Nama Ngadas di ambil dari nama Adas Pulo Waras .dan desa ngadas merupakan desa yang masih kuat adat istiadatnya sehingga segala peraturan yang dibuat Pemerintah Desa selalu dipatuhi oleh semua warga masyarakat.. Pertama kali Ngadas dibuka oleh Eyang Sedek pada sekitar abad ke-18 sebagai upaya perluasan pengaruh kerajaan Mataram Islam, Kraton Kasunanan Surakarta.[1] Namun dalam perkembangannya, warga yang kemudian melakukan migrasi memasuki desa ini adalah masyarakat Tengger yang sebelumnya tinggal di desa lain di sekitar GunungBromo.[1] Sehingga kini hampir 99% warga Ngadas merupakan masyarakat suku Tengger.[1]
Iklim
Desa Ngadas memiliki iklim dataran tinggi subtropis (Cwb). Desa ini memiliki curah hujan sedang hingga rendah dari Mei hingga Oktober dan curah hujan lebat hingga sangat lebat dari November hingga April.[butuh rujukan]
Perubahan sistem politik Indonesia yang semakin demokratis turut memengaruhi kehidupan politik di Desa Ngadas. Hal ini tecermin dalam pemilihan kepala desa dan partisipasi aktif warga dalam pemilu seperti pilpres, pilkada, hingga pilgub. Pada pemilihan kepala desa tahun 2007, partisipasi warga mencapai 85% dengan tiga kandidat yang bersaing, menjadikan pemilihan tersebut seperti pesta desa.
Tradisi pencalonan kepala desa diwarnai oleh anggapan bahwa jabatan tersebut merupakan "pulung" atau garis tangan keluarga tertentu, namun kini jabatan kepala desa terbuka bagi siapa saja yang memenuhi syarat. Meski demikian, kepala desa tetap dipilih berdasarkan kecerdasan, integritas, dan kedekatannya dengan warga.
Setelah pemilu, kehidupan warga kembali normal tanpa konflik berkepanjangan, dengan semangat gotong royong tetap terjaga. Pengambilan keputusan di desa juga melibatkan masyarakat melalui lembaga resmi maupun secara langsung, mencerminkan kepemimpinan yang demokratis.
Meski partisipasi dalam politik lokal tinggi, minat terhadap politik nasional masih rendah karena dianggap kurang relevan dengan kebutuhan sehari-hari warga. Dari sisi budaya, Desa Ngadas sangat dipengaruhi oleh budaya Jawa, dengan tradisi seperti nyadran, slametan, dan tahlilan masih lestari. Namun, keterbukaan informasi mulai memunculkan tafsir baru terhadap tradisi ini, yang bisa memicu dinamika sosial baru dan membutuhkan kearifan dalam menyikapinya.
Keadaan Ekonomi
Perekonomian Desa Ngadas secara umum di dominasi pada sektor pertanian yang system pengelolaannya masih sangat tradisional pengolahan lahan, pola tanam maupun pemilihan komoditas produk pertaniannya ). Produk pertanian Desa Ngadas untuk lahan sawah masih monoton pada unggulan padi dan palawija, hal ini diakibatkan adanya struktur tanah yang mungkin belum tepat untuk produk unggulan pertanian diluar sentra padi juga mungkin karena kurangnya modal usaha tani dan persoalan yang mendasar lainnya adalah sistem pengairan yang kurang baik hal ini sangat di rasakan oleh petani pada waktu musim kemarau. Oleh karena itu harus ada strategis dalam mengatasi persoalan pertanian dengan melakukan upaya-upaya perbaikan sistem irigasi/ pengairan, penggunaan teknologi tepat guna, perbaiakan pola tanam dan pemilihan komoditas alternatif dengan mengomunikasikan kepada pihak-pihak terkait dalam hal ini Dinas Pengairan dan Dinas Pertanian .Sedangkan ladang masih banyak lahan yang belum termanfaatkan secara produktif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.[butuh rujukan]
Kebudayaan
