Plot
Pada 7 Mei 1945, sehari sebelum Jerman Nazi menyerah kepada Sekutu, Reichsmarschall Hermann Göring, orang kedua setelah Adolf Hitler, menyerahkan diri bersama keluarganya kepada pasukan Amerika Serikat di Austria. Pada saat yang sama, Hakim Agung Robert Jackson mendengar kabar penangkapan Göring, yang mendorong diskusinya dengan sekretarisnya, Elsie Douglas, mengenai pembentukan sebuah pengadilan internasional untuk mendakwa para pemimpin Nazi yang masih hidup atas kejahatan perang.
Douglas, yang berpandangan konservatif, mencatat bahwa langkah semacam itu belum memiliki preseden hukum internasional yang mapan. Namun, Jackson dengan antusias meyakini bahwa preseden tersebut dapat diciptakan. Pada awalnya, Amerika Serikat enggan mendukung rencana Jackson dan lebih memilih eksekusi langsung tanpa pengadilan. Meski demikian, Jackson terus berupaya dan berhasil memperoleh dukungan Paus Pius XII dengan menyinggung hubungan kontroversialnya di masa lalu dengan rezim Nazi.
Di tempat lain, psikiater Angkatan Darat AS, Mayor Douglas Kelley, dipanggil ke Bad Mondorf, Luksemburg, untuk menilai kondisi kesehatan mental dua puluh dua pemimpin Nazi yang dipilih untuk dituntut dan berada dalam tahanan Sekutu, termasuk Göring. Melapor kepada kepala penjara, Kolonel Burton Andrus, Kelley bekerja bersama seorang juru bahasa, Sersan Howard Triest. Pertemuan awal dengan Göring berlangsung secara sopan, namun para tahanan lain seperti Robert Ley dan Julius Streicher menunjukkan sikap meremehkan. Secara pribadi, Kelley menilai Göring sebagai sosok yang cerdas dan sangat narsistik. Ia berencana menggunakan catatan interaksinya dengan Göring untuk menulis sebuah buku pengakuan terbuka. Jackson dan pengacara Inggris Sir David Maxwell Fyfe ditunjuk sebagai jaksa penuntut bagi Mahkamah Militer Internasional yang baru dibentuk di Nürnberg, Jerman. Mereka mendakwa para tahanan dengan tuduhan kejahatan terhadap perdamaian, kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan konspirasi.
Pada awalnya, hubungan antara Kelley dan Göring berlangsung hangat. Göring membantu Kelley dalam memeriksa mantan Wakil Führer, Rudolf Hess, sebagai imbalan atas kesediaan Kelley memberikan surat kepada istri (Emmy) dan putrinya (Edda). Kelley kemudian menjalin komunikasi dengan mereka, sekaligus bertindak sebagai pengantar surat antara Göring dan keluarganya. Secara diam-diam, Jackson meminta Kelley memberikan gambaran mengenai strategi pembelaan hukum para tahanan khususnya Göring guna membentuk strategi penuntutan.
Sebelum persidangan dimulai, Ley berhasil mencekik dirinya sendiri hingga tewas di dalam selnya, sehingga Andrus memanggil psikolog Gustave Gilbert untuk memberikan pendapat kedua. Pada pembukaan persidangan, pernyataan awal Jackson yang kuat menekankan pentingnya pertanggungjawaban hukum. Göring dan para terdakwa lainnya tidak diberi kesempatan menyampaikan pembelaan, dan hanya diminta menyatakan diri bersalah atau tidak bersalah. Selama masa penundaan sidang, Kelley mengetahui bahwa keluarga Göring telah ditangkap sehubungan dengan dugaan pencurian karya seni dan meminta Andrus untuk turun tangan. Informasi tersebut kemudian disampaikan oleh Gilbert kepada Göring.
Jaksa penuntut menayangkan rekaman film yang memperlihatkan kekejaman yang dilakukan di dalam kamp-kamp konsentrasi. Kelley yang terguncang menemui Göring di selnya setelah sidang, yang sebelumnya menyangkal mengetahui tindakan-tindakan tersebut. Göring lalu membandingkannya dengan dugaan kejahatan yang dilakukan oleh pihak Sekutu dan menganggap terlalu naif dan menyumpahinya tidak akan jadi orang besar di masa depan.
Dalam keadaan marah, kecewa dan mabuk, Kelley tanpa sadar mengungkapkan diskusi pribadinya dengan Göring kepada Lila, seorang jurnalis The Boston Globe, yang kemudian mempublikasikan informasi tersebut. Murka, Andrus membebastugaskan Kelley dan mengusirnya, namun mengungkapkan bahwa Emmy dan Edda telah dibebaskan. Saat hendak naik kereta meninggalkan tempat itu, Triest memberi tahu Kelley bahwa ia adalah seorang Yahudi kelahiran Jerman; meskipun adik perempuannya berhasil melarikan diri ke Swiss, kedua orang tuanya sudah hampir dipastikan menjadi korban pembantaian pada tahun 1942.
Triest memperingatkan bahwa sikap acuh tak acuh secara umum terhadap kejahatan telah membuat kekejaman rezim tersebut tidak pernah benar-benar mendapat perlawanan. Hal ini mendorong Kelley untuk tetap tinggal dan menyerahkan seluruh catatan pribadinya tentang Göring kepada Jackson dan Fyfe, sambil memperkirakan bahwa strategi Göring yang memanfaatkan persidangan untuk membela diri. Seperti yang diduga, Göring berhasil mengelak dari pemeriksaan silang Jackson, lalu menyatakan bahwa dekret mengenai Solusi Akhir dimaksudkan sebagai sebuah solusi menyeluruh yang berfokus pada emigrasi orang-orang Yahudi Jerman, bukan pembantaian seperti yang dituduhkan.
Kemarahan Jackson terhadap Göring berujung pada teguran keras dari majelis hakim. Setelah itu, Fyfe mengambil alih pemeriksaan. Ia memanfaatkan kesombongan Göring yang berposisi sebagai Reichsmarschall dan memancingnya untuk menunjukkan kesetiaannya kepada Hitler. Pada akhirnya, Göring dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung.
Saat mengunjungi Göring sebelum meninggalkan Nürnberg, Kelley telah memahami sifat asli Göring. Pada malam 15 Oktober 1946, sehari sebelum eksekusinya, Göring bunuh diri dengan sianida simpanannya, yang memicu kemarahan Andrus. Eksekusi para terdakwa lainnya tetap dilaksanakan sesuai jadwal, dengan Streicher mengalami kehancuran emosional. Triest, yang sebelumnya ingin mengungkapkan identitas Yahudinya kepada Streicher sebelum eksekusi, justru menenangkannya dan membantunya menuju tiang gantungan. Streicher harus diberi pemberat pada jerat agar dapat meninggal.
Terguncang oleh pengalaman di Nürnberg, Kelley kembali ke Amerika Serikat dan menerbitkan buku pengakuan yang pada akhirnya tidak sukses di pasaran, 22 Cells in Nuremberg. Ia terjerumus ke dalam alkoholisme dan menghabiskan sisa hidupnya dengan terus memperingatkan kemungkinan munculnya rezim menyerupai Nazi di masa depan , sebelum akhirnya bunuh diri dengan sianida pada tahun 1958. Triest kemudian kembali bersatu dengan saudara perempuannya. Penuntutan yang dilakukan Jackson menjadi landasan dasar untuk persekusi internasional untuk kejahatan perang.