Nama-nama tempat di Jawa Barat umumnya berasal dari kosakata Sunda, Sanskerta, Jawa Kuno, dan Sunda Kuno.[1] Nama dengan asal-usul Belanda juga masih melekat di beberapa tempat, terutama di tempat-tempat dengan peninggalan fisik dari masa pendudukan Belanda. Nama-nama tempat di Jawa Barat umumnya menggabungkan unsur-unsur yang ditemui di wilayah setempat, seperti hal-hal yang berhubungan dengan air, rona bumi, tumbuhan, hewan, demografi masyarakat, budaya, dan sejarah tempat tersebut.[2]
Etimologi
Nama-nama dari bahasa Sunda
Sebagai bahasa yang digunakan oleh Suku Sunda, etnis mayoritas di Jawa Barat, bahasa Sunda menjadi asal-usul sebagian besar nama tempat di Jawa Barat. Nama-nama tempat menggunakan bahasa Sunda umumnya berasal dari hal-hal yang dijumpai di tempat tersebut, seperti tanaman atau bentang alam.[3] Nama-nama yang umum digunakan tercantum dalam tabel berikut:
Istilah Sunda
Arti dalam bahasa Indonesia
Deskripsi
Contoh
Referensi
babakan-
permukiman baru
Kawasan permukiman, disertai dengan nama geografis tempat tersebut atau asal penduduknya.
Penggunaan bahasa Sanskerta di tatar Sunda dibuktikan oleh keberadaan Prasasti Ciaruteun. Prasasti tersebut menggunakan bahasa Sanskerta yang ditulis dengan aksara Pallawa pada tahun 450 masehi.[16][17] Oleh karena itu, bahasa Sansekerta juga digunakan untuk menamai tempat-tempat di Jawa Barat. Beberapa contoh nama-nama tempat dari bahasa Sansekerta tercantum dalam tabel berikut:[18]
Bahasa Jawa Kuno dan aksara Kawi digunakan di Tatar Sunda sekitar tahun 1030 masehi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan beberapa naskah beraksara Kawi, seperti Arjunawiwaha, Dharma Patanjala, Sang Hyang Hayu, Kunjarakarna, dan Bhima Swarga.[20] Oleh karena itu, beberapa tempat menggunakan bahasa Jawa Kuno sebagai namanya, antara lain dalam tabel berikut:[21]
Bahasa yang digunakan di Tatar Sunda kemudian berkembang menjadi bahasa Sunda Kuno. Bahasa ini digunakan sekitar 688 tahun setelah digunakannya bahasa Jawa Kuno. Berikut adalah beberapa contoh nama yang berasal dari basa Sunda Kuno:[22]
Pendudukan Belanda di Indonesia, khususnya Jawa Barat, meninggalkan nama-nama tempat berbahasa Belanda yang masih bertahan hingga saat ini. Salah satunya ialah nama Kelurahan Isola di Sukasari, Bandung yang berasal dari nama vila yang dahulu dimiliki oleh Dominique Willem Berretty, pemilik Kantor Berita Algemeen Nieuws en Telegraaf Agentschap (ANETA).[23]
Nama-nama tempat yang disalahartikan
Terdapat dua nama geografi yang seolah berkaitan dengan halilintar, yakni Cipetir dan Gunung Guntur. Namun, Bachtiar (2025) dalam buku Asal-usul Nama Tempat di Jawa Barat menganggap keduanya berasal dari bahasa Sunda sehingga tidak berkaitan dengan halilintar. Petir dalam Cipetir berasal dari nama tumbuhan Parkia intermedia Hassk., tanaman sejenis petai setinggi 10—20 meter. Sedangkan nama guntur dalam Gunung Guntur mengacu pada banjir lumpur atau lahar setelah gunung tersebut meletus dalam bahasa Sunda dan Jawa Kuno.[24]
Nama tempat di Jawa Barat juga kerap diubah atau salah dimaknai menjadi hal-hal yang tidak senonoh. Sebagai contoh, terdapat sebuah kampung dan tanjakan di Sukamukti, Pataruman, Banjar yang sering disebut sebagai Tepungkanjut, dengan tepung berarti bertemu dan kanjut merupakan sebutan lain dari alat vital laki-laki.[25][26] Namun, nama sebenarnya dari tempat tersebut ialah Tembongkanjut, berasal dari dua istilah bahasa Sunda, yakni tembong yang berarti tampak dan kanjut yang berarti kantung kecil. Bachtiar (2025) mengemukakan kemungkinan lain bahwa nama tempat tersebut berasal dari tumbuhan Tumbungkanjut atau Kaliage (Plectronia horrida).[27]
Pengaruh dalam ilmu geologi
RP Koesoemadinata melalui T. Bachtiar (2025) mengelompokkan formasi batuan ke dalam kategori litostratigrafi dalam ilmu geologi. Penamaan satuan statigrafi di Indonesia didasarkan pada Sandi Stratigrafi Indonesia yang dikeluarkan oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) pada 1996. Menggunakan dasar tersebut, formasi batuan khususnya di Jawa Barat dinamai berdasarkan nama geografis, seperti nama sungai, kampung, dan desa. Contoh formasi yang menggunakan nama geografi, antara lain Formasi Citarum, Formasi Saguling, dan Formasi Rajamandala.[28]
Selain formasi batuan, patahan, sinklin, dan antiklin juga menggunakan nama geografis. Patahan-patahan yang menggunakan nama geografis, antara lain Patahan Cimandiri, Patahan Citarik, Sesar Garsela (Garut Selatan), dan Patahan Lembang. Sinklin, antiklin, dan cekungan yang dinamai berdasarkan nama geografis, antara lain Antiklin Cibodas, Sinklin Babakanjawa, dan Cekungan Citanduy.[29]
Bachtiar, T. (2025). Toponimi: Asal-usul Nama Tempat di Jawa Barat. Bandung: Pustaka Jaya. ISBN978-623-221-979-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)