Operasi Cahaya Utara (bahasa Jerman: Unternehmen Nordlichtcode: de is deprecated ) adalah rencana serangan yang dirancang oleh Komando Tinggi Angkatan Darat Jerman (Oberkommando des Heeres atau OKH) pada Perang Dunia II. Operasi ini digagas setelah Pengepungan Leningrad berlangsung selama setahun penuh, tepat ketika Adolf Hitler memerintahkan serangan pamungkas untuk merebut kota yang tengah terkepung tersebut.[1]
Tujuan utama dari operasi ini adalah menguasai Leningrad secara total dengan mengerahkan pasukan dari Grup Angkatan Darat Utara di bawah komando GeneralfeldmarschallGeorg von Küchler.[2] Melalui keberhasilan operasi ini, Jerman berharap dapat mengakhiri pengepungan berkepanjangan dan membebaskan ratusan ribu prajuritnya untuk dialihkan ke front lain. Di saat yang bersamaan, pihak Jerman juga sedang mempersiapkan Pertempuran Stalingrad. Jerman sengaja menyelaraskan waktu serangan ke Leningrad di utara dan ke Stalingrad di selatan demi memecah fokus dan membingungkan militer Uni Soviet.
Operasi Cahaya Utara awalnya dijadwalkan bergulir pada 23 Agustus 1942, diawali dengan dentuman artileri bertubi-tubi ke Leningrad dan disusul oleh pemboman udara masif oleh Luftwaffe. Namun, rencana ini berantakan setelah Soviet meluncurkan Serangan Sinyavino lebih awal pada 19 Agustus. Akibatnya, kekuatan militer Jerman yang tadinya disiapkan sebagai ujung tombak Operasi Cahaya Utara terpaksa dialihkan untuk memperkuat garis pertahanan dari gempuran Soviet. Meskipun Serangan Sinyavino pada akhirnya berhasil digagalkan, operasi Soviet tersebut sukses memaksa Jerman membatalkan Operasi Cahaya Utara sepenuhnya. Sejak saat itu, Jerman tidak pernah lagi mampu meluncurkan serangan skala besar untuk merebut Leningrad.