Konsonan lelangit atau palatal adalah konsonan yang diartikulasikan dengan badan lidah diangkat menghadap lelangit keras, yaitu bagian tengah dari atap mulut. Namun, jika konsonan diucapkan dengan ujung lidah dilengkung belakang menghadap lelangit, maka konsonannya adalah gelungan.
Ciri khas
Jenis konsonan lelangit yang paling umum adalah hampiran lelangit [j], yaitu satu dari sepuluh bunyi yang paling umum dalam bahasa-bahasa dunia.[1]Sengauan lelangit [ɲ] juga umum dijumpa, terjadi pada sekitar 35 persen dari bahasa-bahasa dunia,[2] in most of which its equivalent obstruent is not the stop [c], but the affricate[t͡ʃ]. Only a few languages in northern Eurasia, the Americas and central Africa contrast palatal stops with postalveolar affricates—as in Hungarian, Czech, Latvian, Macedonian, Slovak, Turkish and Albanian.
Consonants with other primary articulations may be palatalized, that is, accompanied by the raising of the tongue surface towards the hard palate. For example, English [ʃ] (spelled sh) has such a palatal component, although its primary articulation involves the tip of the tongue and the upper gum (this type of articulation is called palatoalveolar).
Palatal consonants can be distinguished from apical palatalized consonants and consonant clusters of a consonant and the palatal approximant [j]. The common laminal "palatalized" alveolars, which also contrast with palatals, have a unique place of articulation and should be called alveolo-palatal consonants. Palatal consonants have their primary articulation toward or in contact with the hard palate, whereas palatalized consonants have a primary articulation in some other area and a secondary articulation involving movement towards the hard palate. Palatal and palatalized consonants are both single phonemes, whereas a sequence of a consonant and [j] is logically two phonemes. However, (post)palatal consonants in general do not contrast with palatalized velars, which in theory have slightly wider place of articulation than postpalatals.[3]
Irish distinguishes the dorsal palatal nasal/ɲ/ (slender ng) from both the laminal alveolo-palatal nasal ("fortis") /ȵ/ (slender nn) and the apical palatalized alveolar nasal ("lenis") /nʲ/ (slender n), nonetheless most modern Irish speakers may either merge the latter two or depalatalize the apical palatalized consonant. So is the difference between the two Migueleño Chiquitano stops. In both languages alveolo-palatal consonants correspond to the palatalization or slender of alveolars while palatal consonants correspond to the palatalization or slender of velars.
Spanish marginally distinguishes palatal consonants from sequences of a dental and the palatal approximant, e.g. in lleísmo Spanish the laterals ll (/l̠ʲ/→ʎ) and ly (/lj/→lɟʝ), and for all Spanish speakers, in the case of nasals:
uñón/uȵon/→[uɲ̟on] "large nail"
unión/unjon/→[unɟʝon] "union"
So is the difference between Russian clusters ня and нъя (the Russian palatal approximant never becomes [ɟʝ]). However, phonetically speaking, the Spanish one is simultaneous alveolo-palatal and dento-alveolar or dento-alveolo-palatal[4] while the Russian soft one is alveolopalatal laminal (except for /rʲ/ which is apical with a secondary articulation). Neither are true palatals like the Irish one.
Sometimes the term palatal is used imprecisely to mean "palatalized". Also, languages that have sequences of consonants and /j/, but no separate palatal or palatalized consonants (e.g. English), will often pronounce the sequence with /j/ as a single palatal or palatalized consonant. This is due to the principle of least effort and is an example of the general phenomenon of coarticulation. (On the other hand, Spanish speakers can be careful to pronounce /nj/ as two separate sounds to avoid possible confusion with /ɲ/.)
↑Ian Maddieson (with a chapter contributed by Sandra Ferrari Disner); Patterns of sounds; Cambridge University Press, 1984. ISBN0-521-26536-3
↑Although in Old Tibetan the orthography did indicate a distinction between 'gy' and 'g.y' initials, the latter is commonly reconstructed as a cluster.
Dalam satu sel tabel, simbol-simbol di sebelah kanan adalah bersuara, di sebelah kiri adalah tidak bersuara atau nirsuara. Petak-petak yang digelapkan menandakan penyebutan yang dianggap mustahil.
