Ikan asin peda ditemukan dengan tidak sengaja saat pengangkutan ikan dari Thailand ke Indonesia.[2] Ikan yang diangkut digarami untuk memperpanjang umur simpan ikan-ikan tersebut. Namun, karena ikan-ikan tersebut belum benar-benar kering, penggaraman tersebut bereaksi dan membuat ikan berfermentasi. Hal ini diketahui saat ikan-ikan tersebut dibuka di Indonesia dan mengeluarkan aroma yang khas. Ikan-ikan yang terfermentasi tersebut lalu dinamakan dengan Pedah Siam.[2]
Proses fermentasi ikan peda biasanya baik dilakukan dalam kadar garam 20% sampai 30%.[2] Proses fermentasi ini sendiri tidak menggunakan bakteri pemulai dan lebih mengutamakan bantuan enzim atau mikroorganisme yang ada di sekitar ikan atau dari ikan itu sendiri.[4]
Untuk mendapat hasil yang ideal, proses fermentasi ikan peda perlu dilakukan dalam beberapa parameter.[2] Misalnya, kadarair ikan harus berada pada angka 44% hingga 47%, kadar lemak sekitar 7% hingga 14%, kadar garam sekitar 15% sampai 17%, dan kandungan protein sekitar 21% hingga 22%.
Proses fermentasi ini biasanya dilakukan selama satu hingga dua minggu untuk mendapatkan rasa yang tidak begitu tajam. Proses penggaraman selama fermentasi dapat dibagi menjadi dua kali.[5] Misalnya, penggaraman dilakukan di awal. Lalu, saat sudah 7 hari fermentasi, dilakukan kembali penggaraman kedua.
Penghidangan
Kadar garam yang tinggi dan proses fermentasi saat proses pembuatan ikan peda membuatnya memiliki rasa yang asin. Oleh karena itu, ikan peda biasanya disajikan sebagai lauk pelengkap atau pendamping.[2] Kebanyakan ikan peda dimasak dengan cara digoreng lalu ditumis.[2][4]