ENSIKLOPEDIA
Pemerkosaan dalam Alkitab Ibrani
| Bagian dari seri |
| Alkitab |
|---|
|
Kanon Alkitab dan kitab-kitabnya |
|
Tanakh (Taurat · Nevi'im · Ketuvim) Kanon Alkitab Kristen · Alkitab Ibrani Perjanjian Lama (PL) · Perjanjian Baru (PB) Deuterokanonika · Antilegomena Bab dan ayat dalam Alkitab Apokrifa: (Yahudi · PL · PB) |
| Perkembangan dan Penulisan |
|
Terjemahan dan Naskah |
|
Taurat Samaria Gulungan Laut Mati Teks Masorah Targum · Pesyita Septuaginta · Vulgata Alkitab Goth · Vetus Latina Alkitab Luther · Alkitab Inggris · Alkitab Indonesia |
| Studi |
|
Kode Alkitab Novum Testamentum Graece Hipotesis dokumen Kategori PB Konsistensi internal Arkeologi · Artefak |
| Tafsir |
| Hermeneutika · Pesyer · Midras · Pardes · Penafsiran alegori Alkitab · Literalisme · Nubuat · Homoseksualitas · Pemerkosaan |
| Daftar dan Garis besar topik |
| Artefak · Nama · Tokoh |
Alkitab Ibrani memuat beberapa nas yang berkaitan dengan pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya, baik di dalam Hukum Taurat, riwayat-riwayat, maupun syair-syair nubuat.
Sejarah kajian
Sampai dengan abad ke-20, para penerjemah dan pengulas Alkitab rata-rata tidak berpandangan bahwa Alkitab Ibrani memuat riwayat pemerkosaan, yakni tindakan seksual yang dilakukan tanpa persetujuan salah satu pihak terlibat, selain dari kasus pemerkosaan Tamar yang diriwayatkan di dalam nas 2 Samuel 13. Beberapa riwayat, misalnya riwayat Simson dan Delila (Hakim–Hakim 16) dan riwayat Sikhem dan Dina (Kejadian 34) justru ditafsirkan sebagai kisah asmara (misalnya kisah kawin lari) ketimbang sebagai kisah rudapaksa.[1] Salah satu kekecualian langka adalah pernyataan Thomas Paine di dalam Abad Pencerahan (terbit tahun 1795) bahwa nas Bilangan 31 mencitrakan Musa sebagai tokoh yang memerintahkan bani Israel untuk membunuh semua orang Midian kecuali gadis-gadis perawan, yang boleh mereka pelihara untuk kepentingan yang diistilahkan Thomas Paine sebagai "pengumbaran hawa nafsu": "Di antara sekalian durjana keji dari zaman mana pun di dunia ini yang sudah bikin malu manusia, mustahil didapati yang lebih parah daripada Musa, kalau riwayat ini memang benar. Dalam riwayat ini terdapat perintah untuk menyembelih bocah-bocah lelaki, membantai ibu-ibu, dan merusak anak-anak gadis."[2][3] Dalam An Apology for the Bible (terbit tahun 1796), Richard Watson, Uskup Llandaff, berusaha membantah argumen-argumen Thomas Paine dengan mengemukakan bahwa,[3] "Tidak ada yang saya lihat di dalam peristiwa ini selain kebijakan yang baik, dipadukan dengan welas asih. [...] Perempuan dan kanak-kanak tidak dibiarkan hidup demi kepentingan mengumbar hawa nafsu, melainkan untuk diperbudak."[4] Bagaimanapun juga, Thomas Paine tidak secara khusus menumpukan perhatiannya kepada kekerasan seksual; pernyataan tersebut hanya dilontarkannya bagian dari kritik umum terhadap etika Kristen.[3] Israel, Its Life and Culture karya Johannes Pedersen (terbit tahun 1926 dan 1940), yang jamak dikutip para sarjana sebagai sumber informasi seputar mores seksual bani Israel, tidak pernah menyebut-nyebut rudapaksa, hanya 'hubungan bertaraf terlarang'. Beberapa nas Alkitab, yang kemudian hari secara luas dipahami sebagai 'nas-nas rudapaksa', disifatkan Johannes Pedersen sebagai 'perjodohan yang tidak senonoh'.[5]
Baru pada akhir dasawaasa 1970-an, dengan munculnya gerakan antirudapaksa yang dipicu feminisme gelombang kedua, para sarjana feminis mencapai konsensus bahwa beberapa nas Alkitab Ibrani merujuk kepada rudapaksa, misalnya riwayat gundik seorang Lewi dan penculikan perawan-perawan Yabesy-Gilead dan Silo oleh suku Benyamin sebagai rudapaksa ramai-ramai (Hakim-Hakim 19–21).[6] Meskipun demikian, para sarjana tersebut juga mula-mula tidak sependapat tentang benar tidaknya beberapa riwayat seperti riwayat Dina (Kejadian 34) dan riwayat Hagar menggambarkan kekerasan seksual.[7] Beberapa karya tulis yang paling menonjol pada masa-masa pembentukan kajian sastra rudapaksa Alkitab adalah sebagai berikut :[8]
- Texts of Terror: literary-feminist readings of Biblical narratives karya Phyllis Trible (terbit tahun 1984), terbitan ilmiah feminis pertama yang mewacanakan riwayat Hagar (Kejadian 16; 21), riwayat Tamar (2 Samuel 13), dan riwayat gundik seorang Lewi (Hakim-Hakim 19) sebagai kisah-kisah rudapaksa.
- Fragmented Women: Feminist (Sub)versions of Biblical Narratives karya J. Cheryl Exum (terbit tahun 1993), menyoroti riwayat-riwayat istri-saudari (Kejadian 12; 20; 26), riwayat Dina (Kejadian 34), riwayat Simson dan Delilah (Hakim-Hakim 16), riwayat gundik seorang Lewi (Hakim-Hakim 19), serta riwayat Batsyeba dan Daud (2 Samuel 11) sebagai kisah-kisah rudapaksa.
- Battered Love: Marriage, Sex, and Violence in the Hebrew Prophets karya Renita J. Weems (terbit 1995), menyoroti kekerasan seksual di dalam metafora-metafora perkawinan di Kitab Hosea, Kitab Yeremia, dan Kitab Yehezkiel.
- The Harlot by the Side of the Road: Forbidden Tales of the Bible karya Jonathan Kirsch (terbit tahun 1997), mengkaji riwayat anak-anak perempuan Lot (Kejadian 19), Dina (Kejadian 34), dan Tamar (2 Samuel 13) sebagai tiga kisah rudapaksa.
