Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kashiwazaki-Kariwa
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kashiwazaki-Kariwa (柏崎刈羽原子力発電所, Kashiwazaki-Kariwa genshiryoku-hatsudensho; disingkat Kashiwazaki-Kariwa NPP) merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar dan modern di dunia. Fasilitas ini terletak area seluas sekitar 4,2 kilometer persegi (sekitar 1.000 acre) dan terletak di wilayah pesisir Laut Jepang, yang meliputi kota Kashiwazaki dan desa Kariwa di Prefektur Niigata, Jepang.[1] Pembangkit ini dimiliki dan dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO), serta dikenal sebagai kompleks pembangkit nuklir dengan kapasitas daya listrik bersih terbesar di dunia. Pembangkit ini juga menjadi lokasi reaktor air didih lanjut (Advanced Boiling Water Reactor atau ABWR) pertama di dunia.
Pada 16 Juli 2007, gempa bumi lepas pantai Chūetsu terjadi dengan episentrum berjarak sekitar 19 kilometer dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa di Prefektur Niigata, Jepang. Gempa tersebut memiliki magnitudo 6,6 Mw dan termasuk salah satu gempa terkuat yang pernah tercatat di sekitar fasilitas nuklir di dunia. Guncangan yang ditimbulkan melebihi batas ketahanan seismik yang dirancang untuk pembangkit, sehingga seluruh kegiatan operasional dihentikan guna melaksanakan inspeksi menyeluruh terhadap struktur dan sistem keselamatan.[2][3]
Hasil evaluasi menunjukkan perlunya peningkatan sistem ketahanan gempa sebelum reaktor dapat kembali dioperasikan. Seluruh unit reaktor dihentikan selama 21 bulan pascagempa. Setelah dilakukan perbaikan dan peningkatan standar seismik, Unit 7 menjadi reaktor pertama yang kembali beroperasi pada 19 Mei 2009,[4] diikuti oleh Unit 1, Unit 5, dan Unit 6. Sementara itu, Unit 2, Unit 3, dan Unit 4 belum sempat diaktifkan kembali sebelum terjadinya gempa bumi besar dan tsunami pada 11 Maret 2011.[5][6]
Empat unit yang sedang beroperasi pada saat itu tidak mengalami kerusakan berarti akibat bencana tahun 2011, namun seluruh reaktor kembali dihentikan sebagai langkah pencegahan untuk melaksanakan peningkatan sistem keselamatan sesuai standar pasca-insiden Fukushima Daiichi. Pada tahun 2017, Otoritas Regulasi Nuklir Jepang (Nuclear Regulation Authority/NRA) memberikan izin kepada Tokyo Electric Power Company (TEPCO) untuk mengoperasikan kembali Unit 6 dan Unit 7, setelah keduanya dinilai memenuhi persyaratan keselamatan yang diperbarui.[7]
Hingga tahun 2023, seluruh unit reaktor di kompleks tersebut masih dalam kondisi tidak beroperasi. Pada Desember 2023, NRA menyetujui pengisian ulang bahan bakar nuklir di PLTN Kashiwazaki-Kariwa setelah menilai adanya peningkatan signifikan dalam sistem manajemen keselamatan dan keamanan fasilitas.[8][9]
Reaktor
Kompleks Kashiwazaki-Kariwa memiliki tujuh unit reaktor yang tersebar di sepanjang garis pantai. Penomoran dimulai dari Unit 1 di sisi selatan hingga Unit 4, dengan area hijau yang cukup luas memisahkan Unit 4 dari kelompok berikutnya yang terdiri atas Unit 7, 6, dan 5.
Pengoperasian satu kompleks pembangkit berukuran besar yang terdiri atas sejumlah reaktor memberikan beberapa keuntungan ekonomi. Salah satu keuntungan tersebut adalah terbatasnya dampak penghentian sementara satu reaktor untuk pengisian ulang bahan bakar, karena ketidakaktifan satu unit hanya berpengaruh kecil terhadap produksi daya total. Riwayat produksi listrik fasilitas ini menunjukkan transisi operasional yang stabil hingga masa penyelesaian dua unit terakhir. Pada November 2025, Gubernur Niigata Hideyo Hanazumi, menyatakan kesediaannya untuk memberikan izin pengoperasian kembali Reaktor No. 6.[11][12] Majelis daerah di Prefektur Niigata dijadwalkan memberikan suara sebelum 22 Desember 2025 mengenai rencana pengoperasian kembali sebagian Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki–Kariwa,[13] Tokyo Electric Power Company (TEPCO) merencanakan pengaktifan kembali Unit 6 berkapasitas 1.356 megawatt pada Januari 2026, dengan catatan rencana tersebut memperoleh persetujuan melalui pemungutan suara majelis.[14]