Pasaran (atau dalam istilah resminya disebut Pancawara) adalah sebuah siklus pekan yang terdiri dari lima hari dalam sistem Kalender Jawa dan penanggalan tradisional Nusantara lainnya (seperti Bali).[1] Kelima hari pasaran tersebut secara berurutan adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Sistem pasaran ini selalu disilangkan dengan siklus tujuh hari (saptawara), yakni Senin hingga Minggu, untuk menghasilkan siklus 35 hari yang disebut selapan. Pertemuan antara hari saptawara dan pancawara inilah yang membentuk Weton seseorang.
Etimologi dan Sejarah
Kata "pasaran" secara harfiah merujuk pada kata "pasar" (tempat bertemunya penjual dan pembeli). Penamaan ini dilatarbelakangi oleh sejarah perekonomian masyarakat Jawa pada zaman dahulu. Pada masa lampau, pasar-pasar tradisional di pedesaan tidak buka setiap hari, melainkan bergiliran (rotasi) dari satu desa ke desa lainnya berdasarkan siklus lima harian ini.[2]
Sebagai contoh, Pasar Legi di suatu daerah hanya akan beroperasi pada hari Legi, kemudian keesokan harinya para pedagang akan berpindah ke desa lain yang mengadakan Pasar Pahing, dan seterusnya hingga kembali lagi ke hari Legi.
Komponen, Neptu, dan Kosmologi
Dalam sistem filsafat dan Primbon Jawa, setiap hari pasaran memiliki nilai numerik yang disebut neptu, serta dikaitkan dengan arah mata angin, warna, dan elemen kosmis yang mencerminkan konsep Sedulur Papat Lima Pancer (empat arah kardinal dan satu pusat).[3]
Berikut adalah rincian dari kelima hari pasaran tersebut:
Legi (juga disebut Manis): Memiliki nilai neptu 5. Dipercaya berkedudukan di arah Timur (Wetan), dilambangkan dengan elemen udara dan warna putih.
Pahing (juga disebut Pait): Memiliki nilai neptu 9. Dipercaya berkedudukan di arah Selatan (Kidul), dilambangkan dengan elemen api dan warna merah.
Pon (juga disebut Petak): Memiliki nilai neptu 7. Dipercaya berkedudukan di arah Barat (Kulon), dilambangkan dengan elemen air dan warna kuning.
Wage (juga disebut Cemeng): Memiliki nilai neptu 4. Dipercaya berkedudukan di arah Utara (Lor), dilambangkan dengan elemen tanah/bumi dan warna hitam.
Kliwon (juga disebut Asih): Memiliki nilai neptu 8. Berkedudukan di Tengah (Pusat atau Pancer), dilambangkan dengan elemen eter (roh/sukma) dan warna campuran (mancawarna). Kliwon sering dianggap sebagai pasaran yang paling sakral.
Fungsi dalam Budaya Jawa
Selain berfungsi sebagai pengatur roda ekonomi pasar tradisional, siklus pasaran memiliki peranan spiritual dan sosial yang tinggi, di antaranya:
Penentuan Weton: Penjumlahan neptu hari (saptawara) dan pasaran digunakan untuk mengetahui karakter bawaan seseorang.
Petungan Jodho: Sangat penting dalam tradisi Salaki Rabi (pernikahan) untuk menghitung kecocokan nasib antara calon suami dan istri.
Hari Baik (Petungan Dina): Pemilihan hari untuk memulai masa tanam (pertanian), mendirikan rumah, atau menggelar hajatan.