Dari atas ke bawah; kiri ke kanan: Panorama Desa Padusan, Air Terjun Watu Lumpang, Pemandangan kaki Gunung Welirang, dan Bunga Edelweis di Gunung Welirang.
Pacet (Aksara Jawa: ꦥꦕꦼꦠ꧀) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang terletak di sebelah selatan. Pacet adalah kawasan wisata alam yang terkenal di Jawa Timur. Pacet berada di kaki Gunung Welirang dan Anjasmoro. Di antara kedua gunung tersebut terdapat jalur menuju wilayah Cangar di Kota Batu tepatnya di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo.[1] Jalan menuju Kota Batu dikenal memiliki jalur tanjakan ekstrem yang memerlukan kehati-hatian lebih. Pacet memiliki berbagai tempat wisata seperti air terjun, wisata agro, wisata kuliner, waterpark dan kolam air panas, camping ground, wisata rafting, hingga pos pendakian gunung.[2][3]
Pacet selain sebagai daerah wisata juga merupakan kawasan pertanian yang subur. Berdasarkan data BPS tahun 2024, Pacet merupakan kecamatan dengan produksi perkebunan terbesar pada komoditas seperti bawang merah, cabai rawit, tomat, bawang daun, lengkuas dan kunyit serta tanaman hias seperti anggrek dan krisan.[4] Dahulu, Pacet juga merupakan salah satu sentra produksi bawang putih lokal di Jawa Timur.[5] Selain pertanian, Pacet juga merupakan produsen sususapi perah terbesar di Mojokerto.[6]
Geografi
Peta administrasi Pacet
Wilayah Pacet memanjang dari utara ke selatan. Desa-desa di bagian utara seperti Kuripansari dan Pandanarum berada di ketinggian 200–400 m. Semakin ke selatan, elevasi semakin naik hingga 600–800 m dan semakin banyak areal perkebunan dan wisata alam. Bagian ujung selatan memiliki ketinggian lebih dari 1000 m dan termasuk dalam kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo yang masih alami. Hutan ini berada di lereng Gunung Welirang yang berada di sebelah tenggara dan Anjasmoro yang berada di barat daya. Selain itu juga terdapat puncak gunung lain yang lebih pendek dan populer untuk pendakian seperti Gunung Pundak, Lorokan, Puthuk Siwur, dan Puthuk Gragal.[7][8]
Taman Hutan Raya Raden Soerjo dipotong oleh jalur menuju Cangar di Kota Batu yang tergolong jalan provinsi. Jalur ini dikenal sangat ekstrem karena tanjakan serta tikungan yang tajam. Bahkan kendaraan matic dihimbau agar tidak melewati jalan ini.[1] Di jalur tersebut terdapat pemukiman paling selatan dari Kecamatan Pacet yaitu Kampung Sendi. Warga kampung ini secara administrasi masuk Dusun Pacet Selatan, Desa Pacet namun lahannya masih sengketa dengan Perhutani.
Kecamatan Pacet saat ini terdiri dari 20 desa, dahulu juga pernah ada desa bernama Desa Sendi yang kemudian dihapus dari peta. Desa-desa tersebut dibagi menjadi beberapa dusun atau dukuh. yakni sebagai berikut:[2][9]
Menurut penuturan masyarakat setempat, di Kecamatan Pacet terdapat desa yang hilang dari peta modern yaitu Desa Sendi. Berdasarkan data dan peta yang dimiliki masyarakat, Sendi memang ada di peta zaman Belanda sebagai bagian dari Distrik Djaboeng di Regentschap Mojokerto. Keberadaan Desa Sendi juga dibuktikan dengan adanya tanah bengkok atau tanah ganjaran perangkat desa yang sekarang dikelola Desa Pacet. Tanah tersebut tercatat dalam lansiran buku C Desa Pacet tahun 1975. Dihapuskannya Desa Sendi terdapat beberapa versi. Menurut pemerintah berdasarkan penuturan Camat Pacet, hilangnya Desa Sendi disebabkan oleh Agresi Militer Belanda II pada 1948. Saat itu Belanda melakukan pengusiran dan perkampungan tersebut dipakai untuk kebun serai. Lurah terakhir Sendi di tahun 1948 adalah Singo Setro. Penduduknya kemudian pindah ke perkampungan terdekat yaitu Ngepre dan Gotekan. Sedangkan menurut masyarakat, dihapuskannya Desa Sendi adalah hal yang baru. Desa ini tiba-tiba hilang begitu saja dari peta tahun 1989.[13][14]
Saat ini Sendi masih ada dan menjadi bagian dari administrasi Desa Pacet tepatnya di Dusun Pacet Selatan bersama Kampung Ngepre dan Gotekan. Sendi berlokasi di kawasan hutan di Kecamatan Pacet bagian selatan yang dilalui jalur menuju Kota Batu. Saat ini Sendi memiliki sekitar 50 KK dan jumlah penduduk 100-an jiwa dengan luas tanah 24 hektar. Wilayah Sendi dikenal masyarakat Mojokerto dan sekitarnya sebagai rest area dan sentra kuliner nasi jagung. Saat ini, Sendi sedang diperjuangkan agar menjadi desa adat untuk melestarikan budaya dan hutan yang ada.[13][13]
Wisata alam dan camping lainnya seperti Claket Adventure Park, Bernah de Vallei, Klurak Eco Park, Petung Sewu, Bukit Krapyak, dan Puthuk Panggang Welut