- Pengusul: Mengedit (b • k • l)
- Status: Tidak selesai
Halaman: Wikipedia:Pedoman penyusunan artikel bencana alam
Alasan pengusulan:
1. Perlunya panduan khusus untuk memastikan konsistensi dan akurasi informasi bencana alam di Wikipedia Indonesia.
2. Adanya variasi dalam penulisan artikel bencana yang membutuhkan kerangka acuan bersama.
3. Pentingnya standar verifikasi sumber mengingat sensitivitas informasi bencana.
4. Perlunya panduan etis dalam peliputan bencana, terutama yang sedang berlangsung.
Ruang lingkup usulan:
- Rekomendasi struktur penulisan (bersifat fleksibel)
- Pedoman verifikasi sumber informasi
- Prinsip-prinsip etika peliputan
- Mekanisme pembaruan informasi untuk bencana terkini
Perbaikan dari usulan awal:
- Tidak menetapkan kriteria notabilitas khusus
- Struktur artikel bersifat rekomendasi bukan kewajiban
- Cakupan sumber lebih luas dan inklusif
- Lebih menekankan pada prinsip etika daripada aturan teknis
Manfaat yang diharapkan:
- Memelihara kualitas informasi bencana
- Memudahkan kolaborasi antar penyunting
- Menjadi acuan etis dalam peliputan bencana
- Menjaga konsistensi tanpa menghilangkan fleksibilitas
Mengedit (bicara) 2 Mei 2025 13.00 (UTC)
- Ini masih belum jelas apa tujuan pedoman dibuat. Apakah karena permasalahan notabilitas? Wikipedia sudah ada pedoman WP:NOTABILITY: artikel memiliki pembahasan yang signifikan, sumber-sumber tepercaya (WP:RS), dan subjeknya bersifat independen.
- Re "Sering terjadi ketidakkonsistenan dalam penulisan artikel bencana", "Format penulisan yang seragam": Jadi, pada dasarnya artikel Wikipedia harus dibuat sama strukturnya daripada menjelaskan bagaimana artikel mendeskripsikan suatu subjek kepada pembaca yang belum mengerti? Kecuali kalau konteksnya adalah kumpulan topik artikel bagus dan artikel pilihan yang dibungkus menjadi satu. Artikel seharusnya dijelaskan apa yang tertera dari sumber-sumber yang dikutip, bukan dibuat sesuai dengan struktur-struktur heading yang sama dengan artikel bertopik yang sama.
- Re "Perlu protokol khusus untuk bencana yang sedang berlangsung", "Protokol pembaruan informasi real-time." Saya masih belum paham mengenai ini. Tapi kita punya templat mengenai pembaruan lebih lanjut, yang menandakan artikel akan segera dalam perubahan secara tiba-tiba. Dedhert.Jr (bicara) 3 Mei 2025 01.38 (UTC)
- Saya merasa bahwa disamping pengaturan pedoman yang masih belum jelas untuk apa: apakah untuk gaya penulisan, kelayakan, dsb. Juga, menurut saya, kelayakan artikel-artikel bencana alam sudah termasuk ke dalam WP:LAYAK secara umum, dan pedoman-pedoman lain sebagaimana yang disebut bung Dedhert di atas. Selain itu, saya melihat bahwa pedoman ini lebih ke berusaha menyimplifikasi struktur artikel yang menurut saya ini tidak terlalu urgent, malah berpotensi membingungkan pembaca dengan "pemaksaan penerapan struktur yang sama" alih-alih meyesuaikan dengan model artikel terbaik yang bisa dicapai untuk menyajikan informasi dengan lebih elok dipandang. Kata "peliputan" juga mengesankan bahwa Wikipedia adalah sebagai sebuah media berita, padahal Wikipedia bukanlah penerbit pemikiran asli. Sekian dari saya, ▪ ꧋ꦩꦣꦪ. Fazoffic ( ʖ╎ᓵᔑ∷ᔑ) 3 Mei 2025 03.09 (UTC)
- Setelah saya membaca ajuan halaman pedomannya, saya menyatakan tidak setuju dengan pembuatan pedoman ini karena memuat aturan yang tidak logis dan membatasi kreativitas penulisan artikel bencana alam. Berikut alasan-alasannya:
- Pinsip dasar yang harus dipenuhi, sifatnya ambigu. Jika suatu artikel dibatasi hanya memuat fakta (poin ke-2) , maka ini sulit diterapkan karena tidak semua informasi bencana alam sepenuhnya berdasarkan fakta. Terlebih pada artikel-artikel bencana alam yang terjadi pada Abad Pertengahan yang sebagian besar keterangannya hanyalah perkiraan dan bukan sepenuhnya fakta. Poin ke-4 bahwa artikel harus diperbaharui secara bertanggung jawab ini tidak sesuai untuk penulisan artikel di Wikipedia, karena terkesan memaksa pembuat artikel untuk bertanggung jawab memperbaharui artikel yang telah dibuatnya. Padahal Wikipedia dibangun atas dasar kesukarelaan kontributornya.
