Gereja Katolik di Tasikmalaya mulai berkembang sekitar tahun 1930-an, yakni pada masa revolusi.[1][2] Pada tanggal 19 Oktober 1930, berlangsung perkawinan yang dipimpin oleh seorang imam Ordo Salib Suci, yakni Pastor Antonius van Asseldonk. Pada 16 Februari 1931, terdapat sebuah gedung gereja di Tasikmalaya, yang merupakan bagian dari Paroki Garut. Perkembangan jumlah umat berlangsung sekitar tahun 1937, saat beberapa pegawai kebun karet tertarik dengan agama Katolik dan mulai menyelenggarakan misa.
Setelah beberapa peristiwa yang terjadi sekitar Kemerdekaan Indonesia, kegiataan keagamaan Katolik di Tasikmalaya baru kembali berkembang pada tahun 1947, dengan menggunakan rumah di Jalan Seladarma dan sebuah gedung Brigif TNI Angkatan Darat yang berada di Jalan Yudanegara. Pada masa ini, kehadiran TNI AD membantu imam dalam memberikan pelayanan kepada umat. Perayaan Ekaristi juga diselenggarakan secara berpindah di beberapa lokasi sekitar, sehingga masa-masa ini disebut juga sebagai 'Gereja Mengembara'.
Pada Juli 1954 berlangsung pembelian lahan sebuah sekolah di Jalan Kebon Tiwu. Gedung tersebut dirombak dan dibangun ulang, yang rampung pada tahun 1956. Sejak tahun 1955, Sekolah Yos Sudarso Tasikmalaya mulai menjalankan kegiatannya dan kegiatan gerejawi juga dilaksanakan di tempat yang sama. Kehidupan Gereja di Tasikmalaya memasuki fase Gereja Menetap hingga tahun 1965.
Pembangunan gedung gereja
Pada tahun 1965, berlangsung pembangunan gedung gereja dan pastoran di atas sebuah tanah yang berlokasi di Jalan Manonjaya (sekarang Jalan Sutisna Senjaya) Nomor 50, Tasikmalaya. Pembangunan ini diprakarsai oleh Pastor Van de Pool, OSC. Sebuah pernikahan tahun 1966 tercatat sudah menggunakan gedung gereja baru. Perayaan Ekaristi secara rutin diselenggarakan di lokasi ini, menggantikan lokasi lama di Sekolah Yos Sudarso.
Gedung gereja mengalami renovasi besar pada tahun 1994, yang ditandai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 29 September 1994 oleh Pastor Martin Sommers, O.S.C. Proses pembangunan bangunan gereja beserta seluruh gedung penunjang berlangsung selama 672 hari (96 minggu), mulai tanggal 29 September 1994 sampai dengan 31 Juli 1996.[3] Prasasti gedung gereja ditandatangani oleh Bupati Tasikmalaya Suljana W. Kusumah dan diresmikan penggunaannya serta diberkati oleh Uskup Bandung Alexander Djajasiswaja pada tanggal 7 Agustus 1996.
Pada tanggal 26 Desember 1996, satu hari setelah Hari Raya Natal dan merupakan peringatan Martir Pertama Santo Stefanus, terjadi peristiwa Kerusuhan Tasikmalaya. Gereja Hati Kudus Yesus yang baru beberapa waktu selesai direnovasi, menjadi salah satu objek yang dibakar oleh massa. Dalam rentang satu tahun, bangunan gereja dan sarana pendukung lainnya dapat dibangun kembali. Satu tahun kemudian, pihak gereja secara rutin menyelenggarakan kegiatan sosial, terutama berupa penjualan paket murah sembako.
Pada tahun 2015, R.D. Bernardus Jumiyana mendorong renovasi gedung sarana penunjang kegiatan umat paroki, termasuk penambahan akses, ruangan, fasilitas serta sarana lainnya. Merebaknya pandemi COVID-19 di Indonesia membuat gereja sempat menghentikan kegiatan peribadatan secara tatap muka, di mana misa 29 Maret 2020 menjadi Misa terakhir bersama umat, yang disusul dengan penerapan misa secara daring keesokan harinya. Misa dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru mulai diselenggarakan pada 1 Agustus 2020. Pada Maret 2021, Gereja Hati Kudus Yesus menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan vaksinasi Covid-19. Pada 5 April hingga 1 Agustus 2021, diselenggarakan gowes amal "Dare to Bike and Give" untuk menggalang dana bantuan pendidikan (beasiswa).
Imam
Sejumlah imam, baik imam diosesan Keuskupan Bandung maupun Ordo Salib Suci dan beberapa tarekat lainnya, telah silih berganti bertugas di Gereja Hati Kudus Yesus, Tasikmalaya. Para imam religius OSC bertugas sejak 1930 hingga 1993, dan dilanjutkan oleh para imam diosesan sejak tahun 1993 hingga kini.