Terkait sikap Alkitab Ibrani terhadap rudapaksa, khususnya undang-undang seks di dalam Kitab Ulangan bab 20 sampai 22 berkenaan dengan tawanan perempuan cantik, ada dua aliran pemikiran. Salah satunya dipenggawai sarjana-sarjana seperti Richard Elliott Friedman dan Shawna Dolansky, yang memaparkan tentang "Status Kaum Wanita" di dalam buku The Bible Now (terbit tahun 2011) bahwa "hal yang tidak perlu diragukan lagi adalah pandangan Alkitabiah mengenai rudapaksa, yaitu rudapaksa itu keji. Rudapaksa dinista di dalam riwayat-riwayat Alkitab. Rudapaksa tidak ditoleransi di dalam hukum-hukum Alkitab."[9] Aliran yang satu lagi dipenggawai sarjana-sarjana seperti Harold C. Washington, yang menyimpulkan di dalam buku 'Lest he die in the battle and another man take her': Violence and the construction of gender in the laws of Deuteronomy 20–22 (terbit tahun 1998) bahwa "hukum Taurat tidak mengharamkan kekerasan seksual; malah hukum Taurat menjabarkan syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang pria untuk dapat melakukan rudapaksa."[10]
Terminologi
Sarjana-sarjana seperti Susanne Scholz (pada tahun 2021) telah menunjukkan bahwa makna kata-kata yang termaktub di dalam Alkitab Ibrani senantiasa tergantung pada konteksnya, dan para penerjemah atau pengulas Alkitab kerap keliru menafsirkan istilah-istilah, gagal menangkap nuansa-nuansa makna, atau menggunakan eufemisme bagi kekerasan seksual. Bahkan dalam bahasa Inggris Modern, verba to rape tidak mesti selalu merujuk kepada kekerasan seksual, tetapi dapat pula dipakai untuk mengiaskan keadaan dipaksa menanggung perlakuan yang sangat tidak menyenangkan tetapi tidak mengandung unsur seksual.[11] Demikian pula verba Ibrani עָנָה (anah) biasanya berarti 'memperkosa, memaksa/mengerasi secara seksual', tetapi dalam beberapa konteks nonseksual lebih tepat diterjemahkan menjadi 'menindas', 'melemahkan', dan seterusnya. Di lain pihak, kata-kata yang biasanya nonseksual kadang-kadang bisa saja menyifatkan sesuatu yang sexual; verba seperti עָשַׁק ('āšaq) biasanya berarti 'meremukkan, menghancurkan, menekan', tetapi dalam satu ayat khusus (Yesaya 23:12) bisa saja sesungguhnya bermakna 'merudapaksa' dalam kaitannya dengan istilah 'anak-anak dara sunti', karena istilah 'anak-anak dara sunti' mengandung makna seksual yang bersifat khusus.[12] Alkitab Ibrani juga sarat dengan eufemisme dan slang seksual yang mungkin sukar dipahami para pembaca modern. 'Berbaring dengan', 'mengenal', 'menghampiri', dan 'menyingkap ketelanjangan' adalah contoh-contoh eufemisme yang dalam konteks-konteks tertentu berarti 'menyetubuhi'. Frasa-frasa semacam itu tidak harus berarti bahwa seks tersebut dipaksakan oleh seseorang terhadap orang lain, dan sebenarnya dapat menyifatkan seks suka sama suka, tetapi pada khususnya jika konteks riwayatnya menambahkan bentuk-bentuk paksaan (misalnya kekerasan dan intimidasi) terhadap seseorang, atau mengklaim bahwa seks tersebut adalah 'hukuman', maka 'merudapaksa' menjadi terjemahan yang dapat diterima. Demikian pula nomina-nomina seperti 'rok', 'ketelanjangan', dan 'malu' bisa saja merupakan eufemisme bagi 'alat kelamin perempuan'.[13]
Verba yang dapat berarti 'memperkosa' atau 'menyetubuhi'
- עִנָה (inah)[14] = (eksplisit) memperkosa, memaksa [secara seksual], mencemari, merusak, merenggut, menzalimi, menyusahkan, merendahkan/mempermalukan, menindas, menundukkan/mengecundang/menaklukkan, melemahkan;[15] kemungkinan besar berarti 'memperkosa' di dalam Hakim–Hakim 20:5[a] dan 2 Samuel 13:14.[b][16]
- עָשַׁק (āšaq) = meremukkan, menghancurkan, menindas, (+ perawan) memperkosa? (Yesaya 23:12)[17][18]
- בּוֹא (bô) = mendatangi, menghampiri, (eufemisme) bersetubuh dengan, memasuki/memasukkan, membawa serta, pergi, terbenam (matahari)[19]
- kadang-kadang dipadukan dengan אֵל (el) = di dalam, ke dalam. Contoh: 2 Samuel 16:21–22.
- גָּלָה (gālâ) = menyingkap (ketelanjangan), melucuti (pakaian), (implisit) memperkosa[17][20]
- נָבֵל (nābal; dalam pi'el) = (eksplisit) merusak secara seksual (misalnya dalam Kejadian 34:7, Hakim-Hakim 19–21, 2 Samuel 13:12, dan 3 Nahum 6),[21] menistakan, mempermalukan, memperlakukan dengan tidak hormat, memperolok-olokkan[22]
- פִּתָה (pitah)[23] = memikat, merayu, membujuk, memperdaya, memperbodoh, menyanjung? (Amsal 20:19), mengungguli? (Yehezkiel 14:9), memikat? (Hosea 2:14), (dalam pi'el (ditambah paksaan)) memperdaya/memaksa secara seksual? (Hakim-Hakim 14:15, Hakim-Hakim 16:5, Hosea 2:14)[24][25]
- Kadang-kadang dipadukan dengan חָזַק (ḥāzaq, khazaq) = mengjadi (lebih) kuat, menjadi kuat/berkuasa, unggul/mengatasi, meringkus/menangkap, memagang/menahan, menguatkan/mengeraskan (seseorang, orang lain, atau sebuah benda, misalnya hati Firaun di dalam Keluaran 4–14), memugar/membentengi (bangunan pertahanan, 2 Raja-Raja 12, 2 Tawarikh 11;24;26, Nehemia), menjadi berani, mendorong/membujuk.[26] Para sarjana memperdebatkan soal apakah gabungan kata פָּתָה (pātâ) dan חָזַק (ḥāzaq), misalnya di Yeremiah 20:7, harus dipahami sebagai rudapaksa atau bukan rudapaksa.[27]
- רָאָה (rā'â) = melihat (kelamin tersingkap),[28] (implisit) memperkosa[17]
- שָׁגַל (šāgal) = (vulgar) merenggut, memperkosa, merusak, (terjemahan eufemistis) berbaring dengan (Ulangan 28:30, Yesaya 13:16, Yeremia 3:2, Zakharia 14:2)[17][29]
- שָׁכַב (šākab) = berbaring, tidur, (eufemisme) berbaring/tidur dengan, (+ kekerasan) memperkosa.[17][30]
- סוּר (sur) = menanggalkan/melucuti (pakaian atau benda lain), mengambil/menyingkirkan, memenggal/memancung, memisahkan, menyingkir (atau: menampik), menarik/mundur, berangkat/pergi[31]
- טָמֵא (tame) = (pasif) dinajiskan, dinyatakan najis, (aktif, pasif, atau refleksif) mencemarkan (seseorang, diri sendiri) / dicemarkan, (implisit) melakukan hubungan seks terlarang dengan seseorang / dibuat melakukan hubungan seks terlarang oleh seseorang (dengan bujuk rayu maupun rudapaksa)[32]
