Anggrekkasut supardii (Paphiopedilum supardii Braem & Löb 1985) adalah anggrek yang ditemukan di Gunung Sarempaka, yang terletak di Pegunungan Meratus dekat daerah Jaro di Kabupaten Tanjung, kawasan pegunungan di Kalimantan Selatan, Indonesia (Borneo) pada tahun 1972. Anggrek ini memiliki banyak nama lain seperti anggrek kasut, anggrek selop dan anggrek kantong. [1]
Morfologi
Secara umum, karakteristik Paphiopedilum cukup berbeda dan mudah dikenali. Anggrek ini memiliki 7–9 helai daun, tersusun seperti kipas, bertekstur keras, tegak-setengah tegak, berbentuk pita, dan memiliki ujung membulat dengan dua cuping yang tidak sama besar. Daun berwarna hijau tua merata, dengan panjang 22–55 cm dan lebar 3,5–5,5 cm, serta memiliki tulang daun yang menonjol di bagian bawah. Tandan bunganya tumbuh tegak, terdiri dari 3 hingga 7 bunga, dengan panjang total 30–45 cm. Tangkai bunga memiliki panjang 20–30 cm. [2]
Pada bunga, braktea pada spesies ini berukuran besar, berbentuk eliptik dengan ujung runcing, berwarna kuning kehijauan pucat dan memiliki urat berwarna ungu. Bunganya tampak sedikit terdistorsi, berwarna kuning pucat hingga kuning kehijauan. Kelopak atas (dorsal sepal) memiliki garis-garis ungu kecokelatan, sedangkan petalnya bercak merah marun. Bibir bunga (labellum) berwarna kuning atau putih dengan semburat merah kecokelatan yang bervariasi dari pucat hingga lebih gelap, dilengkapi urat berwarna ungu. Staminodenya berwarna kuning dengan rambut berwarna cokelat di bagian tepinya. Tangkai bunga (pedicel) dan bakal buah berwarna merah marun kecokelatan. Kelopak atas berbentuk bulat telur dengan ujung runcing hingga sangat runcing. Sinsepal (synsepalum) juga berbentuk bulat telur dengan ujung sangat runcing. Mahkota bunga (petal) melengkung ke bawah dan terpilin, berbentuk memanjang-meruncing dengan ujung tumpul. Bibir bunga tampak lebar di bagian ujung namun agak meruncing jika dilihat dari samping. Staminodenya berbentuk hampir persegi jika dilihat dari depan, memiliki rambut pada kedua sisinya, dan tidak menutupi kepala sari (anther) yang berada di kedua sisi tangkai stigma.[2]
Habitat dan persebaran
Paphiopedilum supardii pertama kali dipublikasikan pada tahun 1985. Anggrek ini tumbuh di Kalimantan, pada ketinggian sekitar 600 hingga 960 meter di atas permukaan laut. Habitat alaminya, Paphiopedilum supardii merupakan jenis anggrek terestrial yang hidup pada lapisan humus, menempel di celah-celah batu pada lereng curam yang lembab pada dataran rendah hutan hujan tropis. Anggrek ini umumnya tumbuh di area yang mendapat cahaya sebagian (di bawah naungan) sehingga tidak terkena matahari langsung sepanjang hari. Anggrek ini biasanya berbunga pada bulan April hingga Juni.[3]
Paphiopedilum supardii menghadapi berbagai ancaman seperti eksploitasi yang berlebihan dan kerusakan pada habitat akibat deforestasi, kegiatan penebangan hutan dan perluasan lahan pertanian untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Ancaman-ancaman tersebut membuat kelestarian Paphiopedilum supardii semakin rentan di alam.[3]
Status konservasi
Anggrek kasut supardii ini merupakan anggrek langka yang terancam punah karena eksploitasi berlebihan dan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2023, Status konservasi Paphiopedilum supardii termasuk dalam Appendix I CITES yang berarti semua spesiesnya dilindungi secara ketat dari perdagangan internasional sesuai dalam aturan Resolusi Conf. 11.11 (Rev. CoP18).[4] Adapun upaya konservasi telah dilakukan oleh laboratorium kebun raya bogor dan dikatagorikan sebagai spesies prioritas untuk konservasi di Indonesia. Secara in vitro, anggrek ini lebih sulit dikecambahkan dibandingkan dengan Dendrobium, Phalaenopsis dan Vanda, karena dinding testa lebih tebal dan bersifat impermeabel pada kulit bijinya.[5]