Para teknisi sedang memperbaiki transceiver bangunan ketika sekitar dua belas militan menyerang bangunan tersebut dan mulai menembak mati mereka. Salah seorang pekerja berhasil melarikan diri dan mengirimkan pesan melalui CCTV bangunan ke kantor pusat Telkomsel di Jakarta.[4] Satu orang yang selamat dalam penyerangan tersebut adalah Nelson Sarira, sedangkan delapan korban tewas lainnya adalah Bona Simanullang, Billy Garibaldi, Renaltagasye Tentua, Jamaludin, Eko Septiansyah, Syahril Nurdiansyah, Ibo, dan Bebi Tabuni.[5]
Reaksi
Organisasi Pembebasan Papua Barat mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Juru bicara kelompok tersebut, Sebby Sambom, mengatakan bahwa gerakan tersebut sebelumnya telah menyuruh warga sipil untuk meninggalkan daerah tersebut dan bahwa "Tidak ada alasan untuk membenarkan bahwa mereka adalah warga sipil ketika kami telah mengumumkan semua imigran untuk segera meninggalkan zona perang".[6]
Serangan itu dikutuk oleh banyak pihak berwenang Indonesia, termasuk pejabat militer setempat Aqsha Erlannga, yang menggambarkan penembakan itu sebagai "kejahatan luar biasa".[6] Selain itu, kepala suku Dani dari Kabupaten Puncak, Abelom Kogoya terhadap serangan itu yang salah satu korban Bebi Tabuni merupakan putra kepala suku Dani dari Gome, Distrik Ilaga, Abeloni Tabuni, keduanya mengutuk serangan itu. Abelom Kogoya selanjutnya menyatakan KKB bukan lagi bagian dari saudara mereka dan akan mengamankan mereka jika mengambil tindakan lebih lanjut, "Kalau dianggap saudara tidak mungkin anak ini Beby Tabuni mereka bunuh, mereka cuma buat hancur kota ini, mereka bakar, mereka membunuh".[7]
Serangan tersebut merupakan salah satu insiden paling mematikan dalam sejarah konflik Papua yang berlangsung sejak tahun 1962.[8][9]