Pasir Kemilu merupakan salah satu desa di kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Pada awalnya, Desa Pasir Kemilu bernama Desa Lubuk Tangguk yang dipimpin oleh Kepala Desa bernama Sa’at. Akhir dari kepemimpinan Sa’at pada 1979 merupakan awal perubahan Desa Lubuk Tangguk menjadi Desa Pasir Kemilu. Asal nama ini diambil dari banyaknya pasir yang terdapat di desa ini, karena Pasir Kemilu berada di pinggir Sungai Indragiri.
Desa Pasir Kemilu (Paskem) terbentuk tahun 1962, yang terdiri dari 5 dusun dengan 3.626 jiwa.
Pada kepemimpinan Kepala Desa (Kades) Sulaiman Said, kondisi ekonomi, pendidikan, serta pertumbuhan masyarakat makin baik. Akhir 2019, (Paskem) dipimpin oleh Sutiar, program utamanya meningkat keamanan.
Sebagai sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah nelayan.
Paskem saat ini dipimpin Dedy Roni ST, dia bertekad mewujudkan masyarakat yang agamis, maju, mandiri sehat dan sejahtera. Caranya, memaksimalkan pemanfaatan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) . Pengolahan bijak terhadap SDA merupakan kunci dalam mencapai kesejahteraan masyarakat.
Desa Paskem kaya akan warisan budaya yang meliputi tarian, adat istiadat, dan permainan tradisional, yang mencerminkan identitas dan sejarah komunitas lokal. Namun, modernisasi telah menyebabkan penurunan minat terhadap tradisi ini, terutama di kalangan generasi muda. Tanpa upaya serius untuk melestarikan budaya lokal, identitas budaya desa ini berisiko memudar.
Salah satu tradisi di Paskem adalaah Upacara Kenduri Kampung, biasanya dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur serta doa bersama untuk keselamatan desa. Tepuk tepung tawar, merupakan ritual adat yang digunakan pada pernikahan, khitanan, dan penyambutan tamu kehormatan. Sementara itu, tradisi gotong royong adat dijalankan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mempererat hubungan antar warga.
Umumnya di desa tersebut, masyarakat menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini digunakan ketika berbincang, bermusyawarah, dan berinteraksi antara sesama warga. Penggunaan bahasa Melayu menunjukkan rasa kebersamaan dan memudahkan komunikasi agar tidak terjadi salah faham. Selain itu, bahasa ini juga mencerminkan identiti dan budaya masyarakat desa yang masih kuat menjaga adat serta nilai-nilai sopan santun dalam berbicara.Bila berbicara dengan orang yang lebih tua, kita hendaklah beradab dan menggunakan panggilan hormat seperti pakcik, makcik, atau abang.
Saat musim kemarau, masyarakat di desa saya biasa mengambil air dari sumur atau sungai untuk menyiram tanaman agar tidak layu. Pada hari Jumat, sebagian warga beristirahat lebih awal dari ladang agar bisa menunaikan salat Jumat bersama.
Ada organisasi di desa seperti Posyandu, lembaga pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa yang dikelola oleh kader masyarakat dengan pembinaan dari Puskesmas. Layanan utamanya meliputi pemantauan gizi balita, imunisasi, pemeriksaan ibu hamil, serta penyuluhan kesehatan. Posyandu berperan penting dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta memperluas jangkauan layanan kesehatan pemerintah di masyarakat.
Pembangunan Posyandu di Desa, didirikan karena fasilitas kesehatan sebelumnya hanya menumpang di rumah warga, menyebabkan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, balita, dan lansia menjadi tidak maksimal. Setelah pembangunan, Posyandu kini memiliki fasilitas yang lengkap, termasuk ruang timbang dan konsultasi, sehingga pelayanan kesehatan lebih tertata dan rutin. Hal ini menghasilkan peningkatan jumlah kunjungan ibu dan membuat program pencegahan stunting menjadi jauh lebih efektif di desa tersebut.
