Deskripsi etnomatematika
Etnomatematika adalah kajian ilmu yang menjembatani matematika dengan kebudayaan, yang pada fokusnya berusaha untuk mencari benang merah antara matematika, ilmu budaya, dan sosial. Deskripsi pada bagian bawah dikutip dari penelitian Muslim & Prabawati (2020).
Landasan teoretis
Dalam pembuatan payung geulis, aktivitas matematika dapat dengan jelas terlihat, di antaranya seperti pada proses pengukuran dan pembuatan pola. Pengukuran dilakukan dalam tahap membuat kerangka dan rusuk payung. Pada saat menentukan jarak antara rusuk payung, baik itu rusuk dalam maupun rusuk luar, perajin perlu mengacu pada prinsip kekonsistenan, artinya jaraknya harus selalu sama, sehingga harus dilakukan perkiraaan dan perhitungan terlebih dahulu. Konsep matematika yang terkandung dalam pembuatan payung geulis utamanya adalah geometri, di antaranya adalah geometri bangun datar, geometri bangun ruang, geometri transformasi (refleksi, translasi, dan rotasi), dan kekongruenan.
Geometri bangun datar
Bangun datar yang digunakan dalam payung geulis adalah lingkaran, sebagai kerangka kanopi payung. Sebelumnya, perajin akan menentukan diameter dan jari-jari. Setelah itu, barulah bangun datar lingkaran dibuat dengan ukuran tertentu. Biasanya, diameter payung geulis berukuran 66 cm dengan jumlah rusuk payung sebanyak 20-22 buah. Selain itu, ukuran diameter payung geulis juga dapat dibuat lebih beragam, ada yang 33 cm hingga 1,5m, disesuaikan dengan kebutuhan.
Geometri bangun ruang
Bangun ruang yang digunakan dalam payung geulis adalah kerucut dan tabung.
Kerucut
Bangun ruang kerucut (bahasa Sunda: congcot) terdapat pada kerangka perenggang (stretcher) sekaligus penyangga payung. Kerucut yang terbentuk tidak memiliki selimut dan alas. Jumlah yang dihasilkan adalah sama dengan jumlah rusuk pada kanopi payung (misalnya 20-22 seperti pada bagian di atas).
Tabung
Bangun ruang tabung terdapat pada gagang payung. Tabung yang terbentuk berupa bangun ruang padat (pejal). Tujuan penerapan tabung adalah untuk mempermudah pemakaian payung.
Simetri
Payung geulis menggunakan konsep simetri, maksudnya adalah ketika motif payung geulis dibuat, pembuatan sketsanya langsung dibuat saat kain atau kertas telah terpasang pada kerangka payung.
Selain menggunakan konsep simetri, pembuatan motif payung geulis juga dapat menerapkan konsep refleksi. Sketsa motif hanya perlu dibuat pada bagian tertentu, misal di sebelah kanan, bawah, atau posisi lainnya. Setelah diterapkan konsep refleksi, maka akan diperoleh motif secara utuh. Sifat refleksi yang terdapat pada payung geulis adalah refleksi terhadap sumbu-x.
Pencerminan terhadap sumbu
, dengan matriks pencerminan 
Kekongruenan
Selain menggunakan konsep simetri, refleksi, dan rotasi, pembuatan motif payung juga dapat menerapkan konsep kongruen. Artinya, sketsa yang telah digambarkan dapat diberikan berbagai tindakan, seperti dicerminkan, digeser, atau diputar, sehingga nantinya akan didapatkan ukuran dan bentuk yang sama seperti semula.
Jenis dan ukuran payung geulis
| Jenis ukuran payung |
Diameter |
Lingkaran |
Kerucut |
Tinggi gagang |
| Jumlah rusuk payung |
Jumlah segitiga |
| Kecil |
55 cm |
18 |
18 |
40–50 cm |
| Sedang |
66 cm |
20 |
20 |
60 cm |
| Standar |
84 cm |
20 dan 22 |
20 dan 22 |
75 cm |