- Kriteria pembuatan artikel meskipun sifatnya lebih longgar dibandingkan prinsip dasar yang diusulkan, tetap memuat konteks yang membatasi penulisan artikel bencana alam. Keharusan opsional (harus memenuhi salah satu kriteria) untuk menjadi syarat suatu bencana alam dapat dibuatkan artikelnya sifatnya tidak berkesuaian dengan dunia nyata. Misalnya pada Tsunami Ambon 1950 yang tidak memenuhi satupun kriteria tersebut (silakan cek pada buku Air Turun Naik di Tiga Negeri hlm. 44). Peristiwa Tsunami Ambon 1950 tidak menimbulkan korban jiwa dari data resmi dan hanya pernyataan saksi mata yang menyatakan adanya korban jiwa. Kejadiannya juga hanya terjadi di satu kota yaitu Kota Ambon. Pemberitaannya juga tidak menjadi perhatian nasional maupun internasional karena waktu itu, pertempuran antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan Tentara Republik Maluku Selatan (RMS) yang mendapatkan perhatian utama. Tsunami Ambon 1950 juga tidak mendapat status darurat dari pemerintah (cek hlm 7). Jika kita menerapkan kriteria opsional tersebut, maka peristiwa tsunami ini tidak dapat ditulis jadi artikel. Padahal kejadiannya jelas terjadi dan pemberitaannya jelas diberitakan dalam banyak surat kabar meski hanya berupa catatan kecil. Karena itu, penetapan kriteria opsional semacam ini sangatlah tidak perlu dijadikan pedoman.
- Kewajiban pemuatan struktur artikel seperti keterangan gambar dan respons lembaga internasional tidak diperlukan karena belum tentu tersedia. Terlebih pada bencana alam sebelum dimulainya pencatatan sejarah.
- Aturan khusus untuk penggunaan kalimat faktual (jumlah korban pasti) dan zona waktu itu tidak logis. Sama seperti komentar no.3, bahwa keterangannya belum tentu tersedia. Korban jiwa dalam pemberitaan juga umumnya hanya perkiraan. Apalagi pada peristiwa bencana alam ketika zona waktu sendiri belum diberlakukan di dunia.
- Tidak perlu menetapkan sumber apa saja yang diterima. Saya lihat sumber yang dicantumkan hanya sumber-sumber dari Pemerintah Indonesia. Hilangkan saja pembatasan sumber semacam ini karena artikel Wikipedia harus berwawasan global dan tidak hanya fokus pada sumber dari negara tertentu.