Cara terumum untuk bahasa-bahasa saling memengaruhi adalah bertukar kata. Misal peminjaman kata-kata Inggris ke bahasa lain yang lumayan umum pada masa kini. Contoh lainnya, peminjaman kata-kata Arab ke bahasa Melayu dan sekitarannya pada masa klasik Asia Tenggara.
Ada beberapa bahasa yang meminjam banyak kata dari bahasa lain yang terkadang membuat penggolongannya sulit. Misal bahasa Armenia meminjam sangat banyak kata dari bahasa-bahasa Iran, yang membuatnya sempat tergolong sebagai bahasa Indo-Iran yang cakah, alih-alih menggolongkannya sebagai cabang (bahasa) mandiri dalam rumpun Indo-Eropa selama beberapa dasawarsa.[1]
Peminjaman ciri dari bahasa lain
Pengaruhnya bisa lebih dalam, meluas bahkan ke pertukaran ciri khas umum bahasa misal morfologi dan tata bahasa.
Misal bahasa Newar, yang dituturkan di Nepal, adalah bahasa Sino-Tibet yang berhubungan jauh dengan bahasa Tionghoa tetapi telah mengalami persentuhan selama berabad-abad dengan bahasa-bahasa Indo-Iran di sekitarannya, sehingga bahasa ini bahkan telah mengembangkan infleksi kata benda, yaitu ciri yang khas untuk bahasa-bahasa Indo-Eropa tetapi jarang untuk Sino-Tibet. Bahasa Newar juga menyerap ciri tata bahasa seperti kala kata kerja.
Arah pengaruh
Hegemoni linguistik
Suatu pengaruh bahasa meluas begitu para penuturnya berkembang dalam kekuasaan. Bahasa Tionghoa, Yunani, Latin, Portugis, Prancis, Spanyol, Arab, Persia, Sanskerta, Rusia, Jerman dan Inggris masing-masing punya masa pengaruh yang besar dan apalagi untuk bahasa-bahasa di kawasan yang terpapar atau terkuasai oleh mereka.
Apalagi selama dan sejak 1990-an, internet, beserta pengaruh-pengaruh sebelumnya misal radio dan televisi, komunikasi telefon dan bahan-bahan baku tercetak[2] telah meluas dan mengubah banyak cara di mana bahasa-bahasa dapat dipengaruhi oleh satu sama lain dan oleh teknologi.
Pengaruh tak bersaling
Perubahan sebagai akibat persentuhan sering kali berat sebelah. Bahasa Tionghoa, sebagai contoh, mempunyai efek yang menonjol pada perkembangan bahasa Jepang, tetapi bahasa Tionghoa tetap cukup bebas dari pengaruh Jepang, kecuali untuk beberapa istilah modern yang dicipta di Jepang dan berdasarkan huruf dan pengucapan Tionghoa tetapi dipinjam ulang ke bahasa Tionghoa itu sendiri (wasei-kango).
Pengaruh bersaling
Dalam beberapa kasus, persentuhan bahasa dapa berujung ke pertukaran bersaling, tetapi mungkin terbatas pada daerah geografis tertentu. Misal, di Swiss, bahasa Prancis setempat dipengaruhi oleh bahasa Jerman dan sebaliknya. Di Skotlandia, bahasa Skots sangat dipengaruhi oleh bahasa Inggris, tetapi banyak istilah Skots yang dipungut oleh logat Inggris setempat.
Hasil dari persentuhan dua bahasa dapat berupa penggantian satu bahasa dengan bahasa lainnya. Ini paling umum ketika satu bahasa mempunyai kedudukan sosial lebih tinggi (prestise). Ini kadang berujung ke keterancaman maupun kepunahan bahasa.
Ketika peralihan bahasa terjadi, bahasa yang tergantikan (dikenal sebagai substratum) dapat meninggalkan suatu kesan menonjol pada bahasa yang menggantikan (dikenal sebagai superstratum) ketika orang-orang mempertahankan ciri-ciri dsri substratum begitu mereka mempelajari bahasa baru dan meneruska ciri-ciri tersebut ke anak-anak mereka, yang berujung ke berkembangnya varietas baru. Misal, bahasa Latin yang menggantikan bahasa-bahasa setempat di daerah yang sekarang adalah Prancis selama masa Roma Kuno dipengaruhi oleh bahasa Gallia dan Bahasa Jermanik. Pengucapan khas dialek bahasa Inggris Irlandia, sebagian berasal dari pengaruh substratum bahasa Irlandia.
