Masa kecil
Oey lahir pada 18 April 1929. Ayahnya meninggal saat Oey berusia sembilan tahun, dan ia diurus oleh ibunya yang keras tapi liberal. Saudara-saudara kandungnya hidup terpencar di berbagai benua. Kakaknya yang bernama Leony tinggal dengannya di kompleks Cibubur Permai. Keluarganya adalah penganut agama tradisional Tionghoa dan ia belajar di sekolah Katolik, dimana ia belajar bahasa Inggris dan Belanda.[3]
Oey gemar berkunjung ke toko buku ARC Salim di mana ia mengenal sastra dunia. Sementara untuk buku-buku politik, Oey mengenalnya di toko buku milik Pak Kliwon, seorang aktivis Serikat Rakyat yang pernah di buang ke Boeven Digul. Pemilik toko buku tersebut menawarkan agar Oey datang ke Marx House, Yogyakarta.[1]
Di Marx House, Oey belajar soal paham sosialis. Ia berdiskusi langsung dengan tokoh-tokoh saat itu seperti Alimin, Amir Syarifuddin dan Sjahrir.[1] Selain itu, ia mulai menerjemahkan buku Lenin, Negara dan Revolusi, yang diterjemahkannya dari bahasa Inggris ke bahasa Belanda.[3]
Karier
Kembali ke Malang, Oey ikut bergerilya memerangi Belanda dan bertugas memasok logistik untuk para pejuang. Oey selanjutnya pindah ke Surabaya, dimana ia mengurus percetakan Sin Tit Po dan berkenalan dengan Njoto, salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia. Ia sempat menjadi pengusaha dalam bidang distribusi tembakau dan menjadi Ketua Gabungan Perusahaan Rokok Nasional (Gaperon).[1]
Pada tanggal 9 November 1956, Oey dilantik sebagai seorang anggota Dewan Konstituante hasil Pemilihan Umum 1955 mewakili PKI. Pada tanggal 28 Januari 1957, Oey dilantik menjadi anggota DPR mewakili PKI dari Jawa Tengah, menggantikan Sakirman yang mengundurkan diri. Ia mengundurkan diri dari keanggotaannya dalam Dewan Konstituante pada tanggal 6 Februari 1957 setelah dilantik menjadi anggota DPR Ia kemudian mengangkat sumpah menjadi anggota DPRGR/MPRS pada tanggal 25 Juni 1960. Setelah peristiwa G30S, Oey beserta seluruh anggota DPRGR/MPRS dari PKI dianggap berhenti pada tanggal 1 April 1966.
Pada tahun 1958, ia membawa keluarganya dari Semarang ke Jakarta untuk menjadi wakil rakyat. Di Jakarta, Oey juga aktif di Lekra. Oey juga menjadikan rumahnya di Jalan Cidurian, Menteng, Jakarta Pusat untuk menjadi markas Lekra.[1][4][5]
Pada pertengahan Oktober 1965, Oey ditangkap oleh Kodim Jakarta Timur dan diasingkan ke Pulau Buru. Setelah bebas, Oey memulai usaha distribusi cengkih.[1]