Menurut cerita masyarakat setempat, pada masa penjajahan Belanda, pantai ini digunakan sebagai tempat pembuatan garam. Dalam bahasa Jawa, garam disebut uyah, sehingga kawasan ini kemudian dikenal dengan nama Nguyahan, yang berarti "tempat pembuatan uyah".[2]
Selain itu, terdapat kisah turun-temurun mengenai seorang tokoh bernama Mbah Sarem, yang dikatakan sebagai orang pertama yang mengajarkan masyarakat sekitar cara membuat garam. Ia juga disebut sebagai orang yang memberi nama pantai ini dengan harapan bahwa kawasan tersebut akan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir.
Fasilitas
Pantai Nguyahan telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung bagi wisatawan, antara lain:
Area parkir
Mushola
Payung pantai
Toilet
Warung makan
Sebagian fasilitas tersebut dikenakan biaya penggunaan sesuai ketentuan yang berlaku, sementara mushola dapat digunakan secara gratis.