Dalam permainan video, orang terakhir yang bertahan (bahasa Inggris:last man standingcode: en is deprecated , sering disingkat LMS) adalah sebuah mode permainan multipemain beraliran kompetitif di mana tujuan utamanya adalah mengeliminasi seluruh pemain lawan hingga hanya tersisa satu pemain atau satu regu yang hidup sebagai pemenang.[1]
Berbeda dengan mode deathmatch tradisional di mana pemenang ditentukan berdasarkan jumlah pembunuhan (frags) terbanyak dalam batas waktu tertentu, mode LMS berfokus penuh pada aspek pertahanan hidup. Mekanika inti dari mode ini merupakan fondasi dasar yang kemudian berevolusi melahirkan genre permainan battle royale modern.[2]
Mekanika permainan
Mode orang terakhir yang bertahan mengadopsi beberapa karakteristik aturan mutlak yang membedakannya dari mode arena konvensional:[3]
Eliminasi permanen (Permadeath)
Karakteristik paling utama dari LMS adalah ketiadaan fitur hidup kembali secara instan (no instant respawn). Ketika seorang pemain berhasil dikalahkan oleh musuh atau mati akibat jebakan lingkungan, mereka tidak dapat langsung kembali ke dalam arena permainan pada ronde tersebut. Pemain yang tereliminasi biasanya akan beralih fungsi menjadi penonton (spectator) hingga ronde selesai.
Sistem alokasi nyawa terbatas
Dalam beberapa variasi permainan, pemain tidak hanya diberikan satu kesempatan hidup. Pengembang biasanya memberikan modal sejumlah nyawa terbatas (misalnya 3 hingga 5 nyawa). Setiap kali pemain tewas, jumlah modal nyawa mereka akan berkurang satu. Ketika modal nyawa tersebut habis menjadi nol, pemain tersebut resmi dinyatakan tereliminasi dari keseluruhan permainan.
Perubahan insentif bermain
Karena kematian membawa konsekuensi yang fatal, dinamika dan psikologi bermain pemain dalam mode LMS berubah secara drastis dibandingkan mode *deathmatch*:
Dalam Deathmatch biasa, pemain cenderung bermain sangat agresif (run-and-gun) karena kematian tidak memberikan penalti besar selain memberikan poin kepada lawan.
Dalam Last Man Standing, pemain bermain jauh lebih taktis, berhati-hati, memprioritaskan posisi bertahan (cover), serta mengelola sumber daya pertahanan (seperti darah dan pelindung) secara efisien.
Sejarah dan perkembangan
Era arcade dan aksi 2D (1980-an - 1990-an)
Konsep mengeliminasi pemain lain hingga tersisa satu orang telah dieksplorasi sejak era permainan video awal. Waralaba Bomberman (1983) karya Hudson Soft diakui sebagai salah satu pionir terpenting yang mempopulerkan mekanika LMS dalam mode multipemain terlokalisasi. Di dalam arena berbentuk grid, empat pemain saling menjatuhkan bom untuk meledakkan satu sama lain; pemain yang mampu menghindari ledakan hingga akhir dinobatkan sebagai pemenang. Aturan serupa juga diterapkan pada genre permainan balap penghancuran seperti Destruction Derby (1995).
Era penembak 3D (FPS/TPS)
Istilah formal "Last Man Standing" mulai dipatenkan secara luas sebagai mode resmi sejak menjamurnya permainan penembak orang pertama (FPS) berbasis arena pada akhir dekade 1990-an. Permainan video Unreal Tournament (1999) karya Epic Games dan Quake III Arena secara terbuka memasukkan menu khusus bernama "Last Man Standing Mode".
Dalam implementasi FPS klasik ini, seluruh pemain memulai pertandingan dengan senjata dan amunisi penuh. Aturan mainnya adalah menghabiskan modal nyawa musuh sambil mempertahankan nyawa sendiri. Format ini sangat digemari dalam turnamen olahraga elektronik awal karena menyajikan ketegangan yang tinggi bagi penonton.
Jembatan menuju genre Battle Royale (2010-an)
Memasuki era modern, mekanika orang terakhir yang bertahan mengalami perluasan skala masif. Jika pada era FPS klasik mode LMS hanya menampung 4 hingga 16 pemain di dalam koridor peta yang sempit, implementasi teknologi modern memungkinkan mekanika ini menampung 100 hingga 150 pemain sekaligus secara daring. Integrasi antara mekanika bertahan hidup LMS dengan peta dunia terbuka yang menyusut inilah yang melahirkan genre permainan battle royale seperti PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) dan Fortnite.
Penerapan lintas genre
Meskipun lahir dari genre penembak, konsep orang terakhir yang bertahan telah diadopsi secara luas oleh berbagai genre permainan video kontemporer:
Genre Party Games (Permainan Hiburan): Permainan seperti Fall Guys memanfaatkan konsep LMS di mana ratusan pemain harus melewati serangkaian rintangan fisik yang ekstrem, dan pemain yang terjatuh atau gagal mencapai finis dalam kuota tertentu akan tereliminasi secara bertahap hingga menyisakan satu pemenang di ronde final.
Genre Fighting/Brawler (Pertarungan): Waralaba Super Smash Bros. menggunakan sistem "Stock Match", sebuah bentuk mekanika LMS di mana setiap karakter memiliki jumlah nyawa (*stock*) tertentu. Pemain yang terlempar keluar arena akan kehilangan *stock*, dan pemenangnya adalah karakter yang berhasil mempertahankan *stock*-nya hingga akhir pertandingan.