Persentuhan bahasa dapat berujung pada berkembangnya bahasa baru ketika orang-orang tanpa suatu bahasa perantara saling berbaur. Persentuhan ini memungkinan berkembangnya suatu pijin, yang pada akhirnya dapat menjadi bahasa kreol yang matang melalui olah pengkreolan (walau beberapa ahli bahasa menegaskan bahwa suatu kreol tidak selalunya muncul dari pijin). Contoh utamanya dalah Bahasa Ndyuka dan Saramaka, keduanya dituturkan di Suriname dan mempunyai kosakata terutama dari bahasa Portugis, Inggris dan Belanda.
Ada pula olah yang lebih langka tetapi tetap teramati, menurut beberapa ahli bahasa, yaitu pembentukan bahasa campuran. Bahasa campuran dibentuk oleh komunitas yang mampu dalam kedua bahasa induk, sedangkan kreol dibentuk oleh komunitas yang sebelumnya tidak punya bahasa perantara. Bahasa campuran cenderung sangat mewariskan kepelikan (ketatabahasaan, fonologis, dll.) dari bahasa-bahasa induknya, sedangkan kreol bermula sebagai bahasa yang sederhana dan kemudian berkembang dalam kepelikan secara mandiri. Ini terkadang dijelaskan sebagai suatu komunitas dwibahasa yang tidak lagi berjati diri dengan budaya dari salah satu bahasa yang mereka gunakan, dan berusaha mengembangkan suatu bahasa sebagai ungkapan dari budaya baru mereka sendiri.
Perubahan dialektis dan sub-kebudayaan
Beberepa bentuk dari persentuhan bahasa hanya memengaruhi segmen tertentu dari suatu komunitas tuturan. Akibatnya, perubahan mungkin hanya terlihat pada dialek, jargon, maupun laras tertentu.
Dalam beberapa kasus, suatu bahasa dapat mengembangkan akrolek yang mengandung unsur-unsur bahasa yang lebih bergengsi. Misalnya, di Inggris selama sebagian besar Abad Pertengahan, tuturan golongan atas sangat dipengaruhi oleh bahasa Prancis hingga sering kali menyerupai suatu dialek Prancis.
Kajian yang lebih luas tentang ragam persentuhan dalam suatu masyarakat disebut ekologi linguistik.[3]
Bahasa isyarat
Persentuhan antara bahasa isyarat
Persentuhan bahasa dapat terjadi antara dua atau lebih bahasa isyarat, dan peristiwa sentuh yang dimungkinkan terjadi adalah peminjaman leksikal, "logat" asing, campur tangan, alih kode, pijin, kreol, dan sistem campuran.
Persentuhan antara bahasa isyarat dan bahasa lisan
Persentuhan bahasa sangat umum terjadi di sebagian besar komunitas tuna rungu, yang hampir selalu berada dalam budaya bahasa lisan yang menonjol. Namun, antara bahasa isyarat dan bahasa lisan, bahkan jika peminjaman leksikal dan alih kode juga terjadi, antarmuka antara mode lisan dan isyarat menghasilkan peristiwa unik berikut: ejaan jari, gabungan ejaan jari/isyarat, inisialisasi, bicara AODTR, percakapan PTUTR, pemulutan dan persentuhan bahasa isyarat.
↑Waterman, John (1976). A History of the German Language. University of Washington Press, p. 4
↑Nazaryan, Ani; Gridchin, Aleksandr (2006). "The influence of internet on language and "email stress""(PDF). Facta Universitatis. Law and Politics. 4 (1). University of Niš, Serbia: 23–27. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal March 7, 2012. Diakses tanggal December 18, 2013. The Internet, in conjunction with radio and television, telephone communication and printed materials, creates the universal information net, which is called "Cyberspace" [...]
↑Lihat, sebagai contoh, Mufwene, Salikoko S. The ecology of language evolution. Cambridge University Press, 2001.
Sumber acuan umum
Hickey, Raymond (ed.), The Handbook of Language Contact (Malden, MA: Wiley-Blackwell 2010)
Sarah Thomason and Terrence Kaufman, Language Contact, Creolization and Genetic Linguistics (University of California Press 1988).
Sarah Thomason, Language Contact - An Introduction (Edinburgh University Press 2001).
Uriel Weinreich, Languages in Contact (Mouton 1963).
Donald Winford, An Introduction to Contact Linguistics (Blackwell 2002) ISBN0-631-21251-5.