- Salam, – JumadilM Diskusi 3 Mei 2025 04.25 (UTC)
- Apakah lebih baik namanya Pedoman penyusunan artikel bencana alam? Mengedit (bicara) 3 Mei 2025 20.52 (UTC)
- @Mengedit: Bukan terkait nama pedoman, tapi tentang dampak yang dihasilkan daripada pedoman ini bila nanti disahkan. Kalau statusnya sebagai esai tok tidak masalah, lah ini merupakan pedoman yang sifatnya mengikat. Mengenai dampak yang dikhawatirkan bisa dibaca dari komentar bung Jumadil di atas, soalnya sudah dibeberkan jelas satu-persatu oleh ybs. ▪ ꧋ꦩꦣꦪ. Fazoffic ( ʖ╎ᓵᔑ∷ᔑ) 3 Mei 2025 22.27 (UTC)
- Memang demikian
- ✰𝔄𝔢𝔰𝔱𝔥𝔢𝔱𝔦𝔠 𝔬𝔣 𝔪𝔢✰ (bicara) 4 Mei 2025 18.49 (UTC)
- Dipersilakan untuk melihat halaman proposal pedoman kembali Mengedit (bicara) 5 Mei 2025 11.38 (UTC)
- @Mengedit menurut pendapat saya apa yang dijabarkan oleh Fazoffic, JumadilM dan Dedhert.jr ada benarnya dan mereka bilang seperti itu karena pasti sudah membaca dan memahami isinya jadi kalau semisal diterapkan di Wikipedia Indonesia sepertinya belum bisa atau bahkan tidak bisa sama sekali Badak Jawa (bicara) 5 Mei 2025 12.17 (UTC)
- @Mengedit Sebaiknya usulan pembuatan pedoman ini dibatalkan saja. Jika semua topik artikel (termasuk artikel bencana alam dalam bahasan kali ini) perlu dibuatkan pedoman spesifik semacam ini, lama-kelamaan Wikipedia bahasa Indonesia ini jadi punya pedoman-pedoman yang isinya seperti 'petunjuk teknis' atau 'standar penulisan ilmiah' yang cenderung digunakan pada penulisan artikel ilmiah atau esai.
- Kekhawatiran saya ini berdasar pada perkiraan adanya pengguna lain yang kelak mengusulkan hal yang serupa seperti pengusulan ini (efek domino), jika nantinya pengusulan ini disetujui. Anggaplah muncul usulan 'Pedoman penyusunan artikel bencana kemanusiaan' yang salah satu topiknya ialah perang. Pada pengandaian ini, etika konten yang Anda usulkan khususnya penghindaraan penggunaan gambar eksploitatif korban, malah merugikan pemberian pengetahuan kepada pembaca karena gambar-gambar yang mewakili konteks pada konten cenderung tidak dapat ditampilkan. Misalnya saja:
- Penggunaan gambar kuburan massal korban Holokaus pada artikel Holokaus yang mewakili konten artikel dengan konteks kekejaman genosida sistematis Jerman Nazi terhadap orang Yahudi.
- Penggunaan foto Phan Thị Kim Phúc, seorang korban Perang Vietnam yang sedang berlari sambil telanjang karena terkena napalm yang dilemparkan oleh oleh pasukan Angkatan Udara Vietnam Selatan. Fotografer foto tersebut malah memenangkan Penghargaan Pulitzer padahal sedang mengeksploitasi korban bencana kemanusiaan (Perang Vietnam). Jika etika konten yaitu menghindari gambar eksploitatif korban diberlakukan, maka artikel Phan Thị Kim Phúc akan tidak memiliki gambar yang mewakili konteks pada kontennya. Padahal foto tersebut sangat mewakili konteks pada konten artikel.
- Intinya, saya melihat lebih banyak dampak negatif terhadap penerapan pedoman semacam ini. Selain membatasi kebebasan dalam menulis artikel, pedoman semacam ini berkemungkinan mengurangi semangat penulis dalam melakukan penulisan artikel yang sifatnya sukarela. Semoga berkenan untuk memahami dampak-dampak perandaian tersebut. Salam, – JumadilM Diskusi 7 Mei 2025 12.15 (UTC)
- Mending baca en:WP:DISASTER deh RaFaDa20631 (bicara) 5 Mei 2025 11.40 (UTC)
- @Aesthetic of me, @Badak Jawa. @Dedhert.Jr, @Fazoffic, @RaFaDa20631. Sepertinya diskusi ini sudah bisa ditutup dengan kesimpulan pembatalan pengusulan karena @Mengedit sudah mengusulkan penghapusan cepat untuk halaman pengusulannya. Salam, JumadilM Diskusi 8 Mei 2025 04.00 (UTC)
- @JumadilM sip, makasih informasinya ya Badak Jawa (bicara) 8 Mei 2025 04.28 (UTC)