Deteksi dan prediksi patogen
Pandemi sering kali bermula dari penyakit-penyakit zoonosis. Beberapa patogen telah menjadi endemik dalam kehidupan manusia, misalnya campak dan cacar. Penyakit zoonosis memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi. Awal kemunculan penyakit ini belum dapat dipastikan, tetapi setidaknya ada dua faktor yang mendukung perkembangannya. Kedua faktor tersebut adalah perubahan ekologi dan demografi berskala besar, termasuk di dalamnya domestikasi hewan ternak, dan pertumbuhan populasi manusia yang cukup besar pada 10.000-an tahun yang lalu. Seiring berkembangnya masyarakat, patogen dari inang hewan terus menyebar ke dalam populasi manusia.[13]
Perubahan lingkungan sosial ekonomi dan antropogenik merupakan penyebab berkembangnya zoonosis. Salah satunya tampak pada kasus campak. Domestikasi ternak yang memunculkan penyakit campak terjadi bersamaan dengan intensifikasi produksi pangan global dan berkontribusi pada munculnya varian penyakit Creutzfeldt-Jakob serta beberapa zoonosis lainnya. Perluasan jaringan jalan raya, pengembangan pertanian budaya lahan, dan intensifikasi perdagangan satwa liar mendorong munculnya patogen baru dari satwa liar, contohnya virus Nipah, HIV, dan SARS.[13] Dari sejarah pandemi, pemicu penyebaran zoonosis di masa lalu pada dasarnya sama dengan era globalisasi saat ini. Beberapa faktor pemicu tersebut adalah perluasan jalur dagang, peningkatan jumlah perjalanan dan integrasi antar manusia, urbanisasi, perubahan pemanfaatan lahan, dan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran.[13][14][15] Ekspansi jalur dagang telah terbukti memunculkan pandemi maut hitam di abad 14 dan cacar di Amerika pada abad 16. Kasus yang sama juga terjadi dalam penyebaran SARS, virus West Nile, virus influenza A subtipe H5N1, dan cacar monyet.[13] Namun demikian, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa beragam variabel pemrediksi tersebut (urbanisasi, alih guna lahan, dan lain-lain) hanya dapat menjelaskan sekitar 30% dari keseluruhan potensi zoonosis.[16] Virus RNA vertebrata, terlepas memang adanya transmisi antar spesies, telah berevolusi dengan inang mereka selama jutaan tahun. Temuan ini memperkuat teori bahwa penyakit-penyakit zoonosis yang disebabkan oleh limpahan virus RNA berhubungan dengan aktivitas manusia dan perubahan ekosistem.[17]
Ada beberapa metode untuk menjelaskan dan mengidentifikasi asal muasal sebuah pandemi. Pertama, metode-metode ekologi yang mampu menjelaskan bagaimana populasi spesies inang dan mikroorganisme berhasil diubah oleh perubahan sosial dan lingkungan. Metode ini memodelkan limpahan penyakit dari satwa liar, menelusuri kembali asal-usul penyakit menular, menggolongkan dan menganalisis penyebabnya, serta mengukur bagaimana jaringan sosial dapat memengaruhi penyebaran penyakit. Kedua, bidang ekologi penyakit yang menawarkan cara memprediksi risiko limpahan dan penyebaran penyakit zoonosis yang telah terindentifikasi. Namun, untuk mengantisipasi pandemi zoonosis di masa depan yang biasanya disebabkan oleh patogen vertebrata yang tidak diketahui sebelumnya, peneliti memerlukan metode tambahan. Stephen Morse dan rekannya mengenalkan metode baru meta-analisis guna memprediksi pandemi. Meta-analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi 'titik api' pandemi dengan terlebih dahulu menetapkan asal geografis dari 400 penyakit yang muncul pada manusia dalam beberapa dekade terakhir. Data ini kemudian dikoreksi untuk menghindari bias peneliti dan untuk menjelaskan perbedaan kapasitas negara dalam melakukan surveilans penyakit. Data tentang asal penyakit kemudian dapat dihubungkan dengan pemicu sosial ekonomi dan ekologi. 'Titik api' yang teridentifikasi sejauh ini meliputi daerah tropis dengan keanekaragaman satwa liar yang tinggi dan populasi manusia yang padat, serta sebagian wilayah Eropa dan Amerika Utara. Untuk menghadapi pandemi berikutnya, perlu ada upaya memfokuskan sumber daya global untuk pengawasan dan penemuan patogen hingga ke wilayah 'titik api'. Untuk mengidentifikasi pandemi di masa depan, program surveilans harus mampu menyaring spesies satwa liar yang diketahui mengandung patogen dan memfokuskan upaya di wilayah di mana sebagian besar kontak antara satwa liar dan manusia terjadi.[13]