- תָּפַשׂ (tāfaś) = mengambil, menangkap, meringkus, meraih/menggenggam, menyambar, membekuk, menahan, menduduki, menista, menangani/mempergunakan/memainkan (benda)[33]
- צָחַק (tsakhaq) = (positif) menertawakan, mengolok-olok/mencemooh, mempermainkan, bercumbu / bercinta / bersanggama (Kejadian 26:8),[17] bermain[34]
- יָדַע (yada) = mengenal, (eufemisme) bersanggama dengan, (eufemisme) (+ paksaan) merudapaksa[17][35]
- kadang-kadang dikombinasikan dengan מִשְׁכָּב (miš-kaḇ ("ranjang", dalam percakapan sehari-hari "berbaring")[36] = (harfiah) mengenal di atas ranjang, (terjemahan-terjemahan Alkitab yang lebih tua) mengenal secara intim / secara badani / mengenal dengan cara berbaring dengan, (terjemahan-terjemahan Alkitab modern) bersetubuh dengan (misalnya Bilangan 31:18, di mana frasa 'orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki' kadang-kadang hanya diterjemahkan menjadi 'gadis-gadis perawan')[37]
- זָנָה (zanah) = (peyoratif) berlaku layaknya sundal/pelacur, mempermainkan seorang/si sundal/pelacur, bersundal, berzina, melacur, berselingkuh/berbuat cabul[38]
Nomina untuk alat kelamin
- בָּ֫טֶן (beṭen) = rahim, perut[39]
- עֶרְוָה (erwâh) = ketelanjangan, jasad terbuka, alat kelamin[40]
- חֶרְפָּה (ḥerpâ, kherpah) = rasa malu, vagina[40]
- מַ֫עַר (ma'ar) = ketelanjangan, alat kelamin[13]
- פּוֹת (pōt) = (hanya terdapat di dalam Yesaya 3:17, kasar) farji, bagian pribadi (terjemahan eufemistis), dahi/kulit kepala, (hanya di dalam 1 Raja-Raja 7:50) sekeri pintu[41][42]
- שֹׁ֛בֶל (šō-ḇel) = rok (eufemisme untuk alat kelamin perempuan[13])
Nomina untuk penistaan
Contoh
Kejadian
Kejadian 9
Di dalam nas Kejadian 9:22, tepat sesudah riwayat peristiwa Air Bah, diriwayatkan bahwa Ham, anak Nuh, "melihat ketelanjangan" ayahnya. Di bagian-bagian lain dari Alkitab Ibrani, frasa "melihat ketelanjangan" dapat diartikan sebagai "menyetubuhi". Beberapa mufasir menyimpulkan bahwa Ham menyetubuhi Nuh, bahkan mungkin "menyodominya" selagi terlelap. Penjelasan yang sama terdapat di dalam tiga terjemahan Yunani dari Alkitab, yang menggantikan kata "melihat" di dalam ayat 22 dengan kata lain yang menyatakan hubungan sesama jenis. Lantaran kejadian itu, Nuh mengutuk Kanaan bin Ham berikut anak-cucunya, orang Kanaan.[46]
Kejadian 16
Phyllis Trible (pada tahun 1984) adalah sarjana pertama yang mencuatkan pandangan bahwa riwayat Hagar di dalam nas Kejadian 16:1–4 adalah sebuah riwayat rudapaksa.[47] Pandangan ini kemudian hari didukung oleh beberapa feminis peneliti Alkitab seperti J. Cheryl Exum[48] dan Suzanne Scholz,[49] tetapi ditolak oleh sarjana-sarjana lain.[7] Beberapa sarjana bahkan mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa nas Kejadian 16:6 juga meriwayatkan tindakan Sara "merudapaksa" Hagar, lantaran kata kerja yang dipakai dalam nas tersebut, yakni עִנָה (inah) dalam tasrif pi'el, kadang-kadang digunakan di dalam nas-nas lain dengan makna (antara lain) "memperkosa", "menjahati", atau "menindas", tergantung konteksnya.[50] Phyllis Trible menolak gagasan semacam itu dengan alasan bahwa kata tersebut hanya berarti 'penindasan'; teolog keempuanan Delores S. Williams (tahun 1993) memahaminya sebagai tindak kekerasan seksual terhadap integritas fisisnya; Suzanne Scholz menyimpulkan bahwa 'riwayat tersebut tidak menyajikan jawaban yang jelas'.[16]
Kejadian 19

Nas Kejadian 19 meriwayatkan upaya pemerkosaan beramai-ramai. Dua malaikat tiba di Sodom dan dijamu Lot. Akan tetapi kaum lelaki di kota itu mengepung rumah Lot dan menuntut supaya ia menyerahkan kedua tamunya kepada mereka sehingga dapat mereka gagahi. Lot menanggapi tuntutan mereka dengan menawarkan kedua anak gadisnya. Mereka menolak tawaran Lot, tetapi kedua malaikat itu membutakan mata mereka. Allah akhirnya meluluhlantakkan kota itu, selagi Lot dan anak istrinya meloloskan diri.
Kejadian 19 selanjutnya meriwayatkan tindakan anak-anak gadis Lot yang membuat ayahnya mabuk lalu bersetubuh dengannya. Sebagai akibatnya, leluhur bangsa Moab dan Amon, musuh-musuh bebuyutan bangsa Israel, terlahir ke dunia. Sejumlah pengulas menyifatkan tindakan mereka sebagai pemerkosaan. Esther Fuchs (pada tahun 2003) berpendapat bahwa nas tersebut mencitrakan anak-anak perempuan Lot sebagai "penggagas sekaligus pelaku 'pemerkosaan' inses."[51]
Gerda Lerner (pada tahun 1986) berpendapat bahwa lantaran Alkitab Ibrani tidak mempermasalahkan hak Lot menawarkan anak-anak perempuannya untuk diperkosa, dapat diasumsikan bahwa hal itu mencerminkan realitas kesejarahan dari kekuasaan seorang ayah atas anak perempuan.[52]
Kejadian 34
Nas Kejadian 34 meriwayatkan hubungan seksual antara Sikhem dan Dina, tetapi bagaimana nas ini harus diterjemahkan dan dipahami merupakan pokok kontroversi ilmiah. Kebanyakan sarjana modern menegaskan bahwa nas itu meriwayatkan tindak pemerkosaan, dan banyak terjemahan modern mengartikan tindakan tersebut sebagai 'memerkosa' (dengan pilihan kata serupa yang menyiratkan pemaksaan seksual),[53] tetapi beberapa pengulas terdahulu juga mengusulkan pemaknaan tindakan tersebut sebagai kawin lari.[54] Templat:Terjemahan-terjemahan Dina dan Sikhem
Analisis kebahasaan
