Suku Yaghnob (bahasa Yaghnob: yaγnōbī́t; bahasa Tajik:яғнобиҳо, yağnobiho/jaƣnoʙihocode: tg is deprecated ) adalah salah satu suku minoritas pribumi Tajikistan. Mereka tinggal di Provinsi Sughd di utara Tajikistan, di lembah Sungai Yaghnob, Qul dan Varzob. Suku Yaghnob dianggap sebagai keturunan dari orang-orang berbahasa Sogdi[2] yang pernah menguasai sebagian besar Asia Tengah di Lembah Zeravshan di antara Sungai Amu Darya dan Syr Darya di daerah historis Sogdia.[3]
Mereka menuturkan bahasa Yaghnob, salah satu dari sedikit bahasa Iran Timur yang masih lestari (bahasa-bahasa Iran Timur lainnya yang belum punah adalah bahasa Pashtun, Ossetia, dan Pamir). Bahasa Yaghnob digunakan secara luas oleh penduduk lembah Sungai Yaghnob di daerah Zarafshan, Tajikistan. Bahasa ini juga diajarkan di sekolah-sekolah.[4] Bahasa ini dianggap sebagai turunan langsung bahasa Sogdi dan sering disebut Sogdi Baru dalam literatur akademis.[5]
Data sensus penduduk tahun 1926 dan 1939, penutur bahasa Yaghnob berjumlah sekitar 1.800. Pada tahun 1955, M. Bogolyubov memperkirakan jumlah penutur ibu bahasa ini mencapai lebih dari 2.000 orang. Pada tahun 1972, A. Khromov memperkirakan 1.509 penutur asli di lembah Yaghnob dan sekitar 900 di tempat lain. Sementara jumlah suku Yaghnob diperkirakan sekitar 25.000.[1]
Orang-orang Sogdi kuno melarikan diri ke Lembah Yaghnob yang terpencil untuk menghindari serbuan orang Arab pada masa Abad Pertengahan, dan keturunan mereka, suku Yaghnob, tinggal di sana dalam keadaan terisolir hingga tahun 1820-an.[6]
Abad ke-20
Sampai abad ke-20, suku Yaghnob hidup dengan menerapkan ekonomi alami yang bergantung pada alam dan beberapa masih terus melakukannya, karena desa yang mereka huni masih belum terjangkau oleh jalan raya dan aliran listrik. Kontak pertama dengan Uni Soviet terjadi pada 1930-an pada masa Pembersihan Besar-Besaran, di mana banyak suku Yaghnob diasingkan ke luar daerah. Namun, peristiwa yang mungkin paling menimbulkan trauma adalah pemindahan paksa pada tahun 1957 dan 1970, dari pegunungan ke dataran rendah semi-gurun di Tajikistan.[7][8]
Pada 1970-an, helikopter Tentara Merah dikirim ke lembah-lembah dengan alasan untuk mengevakuasi penduduk Yaghnob dari potensi longsor salju di tempat tinggalnya. Mereka lalu dipekerjakan paksa di perkebunan kapas di dataran rendah.[6][9] Akibat kelelahan bekerja dan perubahan lingkungan dan gaya hidup yang drastis, ratusan orang Yaghnob tewas karena penyakit.[10]
Sejak 1983, keluarga Yaghnob mulai pulang ke Lembah Yaghnob dan melanjutkan gaya hidup tradisional mereka. Sementara mereka yang menetap di dataran rendah cenderung berasimilasi dengan suku Tajik.[11][12]
Abad ke-21
Lembah Yaghnob terdiri dari sekitar sepuluh permukiman, masing-masing menampung antara tiga hingga delapan keluarga. Terdapat pula pemukiman kecil lain di tempat berbeda.[13]
12Jamolzoda, Anvar (Juli–Agustus 2006). "Journey to Sogdiana's Heirs"(PDF). yagnob.org. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 13 Maret 2012. Diakses tanggal 2 November 2021.
↑Paul, Daniel Paul; Abbess, Elisabeth; Müller, Katja; Tiessen, Calvin and; Tiessen, Gabriela (2009). "The Ethnolinguistic Vitality of Yaghnobi". SIL Electronic Survey Report 2010-017, May 2010. SIL International. Diakses tanggal 2 November 2021.