Nekara, disebut pula kobah atau nobat, adalah gendangperunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya dengan selaput suara berupa logam atau perunggu.[1] Nekara merupakan benda peninggalan peradaban Zaman Perunggu[2][3] (contohnya Kebudayaan Dongson) di kawasan Asia Tenggara.
Diperkirakan penemuan alat musik ini berasal dari masa 500 SM.[4]
Etimologi
Kata "nekara" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Persia نقاره (naqāra) yang berarti "gendang besar" (drum ketel, timpani).[5][6][7] Nekara disebut juga kobah dan nobat, berasal dari bahasa Persia کوبه (koba) dan نوبت (nobat), mengacu kepada drum yang sangat besar, dipukul pada jam-jam tertentu.[5][7]
Jenis
Ada 4 (empat) penggolongan nekara yang masing-masing penamaannya diambil dari nama penelitinya.[2]
Tipe Heger 1, dengan ciri-ciri bidang pukul lebih panjang dibanding tingginya, terdapat 4 buah patung katak yang berlawanan arah dengan jarum jam pada bidang pukul, serta hiasan yang dominan berupa pola-pola geometris.[2]
Tipe Heger 2 berbentuk sedikit lebih ramping dari tipe 1, memiliki 6 buah patung katak dengan pola hias yang lebih halus dari tipe 1.
Tipe Heger 3 yang berukuran sedang, memiliki 8 buah patung katak dan disebut juga sebagai tipe karen (karena banyak didapatkan dalam suku Karen di Birma).
Tipe Heger 4, yang sama sekali tidak memiliki patung katak, tidak memiliki pinggang, dan disebut juga sebagai tipe Tiongkok karena banyak ditemukan di Tiongkok.[2]
Bentuk dan kegunaan
Nekara diberi bermacam-macam hiasan dengan motifbinatang, seperti katak, gajah, kuda, rusa, harimau, burung, dan merak.[1] Benda budaya ini berasal dari zaman perunggu atau zaman logam.[1] Pada zamannya, nekara dianggap benda suci yang berfungsi sebagai benda upacara, maskawin.[1][3] Sebuah nekara yang menjadi koleksi di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo, digunakan sebagai alat upacara pemanggil hujan pada masanya.[2] Pada masa Pra-India, Nekara juga digunakan dalam ritual pemujaan arwah leluhur maupun upacara kematian di Indonesia Barat Daya.[4]
Tempat penemuan
Tempat penemuan nekara di pulau Jawa, Bali, Sumatra, Roti, Selayar, Gorom, hingga Kepulauan Kei. Nekara yang kecil diberi nama Moko atau Mako (Ditemukan di Alor).[3] Salah satu koleksi Nekara yang tersimpan di Museum Mpu Tantular ditemukan di Gresik, Jawa Timur. Nekara juga merupakan peninggalan sejarah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Dongson, Vietnam.[4]
1234Ensiklopedi Nasional Indonesia. 2004. Bekasi: Delta Pamungkas. ISBN 979-9327-00-8. Hal 74
12345Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia(PDF). Jakarta: Museum Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
123Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 53
123Raditya, Michael H.B.; Surahman, Sigit; Rahmah, Mamluatur; Baihaqi, Mohamad; Arifin, Samsul; Setodewo, Resa; Adha, Yasril; Listya, Agastya Rahma (2024). MUSIK DI INDONESIA; Sejarah dan Perkembangan Kontemporer(PDF). Semarang: eLSA Press.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Russell Jones (2008), Loan-words in Indonesian and Malay, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
↑Francis Joseph Steingass (1892), Comprehensive Persian-English Dictionary, London: Routledge & K. Paul
12Dekhodā, Aliakbar (1998), Loghatnāme Dekhodā, Tehran: Tehran University Publication