Munich – The Edge of War ditayangkan perdana secara global di Festival Film London BFI pada 13 Oktober 2021,[2] dan dirilis secara terbatas di sejumlah bioskop pada 14 Januari 2022, sebelum dirilis melalui penayangan alir pada 21 Januari 2022 oleh Netflix.[3][4]
Sinopsis
Pada tahun 1932, Hugh Legat bersama teman-teman Jermannya, Paul von Hartmann dan Lena (kekasih Paul), merayakan kelulusan mereka dari Universitas Oxford. Hartmann mendesak Legat untuk mengunjunginya di Munich demi merasakan "Jerman Baru".
Enam tahun kemudian, Legat diperbantukan dari Kantor Luar Negeri Britania Raya untuk bekerja sebagai sekretaris pribadi Perdana Menteri Neville Chamberlain. Eropa sedang berada di ambang perang. Chamberlain berupaya keras mencapai perdamaian dengan Adolf Hitler dengan cara apa pun, bahkan jika itu berarti membiarkan Jerman merebut kendali atas Sudetenland dari Cekoslowakia. Chamberlain menyurati Benito Mussolini dalam upaya menghentikan tindakan militer; upaya tersebut tampaknya berhasil dan Hitler setuju, lalu mengundang Chamberlain dan Perdana Menteri Prancis Édouard Daladier ke Munich untuk menghadiri sebuah konferensi.
Sementara itu, Hartmann bekerja sebagai penerjemah di Kementerian Luar Negeri Jerman di Berlin, sambil secara rahasia merencanakan upaya untuk menggulingkan Hitler bersama seorang jenderal Wehrmacht, jika para perwira tinggi militer setuju untuk menangkapnya dan merebut kendali. Sang jenderal meyakini hal ini tidak dapat terlaksana kecuali Hitler dibiarkan menginvasi Sudetenland, sementara Hartmann meragukan tekad kolektif para jenderal tersebut. Hartmann menerima sebuah dokumen curian (Memorandum Hossbach) dari kekasihnya, Helen Winter, yang mengindikasikan bahwa Hitler berniat menaklukkan Eropa. Hartmann dan anggota konspirasi lainnya berkumpul kembali dan sepakat bahwa menyampaikan informasi tersebut kepada Chamberlain saat ia berada di Munich adalah pilihan terbaik mereka; Hartmann mengungkapkan bahwa ia memiliki seorang mantan teman sekelas yang tepercaya, Legat, yang kemungkinan besar dapat membantu. Hartmann diberi sebuah pistol untuk membunuh Hitler jika ada kesempatan.
Di London, Legat didatangi oleh Sir Alexander Cadogan dan Sir Stewart Menzies dari MI6 terkait dokumen yang berada di tangan Hartmann. Disarankan agar Legat mendampingi Chamberlain ke konferensi tersebut, bertemu dengan Hartmann, dan mengambil dokumen itu. Ia setuju untuk membantu, terlepas dari bahaya yang menyertai tindakan mata-mata. Legat meyakinkan Chamberlain untuk mengajaknya ke Munich sebagai penerjemah.
Hartmann menaiki kereta khusus Hitler menuju Munich. Di sana, ia berbagi kompartemen dengan teman masa kecilnya, Franz Sauer, yang merupakan anggota Führerbegleitkommando. Setelah mengetahui bahwa Sauer bepergian bersamanya, Hartmann menyembunyikan dokumen dan pistol di dalam kamar mandi kompartemen. Hartmann memergoki Sauer sedang menggeledah koper miliknya, dan menyadari bahwa Sauer mulai mencurigainya. Belakangan, Hartmann bertemu dengan Hitler.
Di Munich, Legat dan Hartmann kembali bertemu. Sebuah kilas balik mengungkapkan bahwa mereka sempat berselisih pada tahun 1932 setelah adu argumen sengit terkait dukungan Hartmann terhadap Partai Nazi kala itu. Legat setuju untuk mengambil dokumen tersebut, tetapi ia tidak dapat langsung menyerahkannya kepada Chamberlain. Karena penandatanganan perjanjian sudah sangat dekat, Hartmann mendesak agar mereka segera memaparkan argumen tersebut kepada Chamberlain dan meyakinkannya untuk tidak menandatangani Perjanjian Munich. Legat dan Hartmann menemui Chamberlain, yang mencemooh ide untuk tidak menandatangani perjanjian hanya berdasarkan rencana militer Jerman yang samar untuk melakukan kudeta, dan menolak mengambil tindakan. Hartmann membawa Legat ke sebuah panti jompo setempat untuk menemui Lena. Terungkap bahwa pada tahun 1935, Lena ditangkap dalam rapat umum anti-Nazi dan dikirim ke kamp konsentrasi; di sana, punggungnya diukir dengan Bintang Daud dan ia dilempar keluar jendela setelah diketahui bahwa ia adalah seorang Yahudi, yang mengakibatkan kelumpuhan dan kehilangan kemampuan berbicara. Hartmann mengungkapkan bahwa ia berniat membunuh Hitler, yang membuat Legat cemas. Ketika Legat kembali ke hotelnya, ia mendapati kamarnya telah diacak-acak oleh Sauer, yang kemudian menyerangnya. Legat menyadari dokumen tersebut telah hilang dan panik, tetapi ia berhasil mengirimkan pesan rahasia kepada Hartmann untuk menginformasikannya. Hartmann bertemu dengan Hitler, tetapi ia tidak mampu memaksa dirinya untuk menembaknya. Perjanjian Munich pun ditandatangani.
Saat Legat memasuki mobil menuju bandara, juru ketik Joan Menzies mengungkapkan bahwa ia adalah keponakan Kolonel Sir Stewart Menzies, dan ia telah ditugaskan untuk membantu Legat dalam aktivitas mata-matanya; ia mengambil dokumen tersebut agar tidak ditemukan oleh Sauer. Chamberlain kembali ke Britania Raya dan menyampaikan pidato terkenalnya, "Peace for our time". Legat kembali ke rumah menemui istri dan putranya, lalu mengungkapkan rencananya untuk keluar dari dinas diplomatik dan bergabung dengan RAF. Perjanjian Munich pada akhirnya gagal dan Perang Dunia II dimulai. Chamberlain mengundurkan diri beberapa bulan kemudian, lalu meninggal tidak lama setelahnya. Namun, karena perjanjian tersebut ditandatangani, awal perang ditunda, sehingga memberi Britania lebih banyak waktu untuk bersiap. Pada akhirnya, Pihak Sekutu memenangkan perang tersebut.
Meskipun karakter-karakter utamanya difiksionalisasi demi pengembangan alur cerita, penulis novel dan film ini[10] memberikan peran yang lebih simpatik kepada Chamberlain dalam masa menjelang Perang Dunia II. Sering kali dianggap penakut karena kebijakan appeasement (meredakan ketegangan atau pemuasan) terhadap Hitler, beberapa sejarawan modern berpandangan bahwa Konferensi Munich merupakan taktik mengulur waktu agar Britania Raya dapat bersiap menghadapi perang yang tak terhindarkan dengan Jerman Nazi.[11]
Film itu sendiri menggambarkan konferensi tersebut sebagai skenario "kemungkinan terbaik, kemungkinan terburuk". Dalam kemungkinan terbaik, Hitler akan menghentikan rencana invasi terhadap Cekoslowakia. Dalam kemungkinan terburuk, surat perjanjian tersebut akan memberi Britania waktu untuk mengonsolidasikan sekutu, mempersenjatai kembali militer, dan kemungkinan melibatkan Amerika Serikat.