Pastor vikaris dari imam diosesan Keuskupan Bandung
R.D. Haryopranoto (1996–1998)
R.D. Yustinus Hilman Pujiatmoko (1996–2000)
R.D. Thomas Sunarto
R.D. Cornellius A. Rudiyanto Bunawan (2002)
R.D. Agus Nindya Nicolas (2001)
R.D. Andreas Primo Rio
R.D. Stefanus Albertus Herry Nugroho (2009–2011)
R.D. Hermanus Sudarman (2010–2012)
R.D. Wilfred Haripahlawan Angkasa
R.D. Paulinus Widjaja
R.D. Yusuf Sukarna (sejak 2017)
R.D. Michael Gratia Sekundana (sejak 2021)
Bangunan dan fasilitas
Untuk menunjang kegiataan umat, maka dibangunlah komplek sarana prasarana. Sekitar tahun 1950-an, walaupun belum ada bangunan permanen, pastor paroki sudah memikirkan untuk mengadakan tempat atau ruangan agar umat dapat berkegiatan. Proses pembangunan komplek ini beriringan dengan pembangunan gedung utama gereja.
Melihat perkembangan umat yang cukup baik serta kegiatan-kegiatan yang lebih banyak, maka pengembangan komplek sarana prasarana dilakukan pada bulan Mei 2015, diprakarsai oleh R.D. Bernardus Jumiyana bersama tim pembangunan. Peresmian dan pemberkatan pembangunan gedung sarana dan prasarana berlangsung pada tanggal 22 Oktober 2017 oleh Uskup Bandung, Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
Pada bangunan utama terdapat gedung pastoran, aula, dan beberapa ruang pertemuan serta ruang doa. Selain itu terdapat juga ruang sekretariat, toko rohani, balai pengobatan, dan gedung serba guna.
Kompleks sarana dan prasarana
Bangunan utama gereja dan pelataran
Bangunan utama gereja dan Asrama Hati Kudus Yesus Tasikmalaya
Bangunan utama gereja
Bangunan utama gereja (2025)
Toko rohani
Di dalam bangunan gereja utama, terdapat sejumlah patung yang bermanfaat dalam pengembangan iman umat. Di sekitar panti imam, terdapat dua buah patung yakni Patung Bunda Maria dan juga Patung Hati Kudus Yesus. Terdapat juga sebuah patung Pieta yang diberkati pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 2 Juni 2013. Di dekat Taman Doa Bunda Hati Kudus Yesus, terdapat juga sebuah patung Hati Kudus Yesus.
Di samping bangunan utama gereja terdapat taman doa dan Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus. Gua Maria ini dibangun pada tahun 1997 dan sempat mengalami renovasi pada tahun 2012. Pasca renovasi, Gua Maria Bunda Hati Kudus diberkati pada Hari Raya Bunda Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, 8 Desember 2012, oleh Pastor Paroki Tasikmalaya, R.D. Yohanes a Cruce Kristiono Hartanto. Uskup PurwokertoJulianus Sunarka, S.J. juga memberkati Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus pada tanggal 17 Oktober 2013.
Taman doa dan Gua Maria sebelum renovasi (1997–2012)
Taman Doa dan Gua Maria Bunda Hati Kudus sejak tahun 2012
Gua Maria pada tahun 2025
Asrama Hati Kudus Yesus
Di sisi barat bangunan utama gereja, dibangun Asrama Hati Kudus Yesus pada penghujung tahun 2018. Uskup Bunjamin memberkati gedung tersebut pada tanggal 20 Juli 2019. Asrama HKY ini merupakan karya misioner dari Kongregasi Putri Bunda Hati Kudus (PBHK),[4] melalui pelayanan pendidikan dan juga turut serta bertanggung jawab dalam karya pelayanan paroki sejak 29 April 2019.
Peribadatan
Gereja Hati Kudus Yesus menyelenggarakan misa harian dan misa mingguan. Misa mingguan dilaksanakan tiga kali, yakni satu kali pada Sabtu sore dan dua kali pada Minggu pagi. Selain itu, terdapat juga misa pada Jumat pertama dalam setiap bulannya. Secara umum, liturgi diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia.
Bagian dalam gereja dari lantai dasar (2019)
Bagian dalam gereja dari lantai dasar (2025)
Bagian dalam gereja dari balkon (2025)
Panti imam (2025)
Altar gereja (2019)
Balkon (2025)
Tampak dalam dari balkon (2025)
Stasi
Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Tasikmalaya tidak hanya hadir di Kota Tasikmalaya, melainkan juga di daerah-daerah yang disebut stasi. Stasi-stasi yang termasuk dalam wilayah Paroki Tasikmalaya telah dirintis oleh para imam yang berkarya di wilayah Tasikmalaya. Benih-benih itu telah ditabur ketika mereka melayani para tentara yang bertugas di beberapa daerah sekitar, seperti Ciamis, Banjar, Banjarsari, Ciawi, Karangnunggal, Malangbong, dan Kabupaten Pangandaran.
