Ndalem Natatarunan, berlokasi di Kelurahan Gunungketur, Kecamatan Pakualaman, adalah kediaman Pangeran Nototaruna, yang kelak menjadi KGPAA Pakualam I. Seiring waktu, dalem ini juga dihuni oleh Pangeran Natataruna, putra Pangeran Notokusuma II sekaligus menantu KGPAA Pakualam III. Diperkirakan, bangunan ini telah ditempati sejak tahun 1811, bahkan sebelum Kadipaten Pakualaman didirikan.[1]
Gaya bangunan
Bangunan ini menampilkan gaya arsitektur tradisional Jawa dan, seperti dalem pada umumnya, terdiri dari regol, pendapa, pringgitan, dalem ageng, dan pasren. Bagian pendapa memiliki atap berbentuk joglo dengan kuncungan atau kanopi. Pasren di Dalem Nototarunan mempertahankan keasliannya, terlihat dari adanya sepasang arca loro blonyo dan kamar tidur di bagian tengah yang diyakini sebagai kamar Dewi Sri. Dalam kepercayaan Jawa, Dewi Sri diasosiasikan dengan kesuburan dan panen padi yang melimpah.[1]
Meskipun telah berdiri sejak awal abad ke-19, Dalem Nototarunan saat ini masih mempertahankan banyak elemen keasliannya. Sebagai bangunan yang pernah menjadi tempat tinggal seorang Adipati Pakualaman, pelestarian situs ini menjadi sangat penting.[1]
Bangunan Ndalme Natatarunan sudah berstatus cagar budaya sesuai dengan SK Menteri: PM.89/PW.007/MKP/2011, SK Gubernur: SK Gub. No 210/KEP/2010, dan SK Wali kota/Bupati: SK Wali kota No. 798/KEP/2009.[1]
Sejarah bangunan
Dalem Nototarunan dibangun pada tahun 1811 oleh BPH Natakusuma. Setahun kemudian, pada 1812, dalem ini menjadi kediaman BRM Salya, putra KGPAA Paku Alam I dari garwa ampeyan (istri selir) Raden Riya Purnamasari. BRM Salya inilah yang nantinya akan naik takhta sebagai KGPAA Paku Alam II.[2]
Bangunan ini dikelilingi oleh pagar tembok setinggi 2,4 m. Pagar di sisi barat, utara, dan timur merupakan pagar ekspos, yang dibangun setelah terjadi peralihan hak kepemilikan tanah di sisi barat. Di bagian utara, saat ini telah berdiri bangunan baru milik R.Ay. Djajengamrito dan RM Natasoebioso.[2]
Kompleks Dalem Nototarunan terdiri dari beberapa bagian, yaitu kuncungan, pendapa, dalem ageng, gadri, pawon (dapur), gandok kiwo, dan gandok tengen. Meskipun demikian, kondisi kuncungan dan pendapa dilaporkan mulai rapuh dimakan usia. Sebagian bangunan gandok kiwa dan gandok tengen saat ini dihuni oleh warga yang menumpang tinggal.[2]