Pembangunan dimulai pada 11 Januari 1994 dengan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Soesilo Soedarman. Kemudian, pada 19 Desember 1995, Museum Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat diiresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, yaitu Soeharto.[2] Selanjutnya, kepemilikan dan pengelola museum diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan,[4] khususnya UPT Museum Mandala dan Gedung Kesenian Societeit De Harmonie.[3]
Awalnya, monumen Mandala merupakan sekolah guru (kweekschool) untuk melanjutkan menjadi guru pada zaman Belanda. Sekolah ini dibangun pada 1876. Dalam perjalanan waktu, sekolah ini menjadi Hoofdkwartier van de Koninklijke atau Markas Angkatan Laut Kerajaan Belanda pada 1946. Semasa orde lama, tepatnya pada 2 Januari 1962, tempati ini beralihfungsi menjadi Markas Komando Mandala yang dibentuk oleh Soeharto. Upaya untuk operasi Pembebasan Irian Barat. Pada 1993, bangunan lama dirobohan dan menjadi monumen. Pembangunan monumen yang diprakarsai oleh HA Zainal Basri, Gubernur Sulawesi Selatan yang dilakukan pada 1994. Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Soesilo Soedarman, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam) saat itu, pada 11 Januari 1994. Pemilihan Kota Makassar sebagai lokasi Monumen Mandala karena Makassar menjadi markas pasukan pembebasan Irian Barat. Pergerakan dimulai dari Makassar yang menjadikan kota ini sebagai lokasi pembangunan Monumen Mandala.[5]
Sekilas melihat monumen ini kita akan mengingat Monumen Nasional (Monas) yang berada di Jakarta. Bentuknya dibuat segitiga sama sisi menyimbolkan Tiga Komando Rakyat (Operasi Trikora). Pada bagian bawah monumen, terdapat relief lidah api yang menjadi simbol semangat dari Trikora. Sementara relief yang sama di bagian atas melambangkan semangat yang tidak pernah padam. Selain itu ada juga 27 patung batang bambu runcing sebagai simbol instrumen perjuangan fisik rakyat saat itu. Pada sekeliling menara terdapat kolam yang melambangkan kejernihan berpikir. Pada bagian puncak terdapat harde untuk menangkal petir sekaligus simbol cita-cita yang hendak dicapai.[6]
Di lantai 1 museum terdapat patung Sultan Hasanuddin dengan relief warna emas dan pajangan pakaian tentara Sulawesi Selatan saat melawan penjajah. Lantai ini bertujuan mengenalkan pahlawan lokal yang belum banyak diketahui orang-orang.[3] Lantai pertama juga memajang 12 diorama yang menggambarkan perjalanan perjuangan bangsa Indonesia di Pulau Sulawesi, tiga relief dan sembilan replika pakaian pejuang abad ke-XVII hingga XVIII.[7]
Untuk lantai 2, terdapat galeri dan ruang pertemuan yang bisa digunakan untuk acara seminar maupun pertemuan lainnya.[8] Lantai ini juga memajang 12 diorama dan tiga relief yang menceritakan tentang perjuangan bangsa dalam rangka membebaskan Irian Barat. Pada lantai tiga berupa ruang kerja Panglima Mandala yang berisi peta Irian Barat, tanda jabatan, foto-foto persiapan persiapan bertugas ke Irian Barat, dan pakaian yang digunakan pada saat Operasi Mandala.[7]
Sedangkan di lantai tiga, terdapat replika baju yang dipakai tentara Indonesia saat melakukan tugas di Irian Barat dan replika patung Mayor Jenderal Soeharto duduk di meja kerjanya sebagai panglima Mandala.[3]
Selanjutnya di lantai keempat adalah ruang pandang untuk melihat Kota Makassar dari ketinggian.[7]
Tata ruang
Desain interior Museum Monumen Mandala sangat sempit. Bagian terluasnya hanya selebar 4 m sedangkan beberapa ruangan ada yang hanya selebar 60 cm. Jenis sirkulasi ruangan menerapkan sistem sirkulasi melingkar. Pengunjung hanya dapat masuk secara perorangan. Bagian diorama memiliki panjang 1 m dengan lebar 2 m. Sedangkan tingginya 4 m. Pada lantai dua dan tiga, bentuk ruangan menyerupai segitiga sama kaki dengan panjang 10 m di tiap sisinya. Tiap diorama hanya mampu dilihat bersama oleh maksimal 4 orang. Kunjungan secara berkelompok harus melakukan antre untuk masuk.[9]
Tiket Masuk
Untuk berkunjung ke Musuem Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat kalian akan dikenakan tiket masuk sebesar 10.000 rupiah.[10]
Waktu Berkunjung
Museum ini bisa dikunjungi setiap hari dari pukul 8.00 - 16.30 Wita[11]