Pangkalan Kerinci adalah sebuah kecamatan yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian dari Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau, Indonesia. Kecamatan ini memiliki potensi pengembangan karena terletak di Jalan Raya Lintas Sumatra.
Dalam sejarah nama Kecamatan ini ada kaitan pada pendatang dari Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Masyarakat dari Suku KerincI di Wilayah Provinsi Jambi, telah lebih dahulu.membuka dan menempati Kecamatan ini lebih dari satu abad lalu, yang pertama Kali Membuka daerah ini dari Lahan Kosong yang hanya hutan belukar, dan sekarang daerah ini berkembang Pesat menjadi Wilayah Maju
Jalur migrasi Kerinci, Suku Kerinci Jambi menjadikan Pelalawan sebagai jalur migrasi utama menuju Tanah Melayu. Sejak abad ke‑17, orang Kerinci Jambi yang dulunya bagian dari Sumatera tengah satu Provinsi dengan Riau, telah bermigrasi besar-besaran ke Malaysia melalui jalur Pelalawan dan Pekanbaru. Banyak di antara mereka menjadi tokoh penting di Malaka, terutama di Kesultanan Johor dan Selangor, sehingga wajar bila jejak migrasi melewati wilayah Riau, termasuk di Kerajaan Siak dan Kerajaan Pelalawan.
Transisi kolonial dan lahan kosong
Akibat Perjanjian London 1824 (tukar guling Bengkulu–Malaka antara Belanda dan Inggris), sebagian orang Kerinci tertahan di Riau. Sultan Pelalawan memberi izin mereka menempati lahan kosong sementara yang terletak di titik sekitar 30 km ke arah barat dari Istana Sayap. Lokasi inilah yang kemudian berkembang menjadi Pangkalan Kerinci.
Diaspora ke Malaysia dan peninggalan kebun Sebelum jalur Kerinci–Sumbar–Riau dan Malaysia aman, mereka membuka lahan, menetap sementara di lahan pemberian sulatan.pelalawan, baru mereka.melanjutkan perjalanan ke Malaka, Selangor, dan Johor. Sejak jalur Kerinci–Malaysia aman, orang Kerinci meninggalkan kebun-kebun yang sempat mereka tempati sementara di Pangkalan Kerinci. Wilayah itu lama kosong, lalu beberapa tahun kemudian kembali ditempati dari pihak lain dan berkembang pesat setelah berdirinya pabrik kertas besar di Pelalawan, yang menjadi motor ekonomi daerah.
Pengaruh budaya Kerinci, bentuk rumah adat di kawasan Riau banyak dipengaruhi oleh budaya rumah gedang Kerinci. Ciri-ciri seperti atap lurus bertingkat, pola ruang memanjang untuk musyawarah kaum, menjadi inspirasi bagi rumah adat Riau..
Bukti sejarah Jejak migrasi orang Kerinci Jambi melalui Riau dapat ditemukan di Peninggalan-peninggalan atau.Musium Kerinci Malaysia. Hubungan orang Kerinci dengan Sultan terakhir Pelalawan sebelum Indonesia merdeka pun masih erat.
Migran dari Kabupaten Kerinci (Jambi) adalah akar asal khusus wilayah Kecamatan Pangkalan Kerinci (Pelalawan, Riau) karena di sini adalah jalur aman migrasi di tunjang dengan lahan kosong pemberian Sultan Pelalawan, dan Malaysia menjadi tujuan utama diaspora Kerinci. Pangkalan Kerinci sendiri baru kembali maju setelah berdirinya pabrik kertas, sementara pengaruh budaya Kerinci masih hidup dalam rumah adat Riau.
Sekarang,[3] Penduduk di kecamatan ini memiliki beragam suku, agama, dan bahasa. Mayoritas Penduduk di kecamatan ini adalah Muslim. Kawasan perkantoran baru di Pangkalan Kerinci ini telah dikembangkan dan dibangun di kawasan Bukit Seminai yang terletak di arah timur dari kota lama Pangkalan Kerinci tersebut.
Kantor-kantor pemerintahan kabupaten Pelalawan berada kecamatan ini, tepatnya di Komplek Perkantoran Bhati Praja Pangkalan Kerinci, di kelurahan Pangkalan Kerinci Barat. Seperti kantor Bupati dan Wakil Bupati, kantor DPRD, Kantor Badan Pusat Statistik, kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, kantor KPU, kantor PLN, Dinas Kesehatan, dan kantor lainnya.[4]
Demografi
Pada tahun 2021, jumlah penduduk kecamatan Pangkalan Kerinci sebanyak 94.585 jiwa, dengan kepadatan 382 jiwa/km².[2] Penduduk di kecamatan ini memiliki beragam latar belakang suku dan agama. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2024, persentasi penduduk menurut agama yang dianut di kecamatan Pangkalan Kerinci adalah pemeluk agama Islam sebanyak 74,10%, kemudian Kristen sebanyak 25,44%, dengan perincian Protestan 22,81% dan Katolik 2,63%. Sebagian kecil lagi beragama Buddha yakni 0,42%, Hindu 0,02%, Konghucu dan kepercayaan 0,02%.[5] Sementara untuk rumah ibadah, terdapat 44 masjid, 32 musholah, dan 8 gereja Protestan dan Katolik.[6]
Industri
Di sebelah barat dari kota lama Pangkalan Kerinci terdapat kawasan perumahan dan industri PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) milik salah satu pengusaha besar indonesia yang sekarang bermukim di singapura yang merupakan salah satu industri penghasil buburkertas dan produk kertas terbesar di dunia yang bahan bakunya diantaranya dipasok dari Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan jenis kayuAkasia.