Pang Nanggroe adalah seorang pejuang gerilya Aceh pada fase akhir Perang Aceh (awal abad ke-20) yang dikenal sebagai pasangan Cut Nyak Meutia dan salah satu pemimpin lapangan dalam perlawanan di wilayah Aceh Utara–Aceh Timur. Dalam berbagai narasi sejarah lokal, ia digambarkan sebagai panglima yang menonjol dalam taktik perang bergerak, sehingga dalam ingatan populer ia kerap disebut dijuluki “Napoleon Aceh” dan "Watergeus van Atjeh" (merujuk pada kelompok pejuang laut Belanda dalam Perang Delapan Puluh Tahun yang terkenal sebagai gerilyawan laut) oleh pihak Belanda.[1]
Kedudukan dalam gerilya Cut Meutia
Setelah suami Cut Nyak Meutia, Teuku Chik di Tunong, gugur, Pang Nanggroe menikahi Cut Meutia atas amanat/wasiyat untuk melindungi keluarga sekaligus meneruskan perjuangan.[2][3]
Dalam periode ini, Pang Nanggroe dan Cut Meutia memimpin kelompok kecil pejuang yang mengandalkan dukungan kampung-kampung, mobilitas tinggi, dan serangan mendadak terhadap patroli/pos kolonial. Setelah Pang Nanggroe gugur, beberapa sumber menyebut kepemimpinan kelompok diserahkan kepada Cut Meutia, yang kemudian melanjutkan gerilya sampai ia gugur pada 26 September 1910 dalam Pertempuran Paya Cicem, daerah perbukitan Hague, Aceh Utara. Meski demikian, Cut Meutia berhasil meloloskan diri bersama anaknya, Teuku Raja Sabi.[4][5][6][7]