Karena Laham dinilai kurang strategis, maka pusat misi dipindahkan ke Tering di sebelah hilir Long Iram sekitar tahun 1932-1933. Laham sempat mengalami kekosongan imam selama puluhan tahun karena keterbatasan tenaga pastor dan juga karena umat yang di paroki ini yang kurang berkembang. Martinus Helak, seorang tokoh umat dan tokoh adat Kampung Laham, mengakui bahwa kekosongan imam di parokinya terjadi antara tahun 1970-an hingga 2007. Pusat paroki sempat dipindahkan ke Paroki Long Hubung sehingga pelayanan kepada umat di Paroki Laham dirangkap dari paroki tersebut dengan kegiatan misa sekali sebulan.[1][2]
Perluasan
Tidak tahan dengan kondisi demikian, umat kemudian mengajukan permohonan kepada Uskup Agung Samarinda agar status paroki dipulihkan. Umat kemudian menunjukkan keseriusannya dengan kerja keras bergotong-royong merenovasi dan memperluas gereja, membangun pastoran, taman doa lengkap beserta Gua Maria dan Stasi Jalan Salib selama kurang lebih setahun (pertengahan 2006 - 2007); pembangunan tersebut mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Barat. Mgr Florentinus SuluiMSF selaku Uskup Agung Samarinda kemudian merestui dan pada tanggal 8 Juli 2007, bersamaan dengan perayaan 100 tahun karya misi di Kaltim, Paroki Hati Kudus Yesus Laham secara resmi dibuka kembali. Pada saat bersamaan ketiga bangunan yang telah dibangun oleh umat tersebut juga diresmikan oleh Bupati Kutai Barat Ismail Thomas dan diberkati oleh DubesVatikan Mgr. Leopoldo Girelli, Uskup Agung Pontianak Mgr. Hieronymus BumbunOFM Cap, serta Mgr. Sului sendiri.[1] Saat ini Paroki Laham digembalakan oleh pastordiosesan.