Mitos bahwa Joko Seger dan istrinya Loro Anteng merupakan keturunan dewa-dewa masih dipegang erat oleh warga Ngadas, yang termasuk Suku Tengger yang merupakan keturunan dari Joko Seger dan Loro Anteng.[2] Hubungan antara Gunung Bromo dengan warga Ngadas tak lepas dari upaya Joko Seger yang pernah mengorbankan putra bungsunya atau putra ke-25 (Kusuma) sebagai sesaji untuk Gunung Bromo.[2] Sesaji yang dilakukan Joko Seger, membuat warga meyakini Gunung Bromo tidak akan meletus, dan apabila ada letusan tidak akan mengarah ke Ngadas.[2]
Setiap kegiatan adat di Ngadas mulai pernikahan, kematian, hingga upacara adat, dipimpin oleh seorang dukun.[1] Secara bersama-sama masyarakat Tengger melakukan upacara seperti yang dilakukan oleh para leluhur untuk memperoleh keselamatan bagi desa, sehingga dengan adanya upacara tersebut menjadikan jiwa kebersamaan masyarakat menjadi semakin kuat.[3]
Upacara tradisi di Ngadas diikuti seluruh masyarakat termasuk yang bukan pemeluk agama Hindu.[3] Peristiwa pengorbanan Kusuma sebagai sesaji melatarbelakangi Upacara Kasada yang diikuti oleh seluruh warga Suku Tengger.[2][3] Upacara Kasada merupakan upacara adat yang dilaksanakan setiap tanggal 14 atau 15 pada waktu bulan purnama.[3] Upacara ini dipimpin oleh dukun pandhita dan labuh sebagai upacara puncak.[3] Ngelabuh hasil bumi serta ongkek yang berisi tanaman ritual dilaksanakan di kawah gunung Bromo dan diikuti seluruh dukun bawahan dari setiap desa, serta masyarakat pendukungnya.[3]
Upacara Adat Karo
Karo adalah salah satu upacara adat warisan leluhur yang hingga kini masih dilestarikan dan dilaksanakan oleh masyarakat Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada alam semesta. Tujuan utama dari pelaksanaan upacara Karo adalah untuk menyeguhi (membersihkan secara spiritual), mendoakan arwah para leluhur, serta memohon keselamatan dan kelestarian bumi dan sumber-sumber air.[butuh rujukan]
Dalam upacara adat karo memiliki 5 serangkain adat yaitu:
Nyapu
Pengpitu Pertama
Prepegan
Pengpitu terakhir
Nyadran
Setiap rangkaian memiliki tujuannya masing - masing untuk rangkaian pertama yaitu ada nyapu ,yang bertujuan untuk membersihkan desa dari kotoran halus yang di mana menggunakan mantra sebagai pembersihnya, yang kedua ada pengpitu pertama yang bertujuan untuk memberi makan kepada leluhur yang dilaksanakan dirumah masing masing, yang keempat ada pengpitu terakhir yang bertujuan memanggil roh para leluhur ke rumah masing - masing warga sebelum melakukan adat nyadran, dan yang terakhir adat nyadran yang bertujuan menghantarkan para roh leluhur ke pemakaman.[butuh rujukan]
Demografi
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa tahun 2021,desa ini memiliki penduduk sebanyak 1.681 jiwa dengan 479 kepala keluarga. Mayoritas penduduk desa ini adalah penganut Agama Buddha Jawa, yaitu sebanyak 50%, sisanya adalah Islam 40%, dan Hindu 10%. Dari data di atas nampak bahwa penduduk usia produktif usia 21 – 50 tahun di Desa Ngadas sekitar 845 atau hampir 48%. Hal ini merupakan modal berharga bagi pengadaan tenaga produktif dan Sumber Daya Manusia (SDM).Tingkat kemiskinan di Desa Ngadas termasuk tinggi. Dari jumlah 479 KK di atas, sejumlah 181 KK tercatat sebagai Pra Sejahtera maka lebih 38% KK Desa Ngadas adalah keluarga miskin.[butuh rujukan]
↑Rahman, F. (2008). "Tanaman Obat Suku Tengger". Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Malang: Universitas Brawijaya.
↑(Inggris) Hakim, L. (2008). "The cultural landscapes of the Tengger Highland, east Java". Ecology in Asian Cultural Landscape (Hong SK, Wu J, Kim JE, Nakagoshi N, eds). Tokyo: Springer.