Pada periode 1950 sampai dengan 1964, wilayah stasi meliputi daerah-daerah di mana terdapat tentara Katolik yang sedang bertugas. Stasi-stasi mulai bertambah ketika para pengikut Paguyuban Adat Cara-ciri Karuhun Urang (PACKU) menjadi Katolik. Pada pertengahan tahun 1960 tercatat 10 stasi yang masuk dalam wilayah Paroki Tasikmalaya. Dalam perkembangannya terdapat beberapa stasi yang tidak berkembang.
Pada tahun 2015, Stasi Santo Yohanes Pembaptis di Ciamis ditingkatkan statusnya menjadi Kuasi Paroki Ciamis. Dekret Pendirian Kuasi Paroki Santo Yohanes Pembaptis Ciamis ditandatangani oleh Uskup Bandung, Antonius Subianto Bunjamin, pada tanggal 29 Mei 2015. Setelah terbitnya dekret tersebut, berlangsung berbagai peralihan dari Paroki Tasikmalaya ke Kuasi Paroki Ciamis, termasuk wilayah gerejawinya yang juga meliputi Stasi Santo Filipus Banjar, Stasi Santo Willibrodus Langensari, dan Stasi Santo Andreas Pangandaran.
Hingga saat ini Paroki Tasikmalaya memiliki tiga buah stasi, yaitu Stasi Santa Vianney Cipatujah, Stasi Kristus Gapuraning Rahayu Ciawi, dan Stasi Santo Dismas, Nagaraherang.
Peta lokasi stasi (biru) terhadap lokasi gereja paroki (hijau muda).
Stasi Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya (SIMU tahun 2019)
Pada 21 September 1964 aliran Agama Djawa Sunda (ADS) membubarkan diri atas instruksi pimpinan Rama Pangeran Teja Buana Ali Basa Kusuma Diningrat, yang lebih dikenal sebagai Rama Panyipta, berpusat di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Para penganut ADS yang bertempat tinggal di Kampung Nagaraherang, desa Sukahening, kampung Sirnamanah dan Cipalegor, desa Kiarajangkung, dan kampung Karangmulya desa Sundakerta kemudian menjadi penganut agama Katolik dan Islam.
Perayaan ekaristi yang pertama diadakan pada tanggal 9 Mei 1965 di rumah umat. Pelayanan sosial bagi umat Stasi Nagaraherang dilakukan oleh para suster Penyelenggara Ilahi. Pada tahun 1970, dibangunlah sebuah kapel di lahan bekas peninggalan tempat semadi Rama Panyipta yang diberi nama Kapel Santo Dismas. Pada tanggal 30 September 1981, sebagian besar umat Katolik keluar dan masuk kembali ke aliran Paguyuban Adat Cara-ciri Karuhun Urang (PACKU).
Pada tanggal 26 April 1982, tempat ibadah dipindah ke Karangmulya Desa Sundakerta. Pada 9 Oktober 1999, sekitar bangunan kapel terjadi longsor berat, sehingga jalan lalu lintas masyarakat tergusur dan terputus habis di sekitar kapel sampai pada posisi fondasi bangunan. Hal tersebut membuat berpindahnya tempat peribadatan ke kampung Sirnamanah, desa Kiarajangkung sejak 22 Oktober 1999. Pada tanggal 28 November 1999, dibangun tempat ibadat yang representatif di sana. Untuk pembinaan iman anak, sebuah bangunan kecil didirikan atas usaha R.D. Y. S. Siswa Subrata. Pada tahun 2017 bangunan tempat ibadat direnovasi dan diberkati tahun 2018 oleh R.D. Bernardus Jumiyana.
Stasi Yesus Kristus Gapuraning Rahayu Ciawi
Berdirinya Gereja Kristus Raja Gapuraning Rahayu Stasi Ciawi dilatarbelakangi oleh adanya perpecahan yang terjadi dalam Agama Djawa Sunda (ADS).
Pada tahun 1964, penganut ADS yang ada di Ciawi melaksanakan apa yang diamanatkan oleh pemimpin tertinggi mereka, Rama Madrais, mengajukan diri untuk menjadi Katolik dan diperkenankan mengikuti pelajaran agama di sekolah Yos Sudarso Tasikmalaya. Pada tahun 1965–1967, umat Katolik Stasi Ciawi mengikuti perayaan ekaristi di Tasikmalaya. Pada bulan Mei 1967 setelah menjadi Katolik mereka berusaha untuk membangun tempat ibadat sendiri.
