NATO dibentuk pada awal Perang Dingin dan mengakui kekuatan nuklir Amerika Serikat sebagai bagian utama yang mempertahankan Eropa Barat dari potensi serangan Soviet. Sebagian besar negara Eropa non-Komunis bergabung dengan NATO, sedangkan sisanya (Irlandia, Swiss, Austria, Swedia, Finlandia) mempertahankan posisi netral. Swedia dan Swiss sempat berencana mengembangkan senjata nuklirnya sendiri, tetapi tidak jadi.
Prancis mengembangkan force de frappe nuklir dan keluar dari struktur komando NATO tetapi masih bersekutu dengan negara-negara Barat lainnya. Konsep "berbagi nuklir" diciptakan untuk mencegah proliferasi nuklir independen oleh negara-negara Barat. Prancis bergabung lagi dengan komando militer gabungan NATO pada tanggal 4 April 2009.
Setelah Perang Dingin berakhir, banyak negara-negara Eropa Tengah dan Timur yang bergabung dengan NATO walaupun tujuan utama NATO (mencegah pengaruh Uni Soviet) sudah tidak berlaku lagi. Sejumlah pihak menolak perluasan NATO karena sifatnya provokatif terhadap Rusia.[3]
Pertahanan rudal
Pertahanan rudal akan menjadi "payung" alternatif melawan serangan nuklir. Ini bukan versi konvensional dari "payung nuklir". Pertahanan rudal merupakan istilah retoris yang lebih mengutamakan pertahanan aktif daripada deterensi nuklir karena "payung nuklir" konvensional cenderung bergantung pada deterensi.[4]