Sunan Bonang kemudian menanyakan kepada para santrinya mengenai suara yang terdengar dari luar. Ketika diberi tahu bahwa itu adalah suara Becak, beliau menjawab bahwa yang terdengar adalah suara bende (gong). Saat para santri keluar untuk memeriksa, mereka tidak menemukan sosok Becak, melainkan sebuah gong kecil. Sejak saat itu, masyarakat memercayai bahwa Becak telah berubah menjadi bende atas kehendak atau karomah dari Sunan Bonang.[2]
Bende tersebut kemudian dijadikan pusaka dan dirawat secara turun-temurun oleh juru kunci. Tradisi penjamasan atau pencucian Bende Becak dilakukan setiap tahun, tepat pada Hari Raya Iduladha. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini tidak hanya menjadi pengingat akan dakwah Sunan Bonang, tetapi juga berkembang sebagai peristiwa budaya yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Air bekas pencucian bende diyakini membawa berkah, di antaranya membuat awet muda dan menyembuhkan penyakit. Tradisi ini memiliki makna mendalam, tidak hanya sebagai simbol spiritual, tetapi juga sebagai wujud keragaman budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.[butuh rujukan]
Tahapan pelaksanaan penjamasan dimulai dengan pembacaan doa dan tahlil bersama yang dipimpin oleh tokoh agama dan juru kunci. Setelah itu, dilakukan pencucian atau penjamasan terhadap Bende Becak menggunakan air yang dicampur dengan berbagai jenis bunga seperti mawar, kenanga, dan melati. Bende kemudian dibersihkan dengan kain mori putih baru, menggantikan pembungkus lamanya. Air bekas cucian beserta potongan kain mori kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir.[butuh rujukan]
Masyarakat dari dalam maupun luar daerah datang untuk menyaksikan prosesi ini dan membawa pulang air bekas jamasan serta bahan-bahan ritual lainnya.[3] Air bekas penjamasan dipercaya membawa berkah, menyembuhkan penyakit, dan membuat awet muda. Selain itu, masyarakat juga diberi suladan (kerangka bambu kecil) dan ketan kuning sebagai bagian dari simbol upacara. Acara ini tidak hanya bersifat sakral, tetapi juga menjadi daya tarik budaya dan spiritual bagi warga, serta menjadi media syiar nilai-nilai Islam yang dikembangkan oleh Sunan Bonang.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Tradisi penjamasan Bende Becak telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Bonang dan Lasem. Seiring perkembangan zaman dan tantangan modernisasi, berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kelestariannya. Pemerintah Kabupaten Rembang bersama komunitas budaya dan tokoh masyarakat aktif melakukan promosi dan dokumentasi terhadap kegiatan ini.[butuh rujukan]
Selain pengakuan secara formal, kegiatan ini juga terus diliput oleh media lokal dan nasional. Dokumentasi dalam bentuk tulisan, foto, dan video telah menjadi bagian dari upaya edukasi generasi muda. Keterlibatan pemuda desa dalam pelaksanaan kegiatan juga menjadi strategi untuk regenerasi pelaku budaya dan penguatan nilai tradisi.Penjamasan Bende Becak tidak hanya penting sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai simbol pluralitas dan toleransi budaya di wilayah Rembang. Oleh karena itu, kegiatan ini terus didorong agar menjadi bagian dari kalender wisata budaya tahunan daerah.[butuh rujukan]