Pada tahun 1989 berlangsung pembelian bangunan yang akan digunakan sebagai tempat peribadatan. Pada tahun 1990, tempat ibadat sempat ditutup oleh Departemen Agama berkenaan dengan izin pembangunan dan penggunaan tempat ibadat, tetapi pada tahun 1992 diperbolehkan kembali untuk beribadat. Peristiwa "Tasik Kelabu" tahun 1996 juga meluas ke Ciawi dan akibatnya tempat ibadat Stasi Ciawi ikut dirusak.
Di antara para pastor yang bertugas, Pastor Agus Nindia Nikolas, Pr. adalah pastor yang paling intensif mendampingi umat Stasi Ciawi, terutama kegiatan pertanian organik. Sebagian besar wilayah Stasi Ciawi adalah pertanian sehingga sebagian besar umat selain bercocok tanam.
Stasi Ciawi terbagi menjadi 3 lingkungan, yakni Lingkungan 1 meliputi wilayah Kampung Balemanggu, Sanghiangteureup, Cihanjaro, Perum Sawati, Karang Asem, Nampong, Asem Kidul, Sela Kopi, Kudang Mulya, Motoran, Kaum Tengah, Sukahaji. Lingkungan 2 meliputi wilayah kampung Kaliminggir. Lingkungan 3 meliputi wilayah kampung Sigung dan Cipanjang.
Pada tahun 2017 bangunan tempat ibadah dan ruang pertemuan direnovasi dan diberkati tahun 2018 oleh Uskup Bandung, Antonius Subianto Bunjamin.
Stasi Santa Vianney Cipatujah
Stasi Cipatujah berbasis di Kecamatan Cipatujah yang terletak di pantai selatan kurang lebih 80 kilometer dari Kota Tasikmalaya. Agama Katolik mulai dikenal oleh masyarakat bersamaan dengan kedatangan para karyawan perkebunan karet yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Berdirinya Stasi Cipatujah dimulai oleh sekitar 50 orang menjadi penganut Katolik. Dari jumlah tersebut, hingga 2019 hanya terdapat sekitar 10 orang yang masih memegang teguh agama Katolik. Meski demikian, mereka tetap mendapatkan pelayanan dari pastor paroki setiap sebulan sekali.
Stasi Lintung Paku Cinutug
Stasi Lintung Paku terletak di daerah perbukitan. Masyarakat mengenal gereja Katolik dari sanak saudaranya yang beramai-ramai meninggalkan PACKU dan menyatakan diri menjadi penganut Katolik. Mula-mula ada sekitar 20 umat yang setia mengikuti ibadah. Maka pada tahun 1966 sejak penganut ADS bergabung, tempat ibadah dibangun di Lintung Paku. Pada tahun 1982 kapel di Lintung Paku dijual karena sebagian besar umat kembali menyatakan diri sebagai penganut PACKU. Data terakhir (2005) umat katolik di Lintung Paku tinggal 5 orang. Saat ini stasi tersebut telah non-aktif.
Umat
Berdasarkan pengalaman pengembaraan para pastor di tanah Sang Mutiara dari Priangan Timur ini, masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya begitu kuat dalam adat istiadat, budaya, dan kepercayaan. Menyadari kenyataan tersebut para pastor yang bekerja di Tasikmalaya dan sekitarnya harus penuh rasa, jangan sampai keluar ucap atau lahir dan tindakan yang dirasakan mengganggu kemurnian agama yang dianut warga setempat.
Melalui Hati Kudus Yesus dimana kekayaan hikmat dan pengetahuan tersembunyi, para gembala (baca: Pastor) dimampukan dalam pengembaraannya di Tasikmalaya, mewartakan kasih Allah di tengah masyarakat. Hati dapat dianalogikan sebagai rasa dan batin, tugas perutusan di tanah baru bukanlah hal yang mudah diperlukan keluasan hati dan kedalaman batin dalam tuntunan Roh Kudus.
Keberadaan lingkungan sebagai komunitas sudah ada seiring dengan perkembangan paroki itu sendiri. Lingkungan terus menerus berkembang dan dimekarkan, sehingga di tahun 2019 telah terbentuk 15 lingkungan. Dengan banyaknya komunitas lingkungan ini diharapkan semua umat bisa terlibat sesuai kewajiban dan haknya sebagai Umat Allah dan bersama paroki bisa turut serta terlibat dalam menghidupkan peribadatan yang menguduskan (Liturgia), mengembangkan pewartaan Kabar Gembira (Kerygma), menghadirkan dan membangun persekutuan (Koinonia), memajukan karya cinta kasih/pelayanan (Diakonia), dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus (Martyria).