Noordin merupakan anak bungsu dari 13 bersaudara yang menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota kecil yang kental dengan budaya Jawa di Pontian, Johor, Malaysia, sebelum melanjutkan pendidikannya di kota besar Johor Bahru. Noordin yang berlatar pendidikan akuntansi dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM).[3][4]
Jemaah Islamiyah (JI) merupakan suatu organisasi asal Indonesia yang digolongkan teroris oleh PBB yang bercita-cita mendirikan negara berdasarkan Islam (daulat Islamiyah) di Asia Tenggara.[7] Organisasi ini pada gilirannya menginduk pada Al-Qaeda. Pada tahun 2003, Noordin memisahkan diri dari induk organisasi dan menyatakan diri sebagai Qa'id (pemimpin) Tandzim (cabang) Al-Qaeda untuk Asia Tenggara. Ia dikenal oleh kalangan intelijen sebagai orang yang memiliki kemampuan perekrutan dan indoktrinasi yang baik, selain cerdas dan licin.
Jejak pelarian
Sikap represif pemerintah Malaysia terhadap JI, membuat petinggi dan kader JI, Noordin bersama Azahari meninggalkan Malaysia setelah pemerintah negara jiran itu melakukan serangkaian operasi pembersihan teroris di negaranya, menyusul serangan yang menyebabkan hancurnyaWorld Trade Center, New York, oleh Al Qaeda pada tanggal 11 September2001.[8]
Untuk menyelamatkan diri, Noordin yang merupakan salah seorang petinggi JI melarikan diri ke Riau, Indonesia, kampung halaman istrinya, Siti Rahmah yang berasal dari Desa Pendekar Bahar, Bangko, Rokan Hilir, Riau. Siti Rahmah adalah adik Mohammad Rois, anggota Jamaah Islamiyah asal Riau yang pernah mengajar madrasah di Johor, Malaysia.[8] Di bawah perlindungan orang-orang JI ia merancang aksi pembalasan dengan agenda pertama adalah pengeboman dua klub malam di Kuta, Badung, Bali, setelah didahului oleh beberapa pengeboman berskala kecil.
Semenjak peristiwa Pengeboman Bali 2002, Noordin, Azahari, dan anggota JI lainnya (termasuk Imam Samudera, Amrozi dan Mukhlas) menjadi sasaran pencarian utama Polri. Di mata FBI ia menempati urutan ketiga sebagai orang yang paling dicari pada tahun 2006. Dalam penyergapan oleh satuan khusus anti-terorisme Densus 88 di Batu, Malang, tanggal 9 November2005 yang menewaskan Azahari, Noordin dapat melarikan diri. Dalam suatu penggerebekan di Weleri, Kendal pada 2007, Noordin dikabarkan kembali lolos. Seusai Pengeboman Mega Kuningan, Jakarta, 2009, polisi kembali mengintensifkan pengejaran. Ia sempat diduga sebagai salah satu korban tewas dalam penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah, oleh Densus 88 pada 8 Agustus2009, tetapi empat hari kemudian Polri menyatakan bahwa yang tewas adalah Ibrohim. Baru pada tanggal 17 September2009, Noordin akhirnya benar-benar tewas dalam penyergapan di Kampung Kepuhsari, Mojosongo, Jebres, Surakarta, bersama-sama dengan tiga orang lain, termasuk Bagus Budi Pranoto (perakit bom peledakan Kedubes Australia di Jakarta pada 2004) dan Ario Sudarso, keduanya ahli perakitan bom didikan Azahari.[9][10]
Selama dalam pelarian itu, Noordin beberapa kali melakukan pernikahan dengan perempuan di tempat ia tinggal, diperkirakan sebagai sarana untuk mengelabui petugas. Sebelumnya meninggalkan Malaysia, ia telah menikah dengan seorang perempuan kelahiran Indonesia dan memiliki tiga orang anak. Paling tidak ada tiga perempuan yang diketahui pernah dinikahinya di Jawa, salah seorang di antaranya sempat dipenjara selama dua tahun (2005–2007) karena terbukti membantu menyembunyikan Noordin.[11] Dari tiga orang ini, dua di antaranya juga memberikan keturunan.