Muhammad Wardan (lahir 2 Januari 1961) adalah politikus Indonesia yang menjabat sebagai Bupati Indragiri Hilir dari 22 November 2013 sampai 22 November 2023. Sebelum menjabat sebagai Bupati, Wardan dikenal sebagai birokrat.
Kehidupan pribadi
Haji Muhammad Wardan, putra terbaik Kabupaten Indragiri Hilir yang dilahirkan pada tanggal 2 Januari 1961 dari pasangan Haji Abdul Rasid dan Hajjah Amrah di Sungai Gergaji, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir yang merupakan anak tertua dari delapan bersaudara.[1]
Wardan kecil kental akan agama, selain rajin sekolah dan taat menjalankan ibadah, Wardan juga rajin membantu ayahnya berjualan buah-buah rambutan, dan hasil penjualan dapat digunakan untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Selain agamis, Wardan kecil selalu memimpikan menggunakan jas putih lengkap dengan tanda nama sebagai camat. Ya, menjadi camat merupakan cita-cita Wardan kecil.
Wardan kecil sadar betul atas kekurangan yang dimilikinya, namun tidak ingin berdiam diri. Selepas SMP, Wardan kecil membuat keputusan besar dalam hidupnya, yaitu pergi merantau ke Kota Pekanbaru dan melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 2 Pekanbaru. Tak terhenti di situ, pada tahun 1985, Wardan remaja kembali ingin menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan niat coba-coba, Wardan remaja mencoba peruntungannya dengan mendaftar di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri atau APDN yang sekarang lebih dikenal dengan IPDN. APDN sejatinya adalah sekolah pengkaderan untuk pejabat pemerintahan. Para mahasiswanya dibentuk untuk menjadi camat ataupun aparatur. Di tempat inilah Wardan menggali ilmu dan mengembangkan kompetensinya, dan sebagai mahasiswa pada tahun pertama, peningkatan prestasi menjadi acuan agar tak gugur di tengah jalan. Hal ini juga yang diinginkan oleh Wardan, ia pun dapat menampilkan hasil prima hingga naik ke tingkat selanjutnya. Selesai pendidikan di APDN, Wardan menerima SK sebagai PNS golongan II dan ditempatkan di kantor Gubernur Riau, kala itu Imam Munandar sebagai Gubernur Riau.
Setelah penugasan di Kantor Gubernur Riau selesai, Wardan memilih untuk mengabdikan diri di kampung halamannya Indragiri Hilir. Penempatannya di Inhil dijalaninya selama 2 tahun, dan ia kembali ditugaskan belajar di Jakarta untuk belajar lebih dalam di Institut Ilmu Pemerintahan pada tahun 1990 untuk gelar Sarjana Strata 1. Setelah selesai melanjutkan pendidikan di Jakarta, Wardan mendapatkan penugasan kembali di Pemerintahan Kabupaten Indragiri Hilir sebagai staf di bagian hubungan masyarakat. Di bagian Humas, Wardan mendapat tugas sebagai konseptor pidato Bupati. 6 bulan kemudian, Wardan diangkat sebagai Sekretaris Camat Tembilahan. Baginya, cita-cita menjadi camat nyaris terpenuhi, dan jabatan pertamanya tersebut yang mengguratkan tekadnya untuk mengabdi dan menjadi pemimpin yang berintegritas. Sejak kecil Wardan sudah bercita-cita ingin menjadi seorang camat, jabatan itu dia lihat paling hebat di kampungnya dan sewaktu di APDN, dia semakin yakin akan menjadi camat. Kenyataannya, selama bertugas cita-cita itu tidak pernah tercapai.
Dan Alhamdulillah, pada tahun 2013, Allah telah menjawab doa Wardan kecil untuk mengenakan seragam putih khas Pak Camat. Namun, dengan tantangan dan tanggung jawab lebih besar, yaitu sebagai Bupati Indragiri Hilir masa bakti 5 tahun ke depan.