Mary Anna Bader (pada tahun 2006) mencermati pembagian yang memisahkan ayat dua dan ayat 3, dan mengemukakan di dalam tulisannya bahwa "pembaca moderen akan merasa aneh dan jengah mendapati kata kerja 'mencintai' berdampingan dengan kata kerja 'mencemari', dengan pria yang sama sebagai subjeknya dan wanita yang sama sebagai objeknya."[55] Belakangan dia menambahkan bahwa "narator tidak memberi informasi apa-apa kepada pembaca tentang pemikiran maupun perasaan Dina selama kejadian berlangsung. Sikhem bukan sekadar fokalizor melainkan juga pelaku utama...Narator tidak membuka peluang bagi munculnya keraguan bahwa Sikhemlah pusat dari ayat-ayat tersebut. Dina adalah objek (atau objek tak langsung) dari tindakan dan hawa nafsu Sikhem."[56] Frank M. Yamada (pada tahun 2008) berpendapat bahwa transisi mendadak dari Kejadian 34:2 ke Kejadian 34:3 adalah sebuah teknik penceritaan, bertolak dari kenyataan bahwa narasi tersebut berfokus pada kaum pria, suatu pola yang juga ia dapati pada narasi-narasi rudapaksa lainnya, sembari mengemukakan pula bahwa tanggapan-tanggapan kaum pria digambarkan dari beragam sudut pandang. "Pemerkosaan Dina dikisahkan dengan cara yang menyiratkan bahwa ada kekuatan-kekuatan sosial yang bekerja, yang memperunyam perkara perusakan keperawanan yang semula merupakan masalahnya dan akan membuat tanggapan-tanggapan kaum pria menjadi problematis. [...] Meskipun demikian, transisi mendadak dari rudapaksa ke perkawinan menciptakan ketegangan di dalam benak pembaca...isu hukuman yang tak terselesaikan itu mengantisipasi tanggapan Simeon dan Lewi."[57]
Bertolak belakang dengan Bader dan Yamada, Scholz (tahun 2021) berpendapat bahwa, sekalipun menjadi objek pasif, Dinalah yang menjadi pusat narasi, bukan Sikhem, dan kata kerja dalam ayat 3 sudah jamak diterjemahkan dengan keliru di mana-mana. Kata דָּבַק (dabaq), yang sering kali diterjemahkan menjadi 'mencintai (seseorang)', apabila dijumpai pada bagian-bagian lain dari Alkitab, tidak pernah diterjemahkan menjadi 'mencintai', tetapi menjadi 'tidak mau berpisah (dari seseorang)' (Rut 1:14 BIS), 'tetap berpaut (pada seseorang)' (Rut 2:23 TB), 'melekat (pada seseorang)' (Mazmur 101:3), 'berpegang erat pada (warisan)' (Bilangan 36:7,9 MILT), atau 'menyimpan sesuatu (barang milik)' menurut Wilhelm Gesenius. Scholz berkesimpulan: "...'mencintai' sepenuhnya tidak memadai. Terjemahan yang lebih baik menitikberatkan kedekatan jarak: 'Sikhem tinggal bersama Dina' atau "Sikhem menahan Dina,' dalam arti tidak membiarkannya pergi."[58] Dalam konteks tersebut, kata kerja intransitif אָהַב (aheb) sebaiknya diterjemahkan menjadi 'berahi akan (seseorang)' atau 'menghasratkan (seseorang)' ketimbang 'mencintai (seseorang)', sebab perasaannya lebih bersifat seksual daripada romantis, dan sepenuhnya sepihak, yakni dari subjek yang memegang kendali kepada objek yang dipaksa secara seksual.[59] Kata kerja yang ketiga merupakan bagian dari sebuah frasa, yaitu וַיְדַבֵּ֖ר עַל־לֵ֥ב הַֽנַּעֲרָֽ׃ (way-ḏab-bêr ‘al-lêḇ han-na-‘ă-rā), yang secara harfiah berarti "dan dia berbicara kepada hati perempuan muda itu". Meskipun banyak terjemahan mengartikannya menjadi "berbicara dengan lembut kepadanya" (AYT), Susanne Scholz mengikuti pendapat Georg Fischer (tahun 1984), yang mendapati bahwa frasa yang sama di dalam Alkitab Ibrani selalu muncul bilamana "keadaannya tidak seperti yang diharapkan, sukar, atau genting",[c] dan seharusnya dimaknai sebagai "berusaha menggugurkan pandangan negatif" atau "mengubah pemikiran seseorang". Oleh sebab itu, Scholz berpendapat bahwa Sikhem sedang berusaha menenangkan Dina pascarudapaksa, dan mengubah pandangan negatif Dina dengan cara berbicara kepadanya, dan mengartikan bagian akhir ayat 3 menjadi "dia berusaha menenangkan gadis itu."[60]
Analisis etis-historis

Tindakan Sikhem merudapaksa Dina di dalam Kejadian 34 disifatkan di dalam nas itu sendiri sebagai sesuatu yang "tidak patut dilakukan."[61] Susanne Scholz mengemukakan dalam tulisannya (tahun 2000) bahwa "pembalasan kakak-kakak Dina, justru juga menunjukkan pandangan-pandangan mereka yang saling bertentangan mengenai perempuan. Di satu pihak mereka membela adik perempuan mereka, tetapi di lain pihak mereka tidak ragu-ragu untuk menawan perempuan-perempuan lain seakan-akan perempuan-perempuan itu adalah rampasan perang. Keterkaitan pemerkosaan tersebut dengan balas dendam yang ditimbulkannya mengungkap kenyataan bahwa tidak ada solusi mudah untuk menghentikan para pemerkosa maupun perilaku yang mengarah kepada pemerkosaan. Sehubungan dengan hal ini, Kejadian 34 mengajak khalayak pembaca sezaman untuk membahas perkara pemerkosaan yang marak terjadi melalui bahasa metaforis sebuah cerita."[62] Di dalam karya tulisnya yang lain, Scholz (tahun 2010) mengemukakan bahwa "Dalam sejarah panjang penafsirannya, para mufasir Yahudi dan Kristen lebih sering mengabaikan Dina. [...] di dalam banyak tafsiran, pembunuhan yang dilakukan kakak-kakak Dina merupakan momen kejahatan, dan belakangan ini para sarjana sudah terang-terangan menyanggah kemungkinan bahwa Sikhem merudapaksa Dina. Menurut mereka, cinta dan lamaran yang diajukan Sikhem tidak cocok dengan 'perilaku seorang pemerkosa yang terdekomentasi secara ilmiah'."[63][64] Scholz (tahun 2000) berpendapat bahwa sikap diam Dina bukan berarti persetujuan: "Meskipun demikian, analisis sastrawi menunjukkan bahwa sekalipun bersikap diam, Dina hadir di sepanjang alur cerita. Malah segalanya terjadi lantaran dia. Berdasarkan studi feminis, nas tersebut malah tidak mengharuskan ada komentar eksplisit darinya."[65]
Rabi dan sarjana Burton Visotzky (tahun 2010) berpendapat bahwa kisah tersebut memaparkan kaidah kawini-pemerkosamu:[66]
Lingkungan masyarakatnya adalah lingkungan tempat aib korban harus dipertanggungjawabkan, dan perkawinan tidak menghapus aib hilangnya keperawanan. Akan tetapi aib ini adalah aib yang dibangun di atas empati terhadap laki-laki, dan ×tidak bersimpati kepada korban yang berjenis kelamin perempuan. Hanya sedikit kehormatan yang dapat dipulihkan pada diri korban rudapaksa oleh tindakan mengawini orang yang memperkosanya. Setidaknya saudara-saudara Dina setuju dengan poin terakhir ini, kalau bukan setuju dengan bagaimana saya sampai kepada kesimpulan tersebut. [...] Saya tidak yakin bahwa rudapaksa adalah suatu masalah bagi mereka. Aib dan kendalilah yang merupakan pemicu bagi mereka. Rudapaksa adalah pemicu bagi kita.
