Pangindelan Abang merupakan tempat penyaringan air untuk memenuhi kebutuhan air bersih ke Keraton Surosowan yang dipergunakan untuk minum dan kebutuhan sehari-hari keluarga Sultan.[1] Keberadaan pangindelan Abang berada di Provinsi Banten, Kabupaten / Kota Kab. Serang.[1]
Proses penyaringan
Proses penyaringan air berasal dari, danau Tasikardi yang sebelumnya keruh dan kotor yang kemudian dijernihkan dengan menggunakan teknik penyaringan yang cukup khas dan rumit yang bernama pengindelan, yakni bangunan berbentuk seperti bungker yang mempunyai fungsi sebagai penyaring air.[1] Penyaringan ini melalui dengan cara mengalirkan air yang berasal dari Danau Tasikardi jarak antara pangindelan dengan danau tasikardi kurang lebih berjarak 2 Km ke arah selatan. Aliran air yang berasal dari Danau Tasikardi akan diarahkan atau ditujukan ke keraton .[2]
Teknik yang digunakan adalah penjernihan air di bangunan pengindelan atau artinya penyaringan dengan mengendapkan air, dan menyaringnya menggunakan saringan berbahan pasir dan ijuk. Untuk air yang disaring menghasilkan air jernih, maka digunakan tiga lapis penyaringan yakni pengindelan abang, pengindelan putih dan terakhir pengindelan emas. Ketiga bangunan pengindelan ini dibangun oleh Lucas Cardeel.[1] Lucas Cardeel juga dikenal sebagai arsitektur yang handal berkewarganegaraan Belanda, yang juga seorang mualaf.[3]
Bukti sejarah
Peneliti Sejarah untuk Kesultanan Banten, yang berasal Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH), bernama Mufti Ali menjelaskan bahwasanya tata kelola air pada era kesultanan Banten sudah maju. Hal ini dapat terlihat dari dokumen sejarah yang menjelaskan bahwasanya pada era itu sangat sedikit keluhan yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih untuk masyarakat Banten.
"Dari dokumen sejarah yang ada, tidak ada masyarakat Banten yang mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih di era Sultan Ageng Tirtayasa, justru para pedagang VOC yang kerap membawa tempat air untuk kebutuhan minum mereka. Pengelolaan air itu memang proyek strategis Kesultanan dan monumental.[4]
Pada wilayah dengan daerah dataran tinggi seperti di Balaraja dan Tanara, Sultan Ageng Tirtayasa juga melakukan pembuatann kincir air untuk memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Banteng yang berada di sana.[4]
Keberhasilan Banten terutamanya terlihat dalam tata kelola air disebut Mufti Ali adalah buah dari kepemimpinan Sultan Banten. Kemampuan membangun kanal air hingga saluran irigasi yang di mana menjadikan sultan mendapatkan gelar asli Abul Fath Abdul Fattah berjuluk 'Tirtayasa' yang jika diartikan dalam bahasa artinya ialah orang yang dapat merencanakan, membangun irigasi untuk kepentingan pertanian hingga pertahanan.[4]
Bangunan pengindelan Abang sudah menjadi tempat cagar budaya oleh SK penetapan SK Penetapan No SK: 139/M/1998, Tanggal SK: 1998-06-16[1]