Ini adalah bak pasir pribadi Serigala Sumatera. Bak pasir ini khusus milik Serigala Sumatera. Dilarang mengubah tanpa seizin pemilik. Kegunaannya adalah sebagai halaman uji coba penyuntingan dan dapat ditemukan di halaman pribadi. Perlu diingat, ini bukanlah artikel. Untuk mencobanya, klik di sini.
Jika ingin menggunakan Bak pasir Wikipedia, klik di sini
Bahasa Jawa di Lampung adalah varian bahasa Jawa yang digunakan oleh orang Jawa di Lampung. Keberadaan bahasa ini merupakan hasil dari program transmigrasi yang dimulai sejak era kolonial Belanda dan berlanjut pada masa pemerintahan Orde Baru.[1]
Sejarah
Migrasi orang Jawa ke Lampung dimulai pada awal abad ke-20 sebagai bagian dari program kolonial Belanda untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan mengembangkan wilayah luar Jawa. Program ini berlanjut secara intensif pada masa Orde Baru melalui program transmigrasi nasional. Akibatnya, Lampung menjadi salah satu provinsi dengan populasi keturunan Jawa terbesar di luar Pulau Jawa, bahkan dijuluki sebagai "Jawa kedua" oleh beberapa peneliti.[butuh rujukan]
Lokasi
Bahasa Jawa di Lampung dituturkan di berbagai wilayah, termasuk:
Desa Sri Dadi, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus
Desa Rawi dan Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan
Desa Bumi Nabung dan Desa Rejo Basuki, Kabupaten Lampung Tengah
Desa Sambikarto, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur
Kelurahan Tugu Sari, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat
Desa Bali Sadar Tengah, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan
Menurut data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, bahasa Jawa di Lampung memiliki kemiripan dengan varian bahasa Jawa yang digunakan di Surakarta dan Yogyakarta, dengan perbedaan dialek sekitar 61%.[2]
Percampuran bahasa ini terjadi ketika Pangeran Cakraningrat dari Sampang memindahkan sekitar 250.000 orang Madura ke Tapal Kuda. Akibatnya, bahasa yang digunakan di beberapa wilayah Tapal Kuda mengalami percampuran antara bahasa Jawa dan bahasa Madura, yang kemudian melahirkan bahasa Pendalungan.[6][7]
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan berbagai penelitian, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 14,8% pada tahun 2007 menjadi 21,8% pada tahun 2018.[1]
Insiden
Insiden individu
Arya Permana
Arya Permana adalah seorang bocah dari Karawang, Jawa Barat, yang menjadi sorotan media internasional pada tahun 2016 karena berat badannya yang mencapai sekitar 190 kg pada usia 9 hingga 10 tahun.[2][3][4] Arya berdedikasi untuk menurunkan berat badannya. Ia berhasil menurunkan berat badan dari 190 kg menjadi 80 kg dalam ±3 tahun.[5] Beberapa laporan menyebutkan bahwa Arya adalah bocah paling gemuk di dunia.[3]
Sultan Syarif Saleh al-Aydrus adalah raja ke-8 Kerajaan Kubu, yang terletak di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ia lahir pada tanggal 11 Zulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tanggal 14 Juli 1883 M, di Desa Ambawang Kubu. Ayahnya adalah Syarif Idrus al-Aydrus, raja ke-7 Kerajaan Kubu.[1]
Syarif Saleh al-Aydrus naik tahta pada tanggal 7 Februari 1922, menggantikan ayahnya yang meninggal dunia. Ia memerintah Kerajaan Kubu selama 29 tahun, hingga wafatnya pada tanggal 12 Juni 1951.
Daftar kata serapan bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia
↑abrir. (nomina) pisau kecil yang bagian ujungnya melengkung ke atas, biasa digunakan untuk melepaskan daun pisang dari pelepahnya. sumber: kbbi. kemdikbud