Sandra E. Rapoport (2011) berpendapat bahwa "nas tersebut menunjukkan simpati kepada Sikhem dalam ayat-ayat sesudah dia memperkosa Dina, tetapi pada saat yang sama tidak segan-segan mengutuk perilaku predator biadab terhadap Dina. Salah satu midras bahkan menghubung-hubungkan tiga bahasa cinta Sikhem dalam ayat 3 dengan cinta kasih Allah kepada Bani Israel."[67] Dia mengemukakan pula bahwa "karakter Sikhem itu rumit. Sikhem tidak bisa begitu saja disifatkan sebagai kejahatan sepenuhnya. Keruwetan inilah yang menciptakan ketegangan yang tertahankan bagi sidang pembaca dan membangkitkan emosi kuat yang dapat dimaklumi berupa rasa kesal, marah, dan kemungkinan besar juga rasa kasihan."[68] Oleh sebab itu, Sandra E. Rapoport, dengan beranggapan bahwa Kejadian 34 mengutuk keras pemerkosaan, mengemukakan dalam tulisannya bahwa, "pembunuhan untuk balas dendam yang dilakukan saudara-saudara Dina terhadap Sikhen dan Hamor, kendati mengingatkan khalayak pembaca modern akan readers keadilan ala pelosok terpencil dan tindakan main hakim sendiri, adalah tindakan mata ganti mata yang dapat dimaklumi di dalam konteks Timur Dekat kuno."[69]
Kejadian 39
Contoh langka perundungan seksual di dalam Alkitab yang dilakukan oleh seorang wanita terhadap seorang pria terdapat di dalam bab ke-39 kitab Kejadian.[70] Di dalam bab tersebut, Yusuf selaku budak berulang kali dirayu oleh istri majikannya, Potifar. Yusuf menolak ajakannya untuk berhubungan badan (Kejadian 39:10),[71] lantaran tidak memiliki hak perkawinan untuk melakukannya, dan merupakan suatu perbuatan dosa melawan Yahweh (Kejadian 39:6–10).[70] Istri Potifar akhirnya memaksa Yusuf untuk berzina, lalu menarik pakaiannya (Kejadian 39:12). Yusuf berhasil meloloskan diri, tetapi pakaiannya tertinggal dalam genggaman istri Potifar (jenis pakaiannya diterjemahkan berbeda-beda, misalnya "baju", "jubah", "mantel", atau hanya "pakaian" saja). Istri Potifar lantas memberitahu pelayan-pelayannya, dan kemudian suaminya, bahwa Yusuf sudah menyerang dirinya (Kejadian 39:13–18).[70] Yusuf pun dijebloskan ke dalam penjara (Kejadian 39:19–20), dan mendekam di sana sampai bakat takwil mimpi yang dianugerahkan Allah kepadanya menuntun Firaun untuk meminta bantuannya (Kejadian 41:14).[70]
Para sarjana seperti Meir Sternberg (dalam bukunya yang terbit tahun 1985) menyifatkan perialaku berulang istri Potifat terhadap Yusuf sebagai pelecehan seksual.[70] Sarjana feminis, Judith McKinlay (dalam bukunya yang terbit tahun 1995), menunjukkan bahwa istri Potifat diperlakukan sebagai sebuah objek kepunyaan majikannya (Kejadian 39:8–9), dan Yusuf menolak bukan karena tidak mau bersetubuh dengannya, melainkan karena perbuatan semacam itu adalah pelanggaran terhadap kepercayaan yang diberikan majikannya, dan merupakan dosa melawan Yahweh.[70] Dapat pula dikemukakan bahwa istri Potifar berniat menunjukkan bahwa dirinya adalah subjek yang mampu membuat keputusan sendiri, alih-alih terus menjadi objek kepunyaan suaminya, lantas mengajak Yusuf untuk bersama-sama mewujudkan niatnya itu, yang dibingkai oleh riwayat tersebut sebagai 'dosa.'[70] Meskipun demikian, pada saat yang sama istri Potifar menyalahgunakan kedudukan dan kekuasaannya selaku istri pemilik budak untuk merayu Yusuf, dan untuk menghukum Yusuf lantaran tidak menuruti kemauannya.[70] Susan Tower Hollis (dalam bukunya yang terbit tahun 1989) menduga bahwa riwayat istri Potifar 'sejalan dengan beberapa cerita rakyat kuno, yang berkisah tentang seorang 'wanita yang gagal merayu seorang pria lalu menuduh pria itu berusaha memperkosanya', dan si pria kemudian 'dihukum secara tidak adil lantaran dituduh berusaha merayu si wanita.'[70]
Menurut teolog Kalvinis Tremper Longman III, Dasatitahlah yang menjadi alasan di balik penolakan Yusuf terhadap rayuan istri Potifar: "Zina adalah dosa melawan Allah. Zina bukannya menjadi dosa lantaran turunnya Dasatitah (Keluaran 20:14; Ulangan 5:18). Dasatitah hanya memformalkan kehendak Allah bagi umat-Nya pada waktu umat Allah menjadi sebuah negara bangsa."[72] Pada bab yang mengulas Kejadian 2 (dijuduli "Hakikat Perkawinan dan Karunia Seks") di dalam bukunya, Tremper Longman III mengemukakan bahwa "seks adalah karunia Allah bagi pasangan suami-istri";[73] Oleh sebab itu, tindakan-tindakan Yusuf menunjukkan sikap hormat terhadap perkawinan Potifar, kendati pada hakikatnya didorong oleh ketaatan kepada Yahweh, Sang Khalik sarwa sekalian alam.
Pengalaman Yusuf, yakni pelecehan, dakwaan palsu, dan pemenjaraan, sebelum akhirnya dibebaskan dan dihormati, lazim dipandang sebagai salah satu 'tipe' Kristus (lih. Tipologi (teologi)),[74] dan bagi Tremper Longman III, menunjukkan pokok pikiran utama dari seluruh riwayat hidup Yusuf (selanjutnya), yaitu "Allah berkuasa mendatangkan keselamatan, bahkan lewat perbuatan jahat pihak-pihak yang hendak mencelakai umat Allah".[75]
Bilangan 31

Lalu pergilah Musa dan imam Eleazar dan semua pemimpin umat itu sampai ke luar tempat perkemahan untuk menyongsong mereka. Maka gusarlah Musa kepada para pemimpin tentara itu, kepada para kepala pasukan seribu dan para kepala pasukan seratus, yang pulang dari peperangan, dan Musa berkata kepada mereka: "Kamu biarkankah semua perempuan hidup? Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN. Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu.
Nas ini telah ditafsirkan sebagai nas yang menjadikan pemerkosaan sebagai 'suatu praktik normatif dalam perang'.[77] Rabi dan sarjana Shaye J. D. Cohen (di dalam bukunya yang terbit tahun 1999) mengemukakan bahwa "implikasi-implikasi nas bilangan 31:17-18 tidaklah taksa [...] dapat dipastikan bahwa bagimu berarti para pejuang Israel boleh 'memanfaatkan' perawan-perawan tawanan mereka secara seksual". Ia menambahkan pula bahwa Shimon bar Yochai memahami nas itu 'dengan benar'. Di lain pihak, dia menunjukkan bahwa ulasan-ulasan para rabi lain, misalnya Qidusyin B. dan Qidusyin Y. serta Yevamot mengatakan "bahwa bagimu artinya 'sebagai hamba-sahaya.' Para apolog terkemudian, baik Yahudi maupun Kristen, mengadopsi tafsir yang terakhir."[78] Selain itu, di dalam nas Bilangan 31:19, orang-orang Israel yang ikut berperang diperintahkan untuk segera menahirkan diri maupun hasil jarahannya, termasuk para tawanan, sehingga mereka ingat akan betapa "merusaknya" kematian itu.[79]
Ulangan
Templat:Kekristenan dan gender
Ulangan 20
Nas Ulangan 20:14 mengindikasikan bahwa semua tawanan perempuan dan kanak-kanak menjadi budak:[80]
Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan. (Ulangan 20:14)[81]
Dalam kajian hak-hak asasi manusia terkait kekerasan seksual pada masa perang yang mereka lakukan, Kennedy‐Pipe & Stanley (tahun 2000) merujuk nas Ulangan 20:14 dalam pernyataannya bahwa: 'dukungan terhadap tindakan pemerkosaan pada masa perang menjadi hal yang lumrah sepanjang sejarah Timur Dekat kuno dan dibuktikan oleh Alkitab Ibrani: perempuan kerap digambarkan sebagai objek yang dimiliki dan dikendalikan oleh laki-laki. Rejukan-rujukan Alkitabiah jelas0jelas mengilustrasikan hal ini dalam kaitannya dengan perlakuan terhadap perempuan pada masa perang, manakala mereka dianggap sebagai 'rampasan perang'.'[82]
Ulangan 21
Nas Ulangan 21:10–14 berbunyi:
Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan TUHAN, Allahmu, menyerahkan mereka ke dalam tanganmu dan engkau menjadikan mereka tawanan, dan engkau melihat di antara tawanan itu seorang perempuan yang elok, sehingga hatimu mengingini dia dan engkau mau mengambil dia menjadi isterimu, maka haruslah engkau membawa dia ke dalam rumahmu. Perempuan itu harus mencukur rambutnya, memotong kukunya, menanggalkan pakaian yang dipakainya pada waktu ditawan, dan tinggal di rumahmu untuk menangisi ibu bapanya sebulan lamanya. Sesudah demikian, bolehlah engkau menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi isterimu. Apabila engkau tidak suka lagi kepadanya, maka haruslah engkau membiarkan dia pergi sesuka hatinya; tidak boleh sekali-kali engkau menjual dia dengan bayaran uang; tidak boleh engkau memperlakukan dia sebagai budak, sebab engkau telah memaksa dia. (Ulangan 21:10-14 TB)[83]
Nas ini dikelompokkan bersama hukum-hukum yang berkaitan dengan anak laki-laki dan warisan, shingga menyiratkan bahwa pokok pikiran utamanya adalah regulasi perkawinan dengan cara mentransformasi perempuan tawanan perang menjadi perempuan yang layak dikawini oleh laki-laki bangsa Israel, supaya anak-anak yang lahir dari rahimnya dapat dianggap sebagai anak-anak bangsa Israel yang sah. Caryn Reeder (tahun 2017) mengemukakan bahwa "dengan demikian masa tunggu satu bulan sebelum memeteraikan perkawinan menjadi semacam uji kehamilan primitif."[84]
Gagasan bahwa tawanan perempuan dirudapaksa, menurut Reeder, didukung oleh fakta bahwa dalam nas-nas seperti Yesaya 13:16 dan Zakharia 14:2, pengepungan memicu tindakan "menggagahi" perempuan.[84] M.I. Rey (tahun 2016) menunjukkan bahwa nas ini "menyajikan klausa perceraian untuk membuangnya (apabila tidak lagi memuaskan berahi) tanpa dibekali makanan, tempat bernanung, maupun dipulangkan kepada keluarganya... Dengan cara ini, tawanan perempuan asing diceraikan bukan lantaran pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh seorang istri (Israel/Ibrani), melainkan lantaran alasan-alasan yang berada di luar kendalinya."[85]
David Resnick (tahun 2004) memuji-muji nas ini sebagai ayat-ayat yang bernilai luhur, dan menyebutnya sebagai "legislasi pertama dalam sejarah umat manusia untuk melindungi perempuan-perempuan tawanan perang" dan "humanisme Alkitabiah universalis yang terbaik sebab berusaha menanggulangi skenario terburuk, yakni mengatur bagaimana seorang pria penakluk harus memperlakukan seorang perempuan liyan taklukan yang disukainya." Menurut David Resnick, pascakekalahan bangsa si perempuan dalam perang, menikah dengan pihak pemenang "mungkin saja adalah jalan terbaik bagi si perempuan untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingannya sendiri di tengah-tengah situasi politik dan sosial yang kacau-balau."[80] Menurut Kawashima (tahun 2011), dengan memperlakukan perempuan itu sebagai seorang istri alih-alih seorang budak, hukum mengupayakan ganti rugi lantaran si prajurit sudah "merusaknya" dengan kegagalannya mendapatkan restu ayah si perempuan, yang dimustahilkan oleh keadaan perang.[86]
Ulangan 22
Scholz (tahun 2021) mengemukakan bahwa nas Ulangan 22:25–29 'diakui secara luas sebagai legislasi pemerkosaan', sedangkan nas Ulangan 22:22–24 dan Ulangan 21:10–14 'lebih sering disanggah dan biasanya tidak disifatkan sebagai hukum yang berkenaan dengan pemerkosaan'.[87] Alkitab Terjemahan Baru menyajikannya sebagai berikut:
22. Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
23. Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan, jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia,
24. maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
25. Tetapi jikalau di padang laki-laki itu bertemu dengan gadis yang telah bertunangan itu, memaksa gadis itu tidur dengan dia, maka hanyalah laki-laki yang tidur dengan gadis itu yang harus mati,
26. tetapi gadis itu janganlah kauapa-apakan. Gadis itu tidak ada dosanya yang sepadan dengan hukuman mati, sebab perkara ini sama dengan perkara seseorang yang menyerang sesamanya manusia dan membunuhnya.
27. Sebab laki-laki itu bertemu dengan dia di padang; walaupun gadis yang bertunangan itu berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang datang menolongnya.
28. Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan,29. maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya, sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi. (Ulangan 22:22–29 TB)[88]
Kitab nabi-nabi
Zakharia 14
Kitab Zakharia mencitrakan Yahweh sebagai pembela dan pelindung Yerusalem, misalnya dalam nas Zakharia 2:9 dan Zakharia 9:8.[89] Peterson (1995) menulis sebagai berikut: 'di dalam ayat 8, sang penulis mengadopsi corak bahasa perkemahan militer untuk menyifatkan cara Yahweh hadir di Yerusalem dan melawan angkatan perang musuh mana pun'.[89] Kekecualian satu-satunya terdapat di dalam bab terakhir, Zakharia 14, di mana Yahweh dinubuatkan bakal menggerakkan segala bangsa maju memerangi Yerusalem, yang nantinya bakal dikepung sampai menyerah dam perempuan-perempuannya dirudapaksa.[89] Perubahan mendadak keberpihakan Yahweh dari pembela Yerusalem menjadi penyerang Yerusalem telah membingungkan para sarjana.[89] Boda (2004) berpendapat bahwa Zakharia 14 tidak mengindikasikan mengapa Yerusalem dijatuhi tindakan kekerasan tersebut, 'tetapi haruslah diasumsikan bahwa hal itu berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran warganya.'[89] Foster (2012) mengemukakan: 'Argumen saya adalah, bilamana mencermati diskursus keadilan di dalam Zakharia, kita dapati alasan yang tersaji di dalam seluruh Zakharia untuk penghakiman Yerusalem ini'. [...] '[B]ilamana rakyat gagal berlaku adil, penghakiman-penghakiman YHWH pada masa silam datang menimpa generasi kiwari, dengan peperangan, pengepungan, rudapaksa, dan pembuangan'.[89]
Sosok-sosok penginsanan ibu kota yang diancam dengan rudapaksa
Para sarjana sudah lama memafhumi bahwa banyak dari Nebiim atau kitab-kitab nubuat di dalam Alkitab Ibrani menampilkan Allah bani Israel, Yahweh, memaklumkan hukuman-Nya ke atas beberapa ibu kota (menggunakannya sebagai pars pro toto bagi negara yang berpusat padanya), menginsankannya menjadi sosok perempuan yang sudah melakukan berbagai macam dosa, sehingga menjadi "pelacur", "sundal", atau "pezina", dan oleh sebab itu layak dijatuhi berbagai macam hukuman, hampir selalu mencakup dirudapaksa.[90] Penghakiman dan hukuman tersebut biasanya terlaksana apabila kota yang bersangkutan dikepung dan ditaklukkan oleh prajurit-prajurit asing.[90]
| Sosok-sosok penginsanan ibu kota yang diancam dengan rudapaksa[91][92] | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Nas Alkitab | Perempuan, kaitan dengan Yahweh | Kota yang dituju | Negara yang diinsankan | Dosa yang dituduhkan | Hukuman | Penghukum |
| Yesaya 3 | Wanita-wanita Sion | Yerusalem | Kerajaan Yehuda | Sombong dan pongah | Dilecehkan dan dipermalukan di muka umum | Yahweh (Allah Israel) |
