Penaklukan Hamadzan (Hamadan), merupakan rangkaian pertempuran antara pasukan muslimin Khalifah Rasyidin di masa Khalifah Umar bin Khathab melawan pasukan Persia Sasania di tahun 17 H atau 637 M di utara dari wilayah Kufah setelah PertempuranNahawand. Pemimpin pasukan muslimin tertinggi Sa'ad bin Abi Waqqash, mengutus komandannya Nu'man dan Qa'qa menghadapi sisa pasukan persia di wilayah utara.
Dalam peperangan sebelumnya Panglima Fairuzan terluka di medan pertempuran. Dia berusaha melarikan diri menuju Hamadzan dan dikejar oleh an-Nu'man bin Muqarrin dan al-Qa'qa yang telah mendahuluinya dengan kekuatan 12.000 personil. Sesampainya di Hamadzan al-Qa'qa' berhasil menyusulnya di tepi pegunungan Hamadzan, kota yang lebih besar dari Nahawand[1]. Di tempat tersebut terdapat banyak kuda-kuda dan keledai yang membawa madu (yang menghalangi jalan). Fairuzan tidak sanggup lagi untuk mendaki dataran tinggi ini disebabkan luka-lukanya yang sangat parah. Akhirya terpaksa Fairuzan berjalan kaki dan bersembunyi di gunung itu. Sementara al-Qa'qa' terus mengejar dan akhirnya berhasil membunuhnya.
Prajurit Islam memberikan komentar mengenai peristiwa ini, "Sesungguhnya Allah memiliki para tentara dari madu, akhirnya mereka berhasil mendapatkan seluruh madu-madu berikut barang-barang yang dibawa kuda-kuda maupun keledai-keledai tersebut hingga tempat ini."[2]
Tempat tersebut kelak dinamakan dengan lembah madu. Setelah itu Qa'qa bergerak mengejar pasukan musuh yang berlari ke Hamadzan. Sesampainya di sana, dia mulai mengadakan pengepungan dari seluruh penjuru, hingga akhirnya pengasa Hamadzan menawarkan untuk berdamai dan Qa'qa menerima tawarannya. Setelah itu Qa'qa beserta pasukannya segera kembali kepada Hudzaifah setelah mereka berhasil menaklukan Nahawan dengan peperangan.[2]