Ada usaha tani yang menarik di desa seperti budidaya sayuran dalam pot (container gardening) adalah metode tanam yang memanfaatkan pot atau wadah alih-alih tanah langsung. Praktik ini merupakan bagian penting dari Pertanian Urban (Urban Farming), yang populer di lahan terbatas. Keunggulannya meliputi pengendalian media tanam dan mobilitas wadah, serta menjadi solusi efektif untuk ketahanan pangan keluarga. Sayuran yang umum ditanam adalah jenis berdaun (selada, bayam) dan sayuran buah (cabai, tomat), di mana keberhasilannya ditentukan oleh ukuran pot yang sesuai, drainase baik, dan paparan sinar matahari yang cukup.
Perubahan yang ada di desa seperti dalam pertanian desa saat ini, di mana fokus produksi bergeser dari monokultur menuju penanaman komoditas bernilai ekonomi tinggi, budidaya lahan terbatas (urban farming), hingga integrasi ternak dan ikan melalui sistem minapadi. Perubahan ini juga dipicu oleh penyusutan lahan sawah akibat tekanan pembangunan, yang membuat petani menggunakan metode tanam yang lebih efisien dan intensif. Untuk mendukung efisiensi ini, terjadi peningkatan signifikan dalam Penggunaan Teknologi Pertanian, termasuk pengenalan alat modern seperti traktor mini dan drone untuk pemetaan, serta peralihan menuju praktik yang lebih berkelanjutan dengan memanfaatkan pupuk organik.
Beberapa warga desa umumnya pindah ke daerah lain, terutama ke kota, didorong oleh faktor ekonomi—mencari peluang kerja dan gaji yang lebih tinggi—serta mencari akses pendidikan dan fasilitas yang lebih baik. Perpindahan ini menyisakan rumah yang kondisinya bervariasi; beberapa tetap terawat karena dihuni kerabat, sementara banyak lainnya menjadi rumah kosong yang kurang terawat, namun dipertahankan sebagai aset. Warga setempat memiliki persepsi ganda: mereka yang sukses dan mengirimkan uang kiriman dipandang sebagai Pahlawan Keluarga yang dihormati, sementara mereka yang lupa diri atau gagal di perantauan sering menjadi sasaran kritik oleh warga setempat.
Data demografi Desa Pasir Kemilu menurut survei pada akhir 2019 diikuti oleh luas wilayah seluas 3700 Ha.
2. Batas Wilayah
No
Batas
Wilayah
1
Utara
Berbatasan dengan Sungai Indragiri
2
Selatan
Berbatasan dengan Desa Sungai Beringin
3
Barat
Berbatasan dengan Kelurahan Sekip Hilir
4
Timur
Berbatasan dengan Desa Sungai Beringin
3. Titik Koordinat
No
Koordinat
Titik
1
Bujur
102.583439
2
Lintang
-0.462155
4. Ketinggian
Ketinggian di atas permukaan laut: 10.2 M.
5. Iklim
Kemarau
Penghujan
6. Orbitasi Jarak Desa
1
Ke Ibu Kota Kecamatan
2 KM
13 Menit
2
Ke Ibu Kota Kabupaten
30 KM
40 Menit
Penduduk
Jumlah Penduduk (2019)
Laki-laki
2384 Orang
Perempuan
2398 Orang
Jumlah KK
1269 KK
Data demografi Desa Paskem menurut survei pada akhir 2019 memiliki wlilayah seluas 3700 Ha, dengan jumlah penduduk 4782 orang dengan 1269 KK. Batas wilayah Sebelah Utaranya adalah Sungai Indragiri, Sebelah Selatannya Desa Sungai Beringin, Sebelah Baratnya adalah Kelurahan Sekip Hilir, dan Sebelah Timurnya Desa Sungai Beringin.
Mayoritas penduduk Desa Pasir Kemilu berasal dari Suku Melayu, diikuti suku Jawa dan minoritas lainnya. Di antara berbagai perbedaan, penduduknya tetap hidup dengan musyawarah mufakat, gotong royong, serta kearifan lokal untuk menghindari perselisihan dan tetap hidup dengan damai. Kondisi ekonomi rata-ratanya sedang, dengan pencaharian sebagai buruh harian lepas, wiraswasta, petani, pekebun, karyawan honorer, dan lain-lain. Desa Pasir Kemilu saat ini terdiri dari 6 dusun. Mayoritas penduduk Desa Pasir Kemilu memeluk agama Islam dengan jumlah pemeluk 4329 orang.