| Yesaya 13 | (Kesombongan & kepongahan orang Babel) | Babel | Kemaharajaan Babel Baru | Sombong dan pongah (pembuangan Babel?) | Pembunuhan, infantisida, rudapaksa, pembakaran bangunan | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Yesaya 23 | Anak dara sunti (Sidon) | Tirus, Sidon | Negara-negara kota Fenisia | Tamak, materialisme (kekayaan dari perdagangan) | Rudapaksa? Pembakaran bangunan | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Yesaya 47 | Anak dara sunti | Babel | Kemaharajaan Babel Baru | Pembuangan Babel | Sia-sia melawan, rudapaksa, dipermalukan di muka umum | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Yeremia 13 | - | Yerusalem | Kerajaan Yehuda | Sombong dan pongah | Rudapaksa, dipersalahkan lantaran menjadi korban | Yahweh (Allah Israel) |
| Ratapan 1 | Anak dara sunti Sion/Yehuda | Yerusalem | Kerajaan Yehuda | "Dosa-dosa", kalah perang (tahun 587 SM) | Rudapaksa? Dipermalukan di muka umum, penistaan tempat suci, pembauran budaya-budaya | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Ratapan 4 | Wanita-wanita Edom | - | Kerajaan Edom | "Kefasikan" (bertuan ke Babel tahun 605 SM?) | Dibuat mabuk dan dirudapaksa | Bala tentara asing / Yahweh |
| Yehezkiel 16 | Istri | Yerusalem | Kerajaan Yehuda | Tidak setia kepada suami, berbaur dengan budaya-budaya asing | Mutilasi, rudapaksa, dipermalukan di muka umum, pembunuhan, pembakaran bangunan | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Yehezkiel 23 | Ohola, istri | Samaria | Kerajaan Israel (Samaria) | Tidak setia kepada suami, berbaur dengan budaya-budaya asing | Mutilasi, rudapaksa, dipermalukan di muka umum, pembunuhan, pembakaran bangunan | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Yehezkiel 23 | Oholiba, istri | Yerusalem | Kerajaan Yehuda | Tidak setia kepada suami, berbaur dengan budaya-budaya asing | Mutilasi, rudapaksa, dipermalukan di muka umum, pembunuhan, pembakaran bangunan | Bala tentara asing (atas izin Yahweh) |
| Hosea 2 | Gomer, istri | - | Kerajaan Israel (Samaria) | Perselingkuhan, menyembah ilah-ilah lain | Dehidrasi, penawanan, pencurian, dipermalukan di muka umum, rudapaksa | Hosea / Yahweh |
| Nahum 3 | (musuh) | Niniwe | Kemaharajaan Asyur Baru | "Persundalan dan sihir" (pembuangan Asyur?) | Rudapaksa di muka umum, dipermalukan dan ditelantarkan, pembakaran bangunan | Yahweh (Allah Israel) |
Baca juga
- Hukum kawin dengan pemerkosa § Alkitab Ibrani
- Susana, tokoh Alkitab yang menjadi korban perundungan seksual
Keterangan
- ↑ 'Lalu warga-warga kota Gibea itu mendatangi aku dan mengepung rumah itu pada malam hari untuk menyerang aku. Mereka bermaksud membunuh aku, tetapi gundikku diperkosa mereka, sehingga mati.' (Hakim-Hakim 20:5 TB)
- ↑ 'Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia.' (2 Samuel 13:14 TB)
- ↑ Yaitu, di dalam Kejadian 34:3; Kejadian 50:21; Hakim-Hakim 19:3; 1 Samuel 1:13; 2 Samuel 19:8; Yesaya 40:2; Hosea 2:16; Rut 2;13; dan 2 Tawarikh 30:22; 32:6, menurut Georg Fischer (tahun 1984).
Referensi
- ↑ Scholz 2021, hlm. 19.
- ↑ Thomas Paine, 1794. "The Age of Reason, Bagian II, Bab 1". Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- 1 2 3 Prickett, Stephen (March 2019). "Bab 18 - The Bible". William Blake in Context. Cambridge University Press: 165–172. doi:10.1017/9781316534946.019. ISBN 9781316534946. S2CID 240910636. Diakses tanggal 20 Maret 2021.
- ↑ Watson, Richard (1797). An Apology for the Bible, in a series of letters, addressed to Thomas Paine, author of a book entitled, The Age of Reason. London: T. Evans. hlm. 26–27. Diakses tanggal 20 Maret 2021. (edisi ke-8)
- ↑ Scholz 2021, hlm. 21–22.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 19–20, 25.
- 1 2 Scholz 2021, hlm. 19–20.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 33–38.
- ↑ Elliot Freeman, Richard; Dolansky, Shawna (2011). The Bible Now. Oxford University Press. hlm. 94. ISBN 978-0-19-531163-1. Diakses tanggal 7 June 2016.
- ↑ Washington, Harold C. (1998). "'Lest he die in the battle and another man take her': Violence and the construction of gender in the laws of Deuteronomy 20–22". Gender and Law in the Hebrew Bible and the Ancient Near East. Sheffield Academic Press: 211. Diakses tanggal 27 Desember 2021.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 211.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 235.
- 1 2 3 4 Scholz 2021, hlm. 233.
- ↑ "מילון מורפיקס | ענה באנגלית | פירוש ענה בעברית". www.morfix.co.il. Diakses tanggal 12 Juni 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "6031. עָנָה (anah)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 28 Mei 2021.
- 1 2 Scholz 2021, hlm. 78.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Scholz 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "6231. עָשַׁק (ashaq)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "935. בּוֹא (bo)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 28 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "1540. גָּלָה (galah)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 223–234.
- ↑ George Wigram (1843). "5034a. nabal". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ "מילון מורפיקס | פתה באנגלית | פירוש פתה בעברית". www.morfix.co.il. Diakses tanggal 12 Juni 2021.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 119–120.
- ↑ George Wigram (1843). "6601. פָּתָה (pathah)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 1 Juni 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "חָזַק (chazaq)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 8 Juni 2021.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 237–240.
- ↑ George Wigram (1843). "7200. רָאָה (raah)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "7693. שָׁגַל (shagel)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "7901. שָׁכַב (shakab)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "5493. סוּר (sur or sur)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 29 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "2930. טָמֵא (tame)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 3 Juni 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "8610. taphas". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 15 November 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "6711. tsachaq". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 15 November 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "3045. יָדַע (yada)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "4904. מִשְׁכָּב (misykab)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 3 June 2021.
- ↑ "Numbers 31:18 Parallel". Biblehub.com. Diakses tanggal 3 Juni 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "2181. זָנָה (zanah)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 29 Mei 2021.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 231.
- 1 2 Scholz 2021, hlm. 232.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 215.
- ↑ George Wigram (1843). "6596. פּוֹת (poth)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "5039. נְבָלָה (nebalah)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "7036. קָלוֹן (qalon)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ George Wigram (1843). "7210. רֹ֫אּי (roi)". The Englishman's Hebrew and Chaldee Concordance to the Old Testament / Biblehub.com. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ Kugel, James L. (1998). Traditions of the Bible. Harvard University Press. hlm. 222. ISBN 9780674791510.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 34.
- ↑ Exum 2012, hlm. 484.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 482.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 77–78.