Pendidikan
Wardan menempuh pendidikan di SDN 048 Kota Baru (1970–1976), SMP Negeri 1 Pulau Kijang (1976–1979), SMA Negeri 2 Pekanbaru (1979–1982), D3 Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (1982–1985), S1 Institut Ilmu Pemerintahan (1989–1990), dan S2 Institut Pertanian Bogor (2002–2004).[2]
Karier politik
Menjadi calon Bupati ternyata tidak mudah. Wardan harus menghadapi pertarungan politik di ajang Pemilihan umum Bupati Indragiri Hilir 2013. Pertama kali Wardan sosialisasi saat ia diundang Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan untuk memberikan orasi ilmiah dies natalis kampus itu. Pada hari yang sama, Wardan menjadi khotib di Masjid Agung Al-Huda Tembilahan. Melihat kondisi inhil, Wardan ingin sekali mencerahkan pikirannya untuk membangun di bumi Sri Gemilang. Wardan menggandeng Rosman Malomo sebagai Wakil Bupati Indragiri Hilir. Sebelum menjatuhkan pilihan ke Rosman, Wardan sudah membuat berbagai pertimbangan dan akhirnya Wardan melihat potensi besar dan kesamaan visi membangun Inhil jauh lebih maju dari sekarang. Maka, Haji Muhammad Wardan dan Haji Rosman Malomo resmi berpasangan untuk maju menjadi calon Bupati dan calon Wakil Bupati Indragiri Hilir periode 2013–2018.[1]
Tekad itu terbukti pada Mei 2013, Wardan bersama pasangannya Rosman Malomo menggelar sholat duha dan hajat secara berjamaah dan diimami oleh Ustadz Suhaidi di Masjid Agung Al-Huda, Tembilahan. Kemudian dilanjutkan berjalan kaki menuju kantor KPU Inhil di Jalan Ki Hajar Dewantara yang berjarak sekitar 2 km, ribuan pendukung Warohmah menggiring sambil melantunkan sholawat badar. Sekitar pukul 09.00 WIB, pasangan Warohmah tiba dan langsung mendaftarkan diri di KPU Inhil. Setelah berkas pendaftaran diperiksa, pasangan Warohmah yang total memiliki 19 kursi dari parpol pengusung telah memiliki persyaratan dukungan 15% dari partai politik. Partai-partai besar di parlemen yakin bahwa sosok Wardan mampu menjadi pemenang. Berdasarkan survei yang dilakukan, popularitas Wardan cukup dikenal masyarakat dan mengungguli calon lainnya. Soal visi misi, Wardan menawarkan spirit baru menuju Inhil yang lebih maju.
Dan akhirnya, setelah melakukan pemungutan suara pada 4 September 2013 dan hasil resmi yang diumumkan oleh KPU Kabupaten Indragiri Hilir melalui rapat pleno KPU Kabupaten Indragiri Hilir pada tanggal 12 September 2013, pasangan nomor urut satu, Haji Muhammad Wardan dan Haji Rosman Malomo, atau disingkat dengan Warohmah, ditetapkan oleh KPU sebagai pemenang pemilukada Inhil periode 2013–2018. Dengan perolehan 108 ribu lebih suara, Warohmah memperoleh 36,7 persen, artinya pemilukada Inhil berlangsung satu putaran.
Pada Pemilihan umum Bupati Indragiri Hilir 2018, Wardan kembali mencalonkan diri sebagai bupati, berpasangan dengan mantan pesaingnya pada pilkada 2013, Syamsuddin Uti. Pasangan ini diusung oleh Partai Golkar, Partai Demokrat, PAN, dan PKS. Wardan dan Syamsuddin Uti ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Indragiri Hilir terpilih oleh KPU Kabupaten Indragiri Hilir pada tanggal 26 Juli 2018 dengan perolehan suara sebanyak 133.719 suara atau 51,58% dan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Indragiri Hilir periode 2018–2023 di Balai Serindit, Pekanbaru pada 22 November 2018 oleh Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim.[3][4][5]
Dalam keaktifannya di dunia poltik, Wardan pernah menjabat sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Indragiri Hilir pada tahun 2017 hingga tahun 2024.[6] Di luar dari dunia politik, Wardan juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Riau periode 2021–2026.[7]
Galeri
Potret Muhammad Wardan sebagai Bupati Indragiri Hilir periode 2013–2018.
Potret Muhammad Wardan sebagai Bupati Indragiri Hilir periode 2018–2023.