Pusat Paroki Apo Kayan mencakup Desa Metulang dan Desa Long Ampung di Kecamatan Kayan Selatan, Malinau. Jumlah umat di pusat paroki (selain stasi) kurang lebih 300 jiwa, sebagian besar adalah Suku Kenyah Lepoq Jalan; umat terbanyak adalah di daerah Metulang. Di Metulang sudah ada Sekolah Dasar, SLTP dan SLTA swasta tetapi kurang memadai dan sangat sederhana; beberapa pemuda-pemudi yang dari keluarga berkecukupan bersekolah di Tarakan, Malinau, dan Samarinda.[2]
Pemilihan pusat paroki di daerah tersebut adalah karena berdekatan dengan Bandar Udara Long Ampung (Apo Kayan); merupakan yang terbaik, sudah beraspal, dibanding bandara perintis yang ada di daerah kecamatan Apo Kayan lainnya. Pesawat perintis adalah satu-satunya sarana transportasi yang sangat penting bagi masyarakat sekitar Apo Kayan, karena tidak ada jalan darat atau sungai, menuju kota Kabupaten Malinau, Tarakan, dan ibu kota PropinsiSamarinda untuk pelbagai kebutuhan sehari-hari seperti anak sekolah, garam, gula, orang sakit, dan lain-lain.[1]
Jumlah umat sekitar 500 orang; rata-rata dari Suku Kenyah, 1 orang suku jawa dan 2 orang suku dari NTT.
Perjalanan ditempuh dalam 45 menit berjalan kaki dan naik ches jika dari Stasi Agung Baru; namun jika dari Stasi Mahak kurang lebih 3 jam berjalan kaki dan naik ches 30 menit.
Umat yang menetap berjumlah 122 jiwa (33 KK) belum terhitung umat pendatang yang adalah karyawan perusahaan kayu. Penduduk asli adalah Suku Kenyah; pendatang sangat beragam ada Jawa, Banjarmasin, Bugis, NTT, Flores, Jawa Barat, dll.
Perjalanan jika dari Stasi Agung Baru dilakukan dengan naik ches daan kemudian jalan kaki selama 3 jam. Jika dari kota Samarinda, naik kapal feri di Sungai Mahakam sampai Stasi Batu Majang kemudian dilanjutkan naik kendaraan perusahaan kayu; dengan total waktu perjalanan jika lancar adalah 3 hari 2 malam.
Terdiri dari 2 Kepala Keluarga (KK); umat yang berdiam antara lain Suku Dayak Kenyah Lepog Tou, Suku Dayak Bahau, dan Toraja. Penambahan umat Katolik terjadi karena kedatangan pegawai pemerintahan yang bertugas di Long Nawang, misalnya bidan, mantri kesehatan, guru.
Perjalanan dari pusat paroki Apo Kayan ke Long Nawang ditempuh dengan perahu bermotor (ches) waktu tempuh kurang lebih 1 Jam, jalan kaki kurang lebih 4 jam,dan naik sepeda motor 1 jam.
Jumlah umat sekitar 200 jiwa dari Suku Kenyah Lepoq Tukung.
Perjalanan ke Stasi Sungai Barang dari pusat paroki memakan waktu setengah; sementara dari Stasi Lidung Payau kurang lebih 3 jam jalan kaki. Kendaraan dan ches tidak bisa digunakan karena jalanan yang sempit, berbukit terjal, dan melewati anak sungai dengan riam yang berbahaya.