- ↑ Fuchs, Esther (2003). Sexual Politics in the Biblical Narrative: Reading the Hebrew Bible as a Woman. A&C Black. hlm. 209. ISBN 9780567042873. Diakses tanggal 10 Juli 2015.
- ↑ Lerner, Gerda (1986). The Creation of Patriarchy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 173. ISBN 9780195051858.
- ↑ "Genesis 34:2 Parallel". Biblehub.com. Diakses tanggal 3 Juni 2021.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 49–56.
- ↑ Bader (2006), hlm. 91
- ↑ Bader (2006), hlm. 92
- ↑ Yamada (2008), hlm. 45
- ↑ Scholz 2021, hlm. 53–54.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 54–55.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 55–56.
- ↑ Kejadian 34:7 TB
- ↑ Scholz (2000), hlmn. 168-169
- ↑ Scholz (2010), hlmn. 32-33
- ↑ Gruber, Mayer I. (1999). "A Re-examination of the Charges against Shechem son of Hamor". Beit Mikra (dalam bahasa Ibrani) (157): 119–127.
- ↑ Scholz (2000), hlm. 168
- ↑ Visotzky, Burton L. (2010). The Genesis of Ethics: How the Tormented Family of Genesis Leads Us to Moral Development. Harmony/Rodale. hlm. 247. ISBN 9780307556318. Diakses tanggal 30 Mei 2021.
- ↑ Rapoport, hlmn. 103-104
- ↑ Rapoport, hlm. 104
- ↑ Rapoport (2011), hlmn. 127-128
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 McKinlay, Judith (1 September 1995). "Potiphar's Wife in Conversation". Feminist Theology. 4 (10). SAGE Publishing: 69–80. doi:10.1177/096673509500001007. S2CID 144070141. Diakses tanggal 26 Mei 2021.
- ↑ The Holy Bible: New Revised Standard Version. Nashville: Thomas Nelson Publishers. 1989.
- ↑ Longman III, Tremper (2016). Genesis. Grand Rapids, MI: Zondervan. hlm. 480.
- ↑ Longman III, hlm.55
- ↑ "Seeing Joseph as a Type of Christ | BJU Seminary". seminary.bju.edu. Diakses tanggal 11 Agustus 2024.
- ↑ Longman III, hlm.497
- ↑ "Numbers 31 (New International Version)". Biblehub.com. Diakses tanggal 17 Desember 2021.
- ↑ Gafney, Wil (15 January 2013). "God, the Bible, and Rape". The Huffington Post. Diakses tanggal 17 Desember 2021.
- ↑ Cohen, Shaye J. D. (1999). The Beginnings of Jewishness: Boundaries, Varieties, Uncertainties. Berkeley, California: University of California Press. hlm. 255–256. ISBN 9780520926271. Diakses tanggal 20 Maret 2021.
- ↑ "Numbers 31:19 Dr. Constable's Expository Notes". StudyLight.org.
- 1 2 Resnick, David (1 September 2004). "A case study in Jewish moral education: (non-)rape of the beautiful captive". Journal of Moral Education. 33 (3): 307–319. doi:10.1080/0305724042000733073. S2CID 216113889.
- ↑ "Ulangan 20 (Terjemahan Baru)". Alkitab.sabda.org. Diakses tanggal 08 Februari 2021.
- ↑ Kennedy-Pipe, Caroline; Stanley, Penny (2000). "Rape in war: Lessons of the Balkan conflicts in the 1990s". The International Journal of Human Rights. 4 (3–4). Taylor and Francis: 68. doi:10.1080/13642980008406893. S2CID 145485960. Diakses tanggal 14 November 2021.
- ↑ "Ulangan 21 (Terjemahan Baru)". alkitab.sabda.org. Diakses tanggal 09 Februari 2021.
- 1 2 Reeder, Caryn A. (March 2017). "Deuteronomy 21.10–14 and/as Wartime Rape". Journal for the Study of the Old Testament (dalam bahasa Inggris). 41 (3): 313–336. doi:10.1177/0309089216661171. ISSN 0309-0892. S2CID 172022884.
- ↑ Rey, M. I. (2016). "Reexamination of the Foreign Female Captive: Deuteronomy 21:10–14 as a Case of Genocidal Rape". Journal of Feminist Studies in Religion. 32 (1): 37–53. doi:10.2979/jfemistudreli.32.1.04. S2CID 147056628.
- ↑ Kawashima, Robert S (2011). "Could a Woman Say "No" in Biblical Israel? On the Genealogy of Legal Status in Biblical Law and Literature". AJS Review. 35 (1): 1–22. doi:10.1017/S0364009411000055. S2CID 162579933.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 132.
- ↑ "Ulangan 22 (Alkitab Terjemahan Baru)". Alkitab.sabda.org. Diakses tanggal 14 April 2026.
- 1 2 3 4 5 6 Foster, Robert (2012). "Undoing the Future: The Theology of the Book of Zechariah*". Horizons in Biblical Theology. 34 (1). Brill: 59–72. doi:10.1163/187122012X602530. Diakses tanggal 15 November 2021.
- 1 2 Scholz 2021, hlm. 214–235.
- ↑ Scholz 2021, hlm. 116–123, 214–235.
- ↑
Sumber kutipan
- Anderson, Cheryl (2009). Ancient Laws and Contemporary Controversies: The Need for Inclusive Bible Interpretation. Oxford, United Kingdom: Oxford University Press. hlm. 3. ISBN 978-0195305500. Diakses tanggal 25 Mei 2015.
- Bader, Mary Anna (2006). Sexual Violation in the Hebrew Bible: A Multi-Methodological Study of Genesis 34 and 2 Samuel 13. New York: Peter Lang. ISBN 978-0-8204-7873-9.
- Cooper-White, Pamela (2012) [1995]. The Cry of Tamar: Violence Against Women and the Church's Response (Edisi 2nd). Minneapolis, MN: Fortress Press. ISBN 978-0-8006-9734-1. Diakses tanggal 1 Juni 2015.
- Exum, J. Cheryl (2012). "Toward a Genuine Dialogue Between the Bible and Art". Congress Volume Helsinki 2010. Leiden: Brill. hlm. 473–503. ISBN 978-90-04-22113-0. Diakses tanggal 11 Juni 2024.
- Rapoport, Sandra (2011). Biblical Seductions: Six Stories Retold Based on Talmud and Midrash. Kota Jersey, NJ: KTAV Publishing House. ISBN 978-1-60280-154-7.
- Scholz, Susanne (2000). Rape Plots: A Feminist Cultural Study of Genesis 34. New York: Peter Lang. ISBN 978-0-8204-4154-2. Diakses tanggal 2 Juni 2015.
- Scholz, Susanne (2010). Sacred Witness: Rape in the Hebrew Bible. Minneapolis, MN: Fortress Press. ISBN 978-0800638610.
- Scholz, Susanne (2021). Sacred Witness. Rape in the Hebrew Bible. Fortress Press. ISBN 9781506482033. (edisi E-buku)
- Trible, Phyllis (1984). Texts of Terror: Literary-Feminist Readings of Biblical Narratives. Minneapolis, MN: Fortress Press. hlm. 37–64. ISBN 978-0-8006-1537-6. Diakses tanggal 12 Mei 2015.
- Yamada, Frank M. (2008). Configurations of Rape in the Hebrew Bible: A Literary Analysis of Three Rape Narratives. New York: Peter Lang. ISBN 978-1433101670. ASIN 143310167X.
| Selayang pandang | ||
|---|---|---|
| Topik | ||
| Alkitab Ibrani | ||
| Alkitab Kristen | ||