Nyimas Melati merupakan salah satu pejuang wanita dari Tangerang yang melawan penjajah Belanda yang diceritakan hidup pada awal tahun 1900-an, ketika Belanda menguasai Jawa Barat dan menggunakan para pembesar dan tuan tanah untuk memperbudak rakyat kecil. Ia dikenal sebagai Singa Betina dari Tangerang. Nyimas Melati adalah keturunan Sultan Hassanudin Banten yang juga memiliki peran dalam menyebarkan Agama Islam di wilayah Tangerang. Nyi Mas Melati dikenal gigih melawan para penjajah Belanda, seperti sang ayah, Raden Kabal yang menentang penjajahan Belanda. Nyi Mas Melati memiliki dua anak angkat yakni Suryanata dan Masenah. Mereka juga ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan.[1]
Sosok Nyimas Melati sangat disegani penjajah Belanda karena memiliki ketangguhan dalam ilmu bela diri. Dikisahkan dalam legenda turun-temurun oleh orang Betawi Tangerang, bahwa gelegar teriakan yang keluar dari mulut Nyimas Melati saat menyemangati pasukan yang dipimpinnya, membuat pasukan Belanda langsung ciut nyalinya. Suara Nyimas Melati yang menggelegar meruntuhkan semangat pasukan lawan. Dari berbagai perlawanan yang dilakukan oleh Nyimas Melati pula langsung membuat Nyimas Melati dijuluki sebagai Singa Betina.[2]
Dalam menghargai jasanya melawan Belanda, pemerinah menamai gedung PKK Kota Tangerang dengan Gedung Nyimas Melati, serta terdapat Jalan Nyimas Melati di Kota Tangerang.
Perjuangan Nyimas Melati Melawan Belanda
Nyimas Melati yang mempunyai markas di daerah yang sekarang bernama Balaraja. Perjuangan Nyimas Melati tak lepas dari perlawanan yang dilakukan ayahnya Raden Kabal yang sangat membenci Belanda karena membentuk sekelompok “Tuan Tanah” pada 1918. Kawasan Tangerang saat itu dikuasai para Tuan Tanah yang mendapat dukungan dari Belanda sehingga membuat kehidupan rakyat menderita. Sangat sedikit sekali kaum pribumi memiliki tanah pribadi karena hampir semua tanah (tanah partikelir) dikuasai Tuan Tanah.[2]
Raden Kabal bersama pasukannnya kerap mengadakan penghadangan dan sabotase sarana-sarana penting yang dikuasai Tuan Tanah maupun Belanda di berbagai wilayah di kawasan Tangerang.[2] Selain itu, Nyimas Melati juga memusuhi dan melakukan penyerangan kepada para tuan tanah jika ia mengetahui mereka melakukan pelecehan terhadap perempuan.[1]
Rakyat Tangerang yang tak tahan lagi atas berbagai perlakuan para tuan tanah pun mulai mengelorakan api pemberontakan. Dipimpin oleh Raden Kabal bersama putrinya, Nyimas Melati, dan Pangeran Pabuaran dari Subang, rakyat Tangerang bahu membahu melawan para Tuan Tanah yang didukung pasukan tentara Belanda. Salah satu pertempuran yang tercatat adalah pertempuran Pabuaran Subang yang dijadikan tempat gugurnya Pangeran Pabuaran dari Subang saat perang dengan Belanda.[2]
Perlawanan yang dilakukan oleh Nyimas Melati menimbulkan kerugian besar bagi para tuan tanah yang didukung oleh Belanda. Begitu menakutkannya sosok Nyimas Melati, diceritakan saat ia tewas, bagian-bagian tubuhnya dibagi-bagi dan dimakamkan secara terpisah di beberapa tempat.[2][1] Menurut beberapa sumber, Nyimas Melati dimakamkan di Desa Bunar, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang. Sumber lain menyebutkan makam Nyimas Melati berada di Pulau Panjang dan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Tak hanya di Balaraja Tangerang, kepopuleran Nyi Mas Melati juga terdengar hingga kawasan Danau Situ Gintung Ciputat yang dibangun oleh Belanda pada 1933. Konon, Belanda mengubur sebagian jasad Nyi Mas Melati di